Al Kafirun

Pada saat ‘gelora Islam’ masih kecil, kaum kafir Quraisy Makkah berusaha untuk memadamkannya. Berbagai macam upaya dilakukan untuk meredam pergerakan Rasulullah saw. Terutama menjalankan aksi-aksi kekerasan dan penindasan terhadap pengikut Islam yang lemah. Mereka dipaksa untuk keluar dari Islam.  Usaha itu tidak berhasil. Justru ‘api Islam’ berkobar semakin besar. Terutama setelah beberapa elit kafir Quraisy menyatakan diri masuk Islam. Diantaranya Umar bin Khattab dan Hamzah bin Abdul Muthalib, paman Rasulullah. Mereka dikenal sebagai seorang pemberani dan tegas. Mereka juga tidak segan-segan untuk perang tanding dengan kafir Quraisy yang mengganggu Rasulullah dan dakwah Islam. Begitu lah, dulu mereka penentang Islam, tapi kemudian menjadi pelindung dakwah Islam. Situasi dan kondisi itu membuat kaum kafir Quraisy Makkah kalang kabut. Dulu mereka bebas saja mencemooh dan menghina Rasulullah, serta menindas pengikut Rasulullah yang lemah. Namun, setelah ‘jagoan’ kaum kafir Makkah masuk Islam, mereka tidak bisa lagi berlaku seperti itu.


Pada suatu hari para pemuka Quraisy menemui Abu Thalib dan mengadu bahwa Rasulullah saw dengan dakwahnya telah membuat perpecahan di antar kalangan Qurays, kemudian Abu Thalib berkata kepada Nabi saw., “Wahai keponakanku, sesungguhnya kaummu telah datang menemuiku dan mereka berkata ini dan itu, maka kasihanilah dirimu dan diriku dan jangan membebaniku dengan urusan yang tidak mampu dipikul olehku dan olehmu. Maka jauhilah mereka dari perkataan yang dapat menyakiti mereka.”

Kata-kata itu telah membuat Rasulullah saw. mengira bahwa pamannya akan meninggalkannya, tidak memberi perlindungan lagi dalam menjalankan usaha dakwah, rela menyerahkannya, dan tidak mampu lagi untuk berdiri di pihaknya. Rasulullah saw. bersabda, “Wahai paman, seandainya matahari diletakkan di tangan kananku dan bulan di tangan kiriku, sekali-kali aku tidak akan meninggalkan usaha dakwah ini hingga Allah memenangkannya atau aku binasa dalam perjuangan ini”

Kemudian Rasulullah saw. menengadahkan kepalanya ke langit dan bersabda, “Demi Allah, aku tidak berusaha untuk meninggalkan apa yang telah diamanahkan, walaupun salah seorang dari kalian membakarku dengan api dari cahaya matahari ini." Kemudian berlinanganlah air mata Rasulullah saw. karena menangis.

Sekian lamanya Abu Talib dalam keadaan  terpesona. Ia dilanda kebingungan akibat tekanan masyarakatnya dan sikap keponakannya itu. Tetapi kemudian ia berkata, "Anakku, katakanlah sekehendakmu. Aku tidak akan menyerahkan engkau walau bagaimanapun juga!"

Pada kesempatan lain Al Walid bin Mughirah dan sekumpulan kaum musyrikin Quraisy bergegas menemui Abu Thalib dengan arahan dari al-Walid. Ikut pula bersama mereka ‘Ammarah anaknya, mereka berkata padanya:
“Wahai Abu Thalib inilah ‘Ammarah Ibnul Walid, pemuda paling kuat di suku Quraisy dan paling tampan. Ambillah dia untukmu dengan kecerdasan dan pertolongannya, jadikanlah dia anakmu maka dia untukmu, dan serahkan kepada kami anak saudaramu yang menyelisihi agamamu dan agama nenek moyangmu, dia memecah belah kaummu juga membodohkan penalaran mereka. Kami akan membunuhnya, dengan demikian seimbang, satu lelaki ditukar satu lelaki.”
Abu Thalib berkata, “Demi Allah, alangkah buruk rayuan kalian! Akankah kalian memberikan anak kalian kepadaku untuk kuberi makan sedangkan kalian meminta anakku untuk kalian bunuh? Tidak, demi Allah hal ini tidak akan terjadi selamanya.”

Hingga suatu saat Al Walid bin Mugirah, 'As bin Wail As Sahmi, Aswad bin Abdul Muttalib dan Umaiyah bin Khalaf bersama rombongan pembesar-pembesar Quraisy datang menemui Nabi SAW. menyatakan, "Hai Muhammad! Marilah engkau mengikuti agama kami dan kami mengikuti agamamu dan engkau bersama kami dalam semua masalah yang kami hadapi, engkau menyembah Tuhan kami setahun dan kami menyembah Tuhanmu setahun. Jika agama yang engkau bawa itu benar, maka kami berada bersamamu dan mendapat bagian darinya, dan jika ajaran yang ada pada kami itu benar, maka engkau telah bersekutu pula bersama-sama kami dan engkau akan mendapat bagian pula daripadanya". Beliau menjawab, "Aku berlindung kepada Allah dari mempersekutukan-Nya". Lalu turunlah surah Al Kafirun sebagai jawaban terhadap ajakan mereka. Kemudian Nabi SAW pergi ke Masjidilharam menemui orang-orang Quraisy yang sedang berkumpul di sana dan membaca surah Al Kafirun ini, maka mereka berputus asa untuk dapat bekerja sama dengan Nabi SAW.

"Katakanlah (Muhammad), "Wahai orang-orang kafir! aku tidak akan menyembah apa yang kamu sembah. dan kamu bukan penyembah apa yang aku sembah, dan aku tidak pernah menjadi penyembah apa yang kamu sembah, dan kamu tidak pernah (pula) menjadi penyembah apa yang aku sembah, Untukmu agamamu, dan untukku agamaku." QS Al Kafirun

Dalam ayat-ayat ini Allah memerintahkan Nabi-Nya agar menyatakan kepada orang-orang kafir, bahwa "Tuhan" yang kamu sembah bukanlah "Tuhan" yang saya sembah, karena kamu menyembah "tuhan" yang memerlukan pembantu dan mempunyai anak atau ia menjelma dalam sesuatu bentuk atau dalam sesuatu rupa atau bentuk-bentuk lain yang kau dakwakan.
Sedang saya menyembah Tuhan yang tidak ada tandingan-Nya dan tidak ada sekutu bagi-Nya; tidak mempunyai anak, tidak mempunyai teman wanita dan tidak menjelma dalam sesuatu tubuh. Akal tidak sanggup menerka bagaimana Dia, tidak ditentukan oleh tempat dan tidak terikat oleh masa, tidak memerlukan perantaraan dan tidak pula memerlukan penghubung.
Maksudnya; perbedaan sangat besar antara "tuhan" yang kamu sembah dengan "Tuhan" yang saya sembah. Kamu menyakiti tuhanmu dengan sifat-sifat yang tidak layak sama sekali bagi Tuhan yang saya sembah.

Para tokoh kafir Makkah itu akhirnya berkumpul lagi dalam sebuah majelis. Mendiskusikan dan merumuskan sebuah strategi baru untuk menghentikan dakwah Rasulullah, kaum Quraisy berkumpul dan mereka berkata, “Carilah seorang di antara kalian yang paling tahu tentang sihir, nujum dan syair, kemudian temuilah lelaki ini (Rasulullah saw.) yang telah memecah belah persatuan kita, mencerai beraikan urusan kita, dan mencaci maki agama kita. Lalu biarkan dia mengajak Muhammad bicara dan memperhatikan apa jawaban Muhammad kepadanya. ”Mereka berkata, “Kami tidak mengetahui seorang pun yang lebih pandai dalam urusan ini selain Utbah bin Rabiah."

Kemudian datanglah bangsawan Qurays, Utbah bin Rabi’ah, menyampaikan usul agar menggunakan ‘cara-cara yang lembut’ untuk menghentikan pergerakan Rasulullah. Para tokoh kafir Makkah sepakat untuk mengubah taktik dan menyetujui usulan Utbah bin Rabi’ah. Utbah bin Rabi’ah merupakan pemuka Bani Abdus Syam. Dia adalah cucu dari Abd Syam, saudara Hasyim (buyut Rasulullah). Utbah dikenal sebagai pribadi yang bijaksana, cerdas, ramah, dan bisa bekerjasama dengan musuh. Oleh karenanya, ketika Utbah menawarkan diri untuk menjalankan strategi baru itu, maka para tokoh kafir Quraisy menyetujuinya. Kemudian Utbah berujar “Izinkanlah aku untuk menemui Muhammad supaya aku bisa berbicara denganya, karena aku lebih ramah berbicara daripada kalian.”

”Mereka berkata lagi, “Pergilah, hai Abu al Walid (Utbah).”Utbah pun pergi menemui Rasulullah saw. dan berkata, “Wahai Muhammad, apakah engkau lebih baik dari Abdullah?” Rasulullah saw. hanya terdiam mendengar pertanyaan itu. Utbah bertanya lagi, “Apakah engkau lebih baik dari Abdul Muththalib?” Tak sepatah kata pun keluar dari mulut Rasulullah saw.
Utbah berkata : ”Jika engkau mengakui bahwa mereka lebih baik daripadamu, ketahuilah bahwa mereka telah menyembah tuhan-tuhan (berhala) yang telah engkau caci maki itu. Dan jika engkau mengaku lebih baik daripada mereka, maka berbicaralah sehingga kami mendengar perkataanmu. Demi Allah, sesungguhnya tidaklah kami melihat seorang anak yang disayangi oleh kedua orang tuanya dan kaumnya, yang lebih mendatangkan kesialan kepada kaumnya daripada kamu. Sesungguhnya engkau telah memecah belah persatuan dan mencerai beraikan urusan kami, mencaci maki agama kami dan mempermalukan kami di kalangan bangsa Arab sehingga tersebar kabar kepada mereka bahwa ada seorang tukang sihir dan ahli nujum di antara kaum Quraisy. Demi Allah, kami tidak menantikan kecuali suara yang sangat keras di saat musibah, di mana sebagian kami berdiri di hadapan sebagian lainnya dengan membawa pedang sampai kami saling membinasakan. Hai Muhammad, jika kau mempunyai keinginan, kami akan mengumpulkan untukmu segala kekayaan sehingga kamu akan menjadi orang yang terkaya di antara kaum Quraisy. Jika kamu ingin menikah, pilihlah sepuluh wanita yang paling kamu sukai dan kami akan menikahkanmu. ” dan menambahkan  “Jika engkau menginginkan kekuasaan, maka kami akan mengikatkan panji-panji kami untukmu dan engkau menjadi ketua kami seumur hidup.”

Rasulullah saw. bersabda, “Sudah selesaikah pembicaraanmu?” “Ya,” jawab Utbah.Rasulullah saw. bersabda lagi, “Dengan nama Allah Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang …” setelah mengucapkan basmalah, Rasulullah saw. membaca ayat di bawah ini :

“Haa Miim. Diturunkan dari Tuhan yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang. Kitab yang dijelaskan ayat-ayatnya, yakni bacaan dalam bahasa Arab, untuk kaum yang mengetahui, Yang membawa berita gembira dan yang membawa peringatan, tetapi kebanyakan mereka berpaling (daripadanya), maka mereka tidak (mau) mendengarkan. Mereka berkata: “Hati kami berada dalam tutupan (yang menutupi) apa yang kamu seru kami kepadanya dan di telinga kami ada sumbatan, dan antara kami dan kamu ada dinding, maka bekerjalah kamu; sesungguhnya kami bekerja (pula).” Katakanlah: “Bahwasanya aku hanyalah seorang manusia seperti kamu, diwahyukan kepadaku bahwasanya Tuhan kamu adalah Tuhan yang Maha Esa. Maka tetaplah pada jalan yang lurus menuju kepada-Nya dan mohonlah ampun kepada-Nya. Dan kecelakaan besarlah bagi orang-orang yang mempersekutukan(-Nya), (yaitu) orang-orang yang tidak menunaikan zakat dan mereka kafir akan adanya (kehidupan) akhirat. Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal yang shalih, mereka mendapat pahala yang tiada putus-putusnya”. Katakanlah: “Sesungguhnya pantaskah kamu kafir kepada Yang menciptakan bumi dalam dua masa dan kamu adakan sekutu-sekutu bagi-Nya? (Yang bersifat) demikian itulah Tuhan semesta alam”. Dan Dia menciptakan di bumi itu gunung-gunung yang kokoh di atasnya. Dia memberkahinya dan Dia menentukan padanya kadar makanan-makanan (penghuni)nya dalam empat masa. (Penjelasan itu sebagai jawaban) bagi orang-orang yang bertanya. Kemudian Dia menuju kepada penciptaan langit dan langit itu masih merupakan asap, lalu Dia berkata kepadanya dan kepada bumi: “Datanglah kamu keduanya menurut perintah-Ku dengan suka hati atau terpaksa”. Keduanya menjawab: “Kami datang dengan suka hati”. Kemudian Dia menjadikannya dalam dua masa dan Dia mewahyukan pada tiap-tiap langit urusannya. Dan Kami hiasi langit yang dekat dengan bintang-bintang yang cemerlang dan Kami memeliharanya dengan sebaik-baiknya. Demikianlah ketentuan Yang Maha Perkasa lagi Maha Mengetahui. Jika mereka berpaling, katakanlah: “Aku telah memperingatkan kamu dengan petir, seperti petir yang menimpa kaum ‘Aad dan Tsamud”. (QS. Fushshilat : 1-13)

Dalam riwayat Baihaqi disebutkan bahwa ketika Rasulullah saw. membaca : “Jika mereka berpaling, maka katakanlah, ‘Aku telah memperingatkan kamu dengan petir, seperti petir yang menimpa kaum ‘Aad dan kaum Tsamud." Maka Utbah memegang mulut beliau dan meminta beliau dengan hak kekerabatan agar Rasulullah saw berhenti.

Utbah pun berkata : “Hentikan! Apakah kau tidak mempunyai syair selain itu?” “Tidak,” Rasulullah saw. menyahut. Nabi saw pun segera bersujud. Utbah hanya duduk dengan dengan bersandar pada kedua tangannya sambil menyaksikan Beliau menyelesaikan sujud tilawahnya. Melalui ayat-ayat itu, Rasulullah hendak menegaskan bahwa dirinya adalah seorang Nabi dan Rasul Allah bertugas untuk menyampaikan kabar gembira dan memberikan peringatan kepada seluruh umat manusia dan tidak mengharapkan harta dan tahta. Mereka akan selamat jika mengikuti Rasulullah. Sebaliknya, mereka akan celaka jika menentangnya.  “Apakah engkau telah dengar, wahai Abul Walid?” “Iya, sudah,” kata Utbah. “Jika demikian, silahkan engkau bebas memilih,” kata Rasulullah.

Setelah itu,Utbah bergegas kembali kepada kaum Quraisy. Mereka bertanya : “Apa yang telah terjadi?” Utbah menjawab : “Apa yang kalian perintahkan untuk disampaikan telah kusampaikan semuanya tanpa ada satu pun yang ketinggalan. ”Mereka bertanya : “Apakah dia menjawab semua pertanyaanmu?” “Ya,” jawab Utbah. Dia melanjutkan : “Tidak, demi Dzat Yang telah menegakkan Ka’bah, aku tidak memahami perkataannya sedikitpun kecuali dia mengancam kita dengan petir sebagaimana yang telah ditimpakan kepada kaum ‘Aad dan Tsamud. ”Mereka berkata : “Celakalah kamu! Lelaki itu telah berbicara padamu dengan menggunakan bahasa Arab tetapi mengapa kau tidak paham apa yang dikatakannya?”“Tidak!” jawab Utbah lagi, “Demi Allah, aku tidak memahami kata-katanya kecuali ancaman petir itu.” sambil bergegas pergi meninggalkan para pemuka Qurays tersebut.

Kemudian ada berita bahwa Utbah tidak menemui keluarganya bahkan menjauhkan diri dari mereka. Maka Abu Jahal berkata : “Demi Allah, wahai kaum Quraisy! Kami tidak berpendapat mengenai diri Utbah selain ia telah cenderung mengikuti Muhammad, dan makanan Muhammad telah membuatnya senang dan ridha. Hal itu tidak terjadi melainkan karena kemiskinan yang menimpanya. Marilah ikut kami untuk menemuinya.”

Mereka pun mendatangi Utbah lalu Abu Jahal berkata : “Demi Allah, wahai Utbah, kami tidak datang kecuali karena engkau mulai simpati kepada Muhammad dan urusannya telah membuatmu senang dan ridha. Jika engkau mempunyai suatu kebutuhan, maka kami akan mengumpulkan harta kami untukmu yang lebih mencukupi daripada makanan Muhammad itu.”

Maka Utbah sangat marah dan bersumpah dengan nama Allah untuk tidak berbicara dengan Muhammad selamanya. Kemudian Utbah berkata : “Sesungguhnya kalian mengetahui bahwa aku adalah salah satu orang yang terkaya di kalangan kaum Quraisy, tetapi aku datang menemuinya” – Utbah menceritakan kepada mereka semua yang telah terjadi – “Dia telah menjawab pertanyaanku dengan sesuatu yang bukanlah sihir atau syair, dan bukan juga mantera. Dia membaca Bismillaahir Rahmaanir Rahiim … (QS. Fushshilat ayat 1-13). Maka aku tutup mulutnya dan memintanya dengan hak kekerabatan agar ia berhenti. Dan sesungguhnya kamu sekalian mengetahui bahwa jika Muhammad berkata-kata, ia tidak pernah berdusta; maka aku takut seandainya adzab turun kepada kalian.” Kemudian Utbah berkata lagi “Itu lah pendapatku, maka lakukan lah apa yang kalian hendak lakukan,” jawab Utbah, kemudian Utbah melanjutkan "Wahai orang-orang Quraisy, percayalah kalian kepadaku hari ini saja, besok kalian boleh tidak percaya, tinggalkanlah dan biarkanlah dia! Karena Demi Allah dia tidak akan meninggalkan agamanya itu. Biarkan dia sendiri berhadapan dengan suku-suku Arab lainnya dan melawan mereka, karena apabila nanti dia bisa berhasil, maka kemuliannya itu juga menjadi kemuliaan kita; tetapi apabila mereka dapat mengalahkannya, maka kalian tidak perlu bersusah payah, karena dia telah terkalahkan oleh orang lain. Setelah mendengar ucapannya itu, maka orang-orang Quraisy berkata, “Wahai Abu Walid, sepertinya kamu juga telah terpengaruh oleh sihirnya.” (HR. Abu Nu’aim dalam Dalaailun Nubuwwah hal. 76)

Kisah seperti ini juga telah disebutkan dengan lengkap oleh Ibnu Ishaq seperti yang telah ditulis dalam kitab al-Bidayah jilid III halaman 63. Baihaqi telah meriwayatkannya dari Ibnu Umar r. Huma dengan singkat, dan Ibnu Katsir menebutkannya  dalam   kitab  al-Bidayah  jilid  III  halaman 4

Utbah tidak menentang mereka lebih jauh, dampak ayat ayat yang dibacakan oleh Muhamad saw baginya bukanlah sekedar kesan sesaat. Pada saat itu karena tidak ada hasil yang memuaskan dari pertemuan Utbah dengan Muhamad saw, salah seorang diantara pemuka pemuka Qurays itu ada yang berkata "Marilah kita memanggil Muhamad untuk bicara dan berdebat denganya dengan begitu kita tidak akan dipersalahkan karena tidak mengupayakan berbagai cara". Maka mereka mengundang Muhamad saw untuk berdebat "Para pemuka kaumu berkumpul bersama untuk berbicara denganmu",  kemudian Muhamad saw pun mendatangi para pemuka Qurays tersebut dengan harapan mereka telah merubah pendirian dan menerima kebenaran. Namun harapanya itu segera pudar, mereka mengulangi lagi tawaran yang sebelumnya sudah mereka ajukan.

Setelah mereka selesai berbicara, Muhamad saw menjawab "Aku tidak mencari harta kekayaan, tidak mengiginkan kemulyaan di tengah kalian dan tidak berhasrat untuk menjadi raja kalian. Tetapi Allah telah mengutusku sebagai Rasul Nya dan menurunkan kitab suci Nya kepadaku, aku diperintahkan agar menyampaikan kabar gembira dan peringatan kepada kalian. Karena itulah aku sampaikan ajaran Tuhan ku dan nasihat baik ku kepada kalian. Jika kalian mau menerima apa yang aku bawa maka kalian pasti beruntung dunia dan akhirat nanti, tapi jika kalian menolak ajaranku maka aku akan bersabar menanti keputusan Allah diantara kita".

Tanggapan pemuka pemuka Qurays hanyalah kembali seperti semula, mereka mengatakan jika Muhamad saw tidak menerima tawaran yang mereka ajukan maka mereka menetapkan bahwa Muhamad saw harus membuktikan bahwa dirinya benar benar seorang utusan Allah dan mereka juga harus melakukan sesuatu yang membuat hidup mereka lebih nyaman, Mereka berkata "Mintalah kepada tuhanmu agar bukit bukit yang mengelilingi kami ini digeser, sehingga tanah kami menjadi datar, serta sungai sungai mengalir seperti di syam dan iraq, mintalah kepada Tuhan mu agar nenek moyang kami dihidupkan kembali, termasuk Qushay, sehingga kami dapat bertanya apakah yang engkau bawa ini benar atau dusta. Atau jika tidak mintalah sesuatu untuk memenangkan dirimu sendiri. Mintalah kepada Tuhanmu agar mengutus malaikat malaikat yang akan membuktikan kebenaran kata katamu dan memastikan kebohongan kami. Dan mintala kepada Nya untuk memberi taman taman , istana emas dan perak sehingga kami dapat mengetahui martabatmu disisi Tuhan mu".

Kemudian Muhamad saw menjawab dengan tegas "Aku tidak mau meminta semua itu kepada Tuhan ku, aku tidak diutus untuk itu, Allah mengutusku untuk memberi peringatan dan khabar gembira". Mereka tidak mau mendengar ucapan Muhamad saw dan melanjutka "Kalau begitu, runtuhkanlah langit hingga berkeping keping di atas kepala kami", mereka berkata hanya untuk memperolok ngolok ayat yang telah disampaikan ole Muhamad saw sebelumnya yaitu "Jika Kami menghendaki, niscaya Kami benamkan mereka di bumi atau Kami jatuhkan kepada mereka gumpalan dari langit" QS. 34:9, Kemudian Muhamad saw membalas ucpan mereka "Allahlah yang menentukan, Jika Allah berkehendak maka Allah akan melakukanya".

Tanpa membalas ucapan Muhamad saw maka banyak diantara pemuka Qurays itu pergi meninggalkan Muhamad saw dengan tatapan menghina,  Ada satu hal yang sangat membingungkan bagi orang orang Qurays tersebut yaitu bahwa Muhamad saw sering mengucapkan istilah asing bagi mereka yaitu Ar Rahman dalam ayat Al Quran "Yang maha pemurah yang telah mengajarkan AlQuran" QS 55:1'2, dan mereka menyangka bahwa Muhamad saw diajarkan oleh seseorang yang bernama Ar Rahman yang berasal dari Yamamah.

Kemudian diantara mereka ada yang berujar "Kami mendengar bahwa ada seseorang yang bernama Rahman di Yamamah telah mengajarkan semua ini kepada mu, kami tidak akan pernah percaya kepada si Rahman orang Yamamah itu!" dan Muhamad saw pun tetap diam, lalu merka melanjutkan "Kini kami bersumpah dihadapanmu Muhamad!, demi tuhan kami, kami tidak akan membiarkan dirimu tenang , kami tidak akan tinggal diam sebelum kami dapat menundukanmu atau engkau yang membinasakan kami". Diantara mereka ada yang menambahkan "Kami tidak akan mempercayaimu sampai engkau menunjukan kepada kami Tuhan mu dan para malaikat sebgai bukti"

Mendengar kata kata tersebut kemudian Muhamad saw bangkit dan hendak beranjak pergi meninggalkan mereka, namun Abdullah putera Abu Umayah dari Bani Makhzum, juga berdiri dan berkata "Aku tidak akan memepercayaimu selamanya sebelum aku melihat sendiri engkau dapat naik mencapai langit kemudian turun lagi ke bumi membawa empat malaikat untuk membenarkan pengakuanmu, Kalau itu sudah terjadi mungkin aku bisa mempercayaimu", Abdullah dari pihak ayahya adalah sepupu Abu Jahal, tetapi ibunya adalah Atikah putri Abdul Muthalib dan Atikah menamai puteranya itu dengan nama saudaranya yaitu ayahnya Muhamad saw. Mendengar kata kata semacam itu dari kerabanya sendiri maka Muhamad saw pulang dengan hati yang sedih.

"Mereka berkata: "Hai orang yang diturunkan Al Qur'an kepadanya, sesungguhnya kamu benar-benar orang yang gila, Mengapa kamu tidak mendatangkan malaikat kepada kami, jika kamu termasuk orang-orang yang benar?, Kami tidak menurunkan malaikat melainkan dengan benar (untuk membawa azab) dan tiadalah mereka ketika itu diberi tangguh".  al Hijr 6-8

Perjalanan Nabi Muhammad saw dalam menyebarkan Islam memang tidak mudah. Banyak orang yang memusuhinya, hingga memfitnahnya supaya jalan dakwah Muhammad sang Rasulullah terhambat khususnya di Kota Makkah kala itu. Rasulullah saw juga pernah diserang oleh musuhnya. Namun bukan dihakimi secara fisik, melainkan psikisnya. Saat itu ia difitnah gila karena mengaku-ngaku sebagai Nabi dan utusan Allah SWT.

Saat itu sebagian masyarakat Makkah tidak menerima kehadiran Rasulullah saw yang tengah berdakwah menyebarkan Islam dan mengajak semua orang untuk beralih ke jalan yang benar. Namun fitnah terus menyerangnya hingga beberapa warga Makkah pun percaya bahwa kekasih Allah itu gila.

Desas-desus Nabi Muhammad dianggap gila kemudian sampailah kepada seorang dukun dari Azd Syanu’ah, Yaman, Dhimad Al-Azdi. Ia mendenggar isu Muhammad gila ketika dirinya tiba di Makkah. Al-Azdi panggilannya, segera mencari Rasulullah saw dengan niat ingin mengobati. Dukun tersebut terkenal biasa memberi pengobatan kepada pasiennya melalui hembusan angin.

Sampailah Al-Azdi bertemu dengan Rasulullah saw dan menawarkan pengobatan. Kemudian Nabi pun tiba-tiba berkata yang membuat dukun itu tercengang.

“Sesungguhnya pujian itu bagi Allah. Kami memuji dan memohon pertolongan kepada-Nya. Siapa yang diberi petunjuk oleh Allah, tak seorang pun bisa menyesatkannya. Dan siapa yang disesatkan Allah, tak seorang pun bisa memberinya petunjuk. Aku bersaksi bahwa sesungguhnya tiada Ilah selain Allah semata, yang tiada sekutu bagi-Nya, dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan Rasul-Nya,” kata Rasulullah saw merespon penawaran Al-Azdi sebagaimana tertera dalam buku Sirah Nabawiyah (Syaikh Shafiyyurrahman Al-Mubarakfuri, 2012).

Kemudian Al-Azdi pun terbelalak, dalam hatinya bertanya-tanya bagaimana bisa orang yang dianggap gila dapat mengucapkan perkataan yang begitu indah. Hingga akhirnya Rasulullah saw pun mengucapkannya hingga tiga kali karena dukun itu memintanya agar lebih memastikan bahwa orang yang sedang dihadapinya benar gila atau tidak.

“Berikanlah tanganmu, biar aku baiat atas nama Islam,” kata Rasulullah kepada Al-Azdi. Saat itu juga Al-Azdi mengucapkan dua kalimat syahadat dan di tangan Rasulullah saw ia akhirnya memeluk Islam.