Wanita Yahudi dan Racun

Akhir tahun ke-6 H, Rasulullah beserta pasukan umat Islam pergi ke Khaibar, sebuah wilayah yang terletak 150 kilometer ke arah laut kota Madinah dan menjadi basis kaum Yahudi. Ketika sampai di Khaibar, Rasulullah meminta penduduknya menyerah karena sebelumnya diketahui bahwa Khaibar dijadikan tempat konsolidasi untuk menyerang Madinah. Namun, penduduk kaum Yahudi menolak seruan Rasulullah hingga akhirnya terjadi perang yang memakan banyak korban.

Perang Khaibar diakhiri dengan perundingan damai antara kaum Muslim dan penduduk Khaibar. Mereka sama-sama sepakat untuk mengakhiri perang dengan beberapa poin kesepakatan bersama. Salah satunya adalah penduduk Khaibar harus menyerahkan separuh hasil panen kepada umat Islam Madinah mengingat pertempuran Khaibar dimenangkan umat Islam. Perlahan-lahan Khaibar menjadi kota yang damai, namun tidak sedikit penduduknya yang masih menyimpan dendam.

Zainab binti al-Harits adalah salah satu Yahudi Khaibar yang tidak terima dengan hasil perang Khaibar. Ia tidak rela dengan kaum Muslim karena telah membunuh orang-orang terkasihnya. Ia mencari berbagai macam cara untuk membalas dendam dan membunuh Rasulullah, pimpinan tertinggi kaum Muslim. Balas dendam adalah motif yang digunakan Zainab binti al-Harits sehingga ia sampai mempunyai pemikiran untuk meracuni Rasulullah saw. Zainab adalah istri Salam bin Misykam, salah seorang pemimpin Yahudi Bani Nadhir di Khaibar. Ia memendam dendam yang mendalam terhadap pasukan umat Islam, terutama Rasulullah, karena telah membunuh  suami, ayah, dan pamannya pada saat perang Khaibar.

Zainab pun mendatangi Rasulullah saw dan bertanya, "Ya Rasulullah, bagian kambing yang mana yang paling engkau sukai?" Rasulullah SAW menjawab, "Bagian Lengan."

Domba panggang itu kemudian diberikan kepada Rasulullah pada petang hari, selepas sang nabi selesai menunaikan salat Maghrib. Awalnya, Rasulullah ‘ragu’, namun Zainab meyakinkan bahwa domba panggang itu adalah hadiah, bukan sedekah. Lalu Rasulullah menerima tanpa ada kecurigaan sedikit pun. Rasulullah saw bersama para sahabat memakan domba panggang tersebut dengan lahap. Hingga ketika hendak menyantap bagian paha depan, Rasulullah baru menyadari kalau hidangan itu mengandung racun setelah melihat kaki domba. Beliau mengambil lengan kambing, mengunyah sedikit, tanpa menelannya, kemudian memuntahkannya. Sedang Bisyr bin Al-Barra' bin Ma'rur yang ketika itu bersama beliau, mengambil bagian yang sama dengan Rasulullah dan menelannya.

Kemudian Beliau bersabda, "Sesungguhnya tulang kambing tersebut memberitahuku bahwa ia beracun."

Sontak saja Rasulullah menyuruh para sahabat yang ikut makan domba panggang itu dibekam untuk mengeluarkan racun.Ternyata Zainab membubuhkan racun sebanyak mungkin ke lengan kambing, meracuni semua daging kambing dan menghidangkannya kepada Rasulullah SAW.

Imam Bukhari dalam Shahihnya meriwayatkan hadits berikut:

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ لَمَّا فُتِحَتْ خَيْبَرُ أُهْدِيَتْ لِلنَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ شَاةٌ فِيهَا سُمٌّ فَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ اجْمَعُوا إِلَيَّ مَنْ كَانَ هَا هُنَا مِنْ يَهُودَ فَجُمِعُوا لَهُ فَقَالَ إِنِّي سَائِلُكُمْ عَنْ شَيْءٍ فَهَلْ أَنْتُمْ صَادِقِيَّ عَنْهُ فَقَالُوا نَعَمْ قَالَ لَهُمْ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَنْ أَبُوكُمْ قَالُوا فُلَانٌ فَقَالَ كَذَبْتُمْ بَلْ أَبُوكُمْ فُلَانٌ قَالُوا صَدَقْتَ قَالَ فَهَلْ أَنْتُمْ صَادِقِيَّ عَنْ شَيْءٍ إِنْ سَأَلْتُ عَنْهُ فَقَالُوا نَعَمْ يَا أَبَا الْقَاسِمِ وَإِنْ كَذَبْنَا عَرَفْتَ كَذِبَنَا كَمَا عَرَفْتَهُ فِي أَبِينَا فَقَالَ لَهُمْ مَنْ أَهْلُ النَّارِ قَالُوا نَكُونُ فِيهَا يَسِيرًا ثُمَّ تَخْلُفُونَا فِيهَا فَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ اخْسَئُوا فِيهَا وَاللَّهِ لَا نَخْلُفُكُمْ فِيهَا أَبَدًا ثُمَّ قَالَ هَلْ أَنْتُمْ صَادِقِيَّ عَنْ شَيْءٍ إِنْ سَأَلْتُكُمْ عَنْهُ فَقَالُوا نَعَمْ يَا أَبَا الْقَاسِمِ قَالَ هَلْ جَعَلْتُمْ فِي هَذِهِ الشَّاةِ سُمًّا قَالُوا نَعَمْ قَالَ مَا حَمَلَكُمْ عَلَى ذَلِكَ قَالُوا أَرَدْنَا إِنْ كُنْتَ كَاذِبًا نَسْتَرِيحُ وَإِنْ كُنْتَ نَبِيًّا لَمْ يَضُرَّكَ

Ketika Khaibar ditaklukan, Nabi SAW diberi hadiah seekor kambing yang di dalamnya ditaruh racun. Maka Nabi SAW berkata: “Kumpulkan di hadapanku orang-orang yang ada di sini dari kalangan Yahudi”.
Maka mereka berkumpul di hadapan Beliau lalu Beliau berkata: “Aku ingin bertanya satu hal kepada kalian, apakah kalian akan menjawab jujur?”. Mereka menjawab; “Ya”.
Nabi SAW bertanya kepada mereka: “Siapa orang tua kalian?”.
Mereka menjawab; “Si fulan”.
Beliau berkata: “Kalian berdusta. Yang sebenarnya orang tua kalian adalah si fulan”.
Mereka berkata; “Anda benar”.
Lalu Beliau bertanya lagi: “Apakah kalian akan menjawab lagi dengan jujur tentang pertanyaanku?”.
Mereka menjawab; “Ya, wahai Abu Al Qasim. Seandainya kami berdusta, Anda pasti mengetahui kedustaan kami sebagaimana Anda mengetahui orangtua kami”.
Beliau bertanya: “Siapakah yang menjadi penduduk neraka?”.
Mereka menjawab; “Kami akan berada di dalamnya sebentar lalu kalian (kaum Muslimin) akan mengiringi masuk ke dalamnya”.
Nabi SAW berkata: “Tinggallah kalian dengan hina di dalamnya. Demi Allah, sungguh kami tidak akan mengikuti kalian ke dalamnya selama-lamanya”.
Kemudian Beliau bertanya lagi: “Apakah kalian akan menjawab lagi dengan jujur tentang suatu masalah yang akan aku tanyakan?”.
Mereka menjawab; “Ya, wahai Abu Al Qasim”.
Beliau bertanya: “Apakah kalian telah memasukkan racun ke dalam kambing ini?”.
Mereka menjawab; “Ya”.
Beliau bertanya lagi: “Apa yang mendorong kalian berbuat begitu?”.
Mereka menjawab; “Kami hanya ingin menguji Seandainya anda berdusta (mengaku sebagai Nabi) kami dapat beristirahat dari anda (dengan kematian anda). Dan seandainya anda benar seorang Nabi maka racun itu tidak akan dapat mendatangkan bahaya buat anda”.
Rasulullah segera memanggil Zainab dan ia mengaku bahwa ia telah meracuni kambing bakar tersebut. Beliau bertanya, "Mengapa kau lakukan itu?"
Zainab menjawab, "Engkau telah bertindak sedemikian rupa terhadap kaumku. Seperti yang engkau ketahui, aku beranggapan jika engkau seorang raja, maka aku bisa membunuhnya. Tapi bila engkau seorang nabi, maka engkau akan diberitahu."

Banyak sahabat yang geram dan berniat untuk membunuh Zainab binti al-Harits karena telah meracun Bisyr bin al-Barra’ dan membahayakan nyawa Rasulullah saw. Namun, Rasulullah melarang dan mencegah para sahabat untuk membunuh Zainab sebagaimana yang tertera dalam hadist riwayat Muslim. Zainab langsung mengucapkan dua kalimat syahadat setelah menyaksikan langsung bahwa Muhammad adalah benar-benar Rasulullah (utusan Allah) dalam insiden domba panggang beracun itu. Sedangkan Bisyr meninggal dunia beberapa saat setelah memakan daging tersebut.  Hal ini diceritakan oleh Imam al-Zuhri dan Ibnu Hajar al-Asqolani dalam kitabnya Fath al-Bari Syarh Shahih Bukhari.

Namun kemudian ada riwayat bahwa Rasulullah saw menerapkan hukuman qishas (hukuman yang setimpal) kepada Zainab binti Zainab karena telah menyebabkan kematian bagi Bisyr bin al-Barra’, maka Zainab dibunuh setelah keluarga Bisyr menuntut untuk diberlakukan hukum qishas.