Abdullah Bin Ubay

Abdullah bin Ubay (Arab:عبد الله بن أبي بن سلول) dikenal juga dengan nama Ibnu Salul adalah pemimpin dari Bani Khazraj yang juga merupakan pemimpin di kota Madinah. Setelah kedatangan Nabi Muhammad, ia kemudian memeluk agama Islam, tetapi ia juga dikenal sebagai seorang munafik.

Pada saat Rasulullah dalam perjalanan hijrah dari Kota makkah menuju Madinah (yasrib), orang kafir Quraisy mengirim surat kepada Abdullah bin Ubay yang intinya Abdullah bin Ubay diminta untuk mengganggu dan merintangi hijrah Rasul ke Madinah. Demi kekuasaan Abdullah bin Ubay bin Sahlul bersedia bekerja sama dengan orang orang  kafir Qurays yang ada di Makkah maupun di Madinah,

Sebelum Rasulullah Saw hijrah ke Madinah, Abdullah bin Ubay sudah merencanakan berbagai langkah untuk menguasai Madinah. Setelah Rasulullah hijrah di kota Madinah akhirnya umat Islam tidak memilih Abdullah bin Ubay tetapi justru memilih Rasulullah sebagai pemimpian. Maka harapan Abdullah bin Ubay gagal total untuk menjadi penguasa  di Madinah.

Atas kegagalan tersebut, Abdullah bin Ubay tidak bisa mengendalikan dirinya yang ditandai menyalahkan kepada pihak pihak lain. Abdullah bin Ubay disatu sisi menyalahkan kelompoknya sendiri yang menuduh tidak bekerja sercara optimal.

Di sisi lain menyalahkan Rasulullah dan kaum muslimin yang hijrah ke kota Madinah. Hijrahnya ke Madinah menyebabkan kekalahan kelompoknya Abdullah bin Ubay bin Sahlul

Abdullah bin Ubay tidak bisa mengedalikan emosinya yang akhirnya melakukan kerja sama dengan orang kafir quraisy yang tidak suka dengan Rasulullah dan Kaum muslimin. Abdullah bin Ubay mengajak orang kafir quraisy dan juga orang muslim yang tidak suka dengan Rasulullah dan kaum muslimin untuk melakukan pemberontakan dan perlawanan.

Perlawanan dilakukan dengan cara menceritakan kebohongan kepada berbagai pihak. Ketika Bertemu dengan orang kafir,  Abdullah Bin Ubay melakukan kebohongan dengan cara menjelek jelekan atau memfitnah Rasulullah.

Pada saat bertemu Rasulullah dan kaum muslimin, Abdullah bin Ubay juga berbohong dengan cara mencerirakan kejelekan orang orang kafir. Dengan kata lain, saat ketemu oranf kafir Abdullqh Bin Ubay mengaku bagian dari orang kafir dan menjelek jelekan kaum muslimin dan Rasulullah. Pada saat bertemu kaum muslimin dan Rasulullah mengaku bagian dari kaum muslimin dan siap melawan kaum kafir quraisy.

Suatu ketika Abdullah bin Ubay menyampaikan kabar kepada kaum muslimin bahwa kaum kafir quraisy mengolok olok dan menjelek jelekan dakwah Rasulullah dan kaum muslimin hampir menyulut amarah kelompok muslim untuk melakukan perang kepada kafir quraisy.

Di tengah tengah amarah kaum muslim yang akan menyerang orang kafir, Abdurrahman bin Auf ketemu tokoh kafir quraisy melakukan tabayun. Ternyata kabar yang di sampaikan Abdullah bin Ubay adalah kabar bohong belaka. Akhirnya baik dari kaum muslim dan kafir quraisy melakukan pengadilan dan menuntut pertanggung jawaban apa yang di katakan Abdullah bin Ubay.

Melihat perkembangan situasi tersebut, Abdullah anak dari Abdullah bin Ubay mendatangi Nabi SAW dan berkata, "Ya Rasulullah, jika engkau menginginkan ayahku dibunuh, perintahkanlah aku untuk membunuhnya! Karena kalau orang lain yang engkau perintahkan membunuh, aku khawatir aku tidak bisa bersabar untuk tidak menuntut balas atas kematiannya, yang karenanya aku akan masuk neraka. Semua orang Anshar tahu, aku adalah orang yang berbakti pada orang tuaku."

Rasulullah SAW menjawab, "Baiklah, berbaktilah kepada orang tuamu, ia tidak melihat darimu kecuali kebaikan."

Tahulah Abdullah bahwa Rasulullah memaafkan ayahnya. Namun demikian, sebagai wujud kecintaan yang lebih besar kepada Allah dan Rasul-Nya daripada orang tuanya, Abdullah menghadang dengan pedang terhunus, dan melarang ayahnya masuk kota Madinah, kecuali jika Nabi SAW telah mengizinkan. Ketika mencoba memaksa, Abdullah menyerangnya dengan pedangnya itu sehingga ia mundur kembali. Dengan terpaksa ia mengirim utusan untuk meminta izin Rasulullah SAW.

Bagaimanapun juga, Abdullah adalah seorang anak yang sangat berbakti kepada ayahnya, dan itu telah lama terbentuk sebelum Islam memasuki kota Madinah. Anak tetaplah anak, dan ketika ayahnya tersebut meninggal, kesedihan merasuki hatinya.

Ia tahu bahwa orang tuanya itu mungkin hanya pantas berada di neraka, namun demikian ia ingin menunjukkan bakti terakhirnya. Ia datang kepada Nabi SAW meminta baju gamis beliau untuk mengkafani jenazahnya, dan beliau mengabulkannya. Sekali lagi ia datang kepada beliau untuk menyalatkan jenazahnya, dan beliau mengabulkannya, walau Umar sempat memprotes keras. Tetapi setelah itu turun ayat 84 dari surat at Taubah, yang melarang beliau untuk menyalati jenazah orang munafik dan berdiri di atas kuburan mereka.

"Dan janganlah kamu sekali-kali menyalatkan (jenazah) seorang pun yang mati di antara mereka, dan janganlah kamu berdiri di kuburnya. Sesungguhnya mereka telah kafir kepada Allah dan Rasul-Nya, dan mereka mati dalam keadaan fasik." At Thaubah 84