Bulan Terbelah

Terdapat bayak Mukjizat-mukjizat yang diingkari oleh kaum musyrik disebabkan kedengkian mereka terhadap islam,  Di antaranya adalah Mukjizat Peristiwa terbelahnya Bulan yang disebutkan dalam Al-Quran di Zaman Rasulullah Saw atau 14 Abad yang lalu:

اقْتَرَبَتِ السَّاعَةُ وَانْشَقَّ الْقَمَرُ * وَإِنْ يَرَوْا آَيَةً يُعْرِضُوا وَيَقُولُوا سِحْرٌ مُسْتَمِرٌّ * وَكَذَّبُوا وَاتَّبَعُوا أَهْوَاءَهُمْ وَكُلُّ أَمْرٍ مُسْتَقِرٌّ

“Telah dekat datangnya Hari Kiamat dan Bulan telah terbelah, Dan jika mereka (orang-orang musyrikin) melihat suatu tanda (mukjizat), mereka berpaling dan berkata: “(Ini adalah) sihir yang terus menerus”, Dan mereka mendustakan (Nabi) dan mengikuti hawa nafsu mereka, sedang tiap-tiap urusan telah ada ketetapannya”  (QS. Al Qamar 1-3)

Dalam diriwayat lain dijelaskan bahwa  Ketika kaum Kafir Makkah meminta Rasulullah untuk memperlihatkan tanda-tanda kebesaran Allah serta menguji kebenaran Risalah Rasulullah saw dengan memintanya Membelah Bulan. Hal ini berawal dari pengaduan Abu Jahal dan Abu Lahab yang mengundang seorang Raja dari negri Syam, Keduanya lantas meminta bantuan kepada Raja Habib bin Malik di Syam dan berharap sang raja bisa menuntaskan masalah mereka. Raja Habib adalah seorang raja yang zalim, bengis dan tak segan-segan memberikan hukuman. Abu Jahal mengadu bahwa Nabi Muhammad saw telah mengaku menjadi pesuruh Allah SWT dan membawa satu agama baru dan telah menghina tuhan-tuhan berhala yang disembah oleh mereka.

Orang-orang arab menggelarnya “Raihanah Quraisyin”. Ketika Raja Habib bersama angkatan tentaranya sebanyak 12,000 orang singgah di Abthah, yaitu suatu tempat dekat kota Makkah maka datanglah Abu Jahal beserta pengikut pengikutnya memberikan berbagai-bagai hadiah kepada raja Habib.

Setelah itu Abu Jahal dipersilakan duduk di sebelah kanan raja Habib. Berkata raja Habib: “Wahai Abu Jahal katakan kepadaku tentang Muhammad.” Berkatalah Abu Jahal: “Tuan, silahkan tuan tanya tentang Muhammad itu dari Bani Hasyim.” Raja Habib pun bertanya kepada salah seorang Bani Hasyim: “Wahai Bani Hasyim, katakan pada ku tentang Muhammad itu.”

Berkata Bani Hasyim: “Sebenarnya kami telah mengenal Muhammad itu sejak dia kecil lagi, orangnya sungguh amanah dan setiap katanya benar; dia tidak akan berkata selain dari yang benar. Apabila umur Muhammad meningkat pada 40 tahun dia telah mula mencela Tuhan kita dan dia membawa agama baru yang bukan datangnya dari nenek moyang kita.” Setelah raja Habib mendengar penjelasan dan Bani Hasyim maka dia pun berkata: “Bawa Muhammad mengadap dengan cara baik, kalau Muhammad menolak maka gunakanlah kekerasan".

Setelah itu mereka pun mengutus beberapa orang untuk menjemput Muhammad saw. Setelah Rasulullah saw menerima pesanan raja, maka beliau pun bersiap-siap untuk pergi, sementara itu Abu Bakar ra dan Siti Khadijah menangis karena khawatir Rasulullah saw akan dizalimi oleh raja tersebut.
Rasulullah saw berkata: “Janganlah kamu berdua menangis, serahkanlah urusanku ini kepada Allah SWT.” Kemudian Ahu Bakar ra pun mengaturkan pakaian untuk RasuIulIah saw yang terdiri dari baju berwarna merah dan serban berwarna hitam.

Setelah Rasulullah saw mengenakan pakaian tersebut maka baginda bersama Abu Bakar ra dan Khadijah ra pun pergi menghadap raja Habib. Setelah sampai di hadapan raja, Abu Bakar ra berdiri di sebelah kanan Rasulullah saw sementara Siti Khadijah berdiri di belakang Rasulullah saw. Ketika raja Habib melihat baginda Rasulullah saw berdiri dihadapannya maka raja Habib pun tercengang karena begitu melihat kewibawaan Rasulullah saw tidak sesuai dengan yang diceritakan oleh Abu jahal, Sang Raja pun bangun memberi hormat mempersilakan Rasulullah saw duduk di sebuah kursi yang diperbuat dari emas. Sementara itu Siti Khadijah yang merasa cemas berdoa kepada Allah SWT: “Ya Allah, tolonglah Muhammad dan mudahkanlah dia menjawab pertanyaan.”

Sewaktu Rasulullah saw duduk di hadapan raja Habib maka keluarlah cahaya memancar dari wajah baginda dan baginda duduk dengan tenang tanpa rasa takut. Raja Habib mengawalinya dengan pertanyaan: ‘Wahai Muhammad, kamu tahu bahwa setiap Nabi itu ada mukjizatnya, jadi apakah mukjizat kamu itu?”, Bersabda Rasulullah saw: “Katakan apakah yang kamu kehendaki?”.
Berkata raja Habib: "Aku mau matahari itu terbenam dan bulan pula hendaklah turun ke bumi dan kemudiannya bulan hendaklah terbelah menjadi dua, kemudian masuk di bawah baju kamu dan separuh keluar melalui lengan baju kamu yang kanan dan sebelah lagi hendaklah keluar melalui lengan baju kamu yang kiri. Setelah itu bulan itu hendaklah berkumpul menjadi satu di atas kepala kamu dan bersaksi atasmu, kemudian bulan itu hendaklah kembali ke langit dan mengeluarkan cahaya yang hersinar dan hendaklah bulan itu tenggelam. Sesudah itu hendaklah matahari yang tenggelam muncul semula dan berjalan ke tempatnya seperti mulanya.”

Setelah mendengar begitu banyak yang raja Habib kehendaki, maka baginda Rasulullah saw pun bersabda: Apakah kamu akan beriman kepadaku setelah aku melakukan segala apa yang kamu kehendaki?”, Berkatalah raja Habib: “Ya, aku akan beriman kepadamu setelah kamu dapat menyatakan segala isi hatiku”, Abu Jahal yang sedang menyaksikan percakapan karena dia berpikir apa yang diminta Raja tidak akan bisa terlaksana itu segera melompat kegirangan ke hadapan Raja sambil berkata: “Wahai tuanku, tuanku telah mengatakan pernyataan yang cukup baik dan tepat.”

Rasulullah saw pun keluar lalu pergi mendaki gunung Abi Qubais, kemudian baginda mengerjakan solat dua rakaat lalu berdoa kepada Allah SWT. Setelah berdoa maka turunlah malaikat Jibril as bersama dengan 12,000 malaikat dengan memegang panah di tangan mereka. Malaikat Jibril as berkata: “Assalamu alaika yaa Rasulullah, sesungguhnya Allah telah bersalam kepadamu dan berfirman:

“Wahai kekasihku, janganlah kamu takut dan bersusah hati. Aku akan sentiasa bersamamu di mana saja engkau berada dan telah tetap dalam pengetahuanKu dan berjalan di dalam qada kepastianKu di zaman azali apa-apa yang diminta oleh raja Habib bin Malik pada hari ini; pergilah kamu kepada mereka dan berikan hujjahmu dengan tepat dan jelaskan keadaanmu dan keutusanmu. Ketahuilah sesungguhnya Allah SWT telah menundukkan matahari, bulan, malam dan siang. Sesungguhnya raja Habib itu mempunyai seorang puteri yang tidak mempunyai kedua tangan, kedua kaki dan tidak mempunyai kedua mata. Dan katakan kepadanya bahawa Allah SWT telah mengembalikan kedua tangannya, kedua kakinya dan kedua matanya.”

Setelah itu Rasulullah SAW pun turun dari gunung Abi Qubais dengan rasa tenang, Malaikat Jibril as di angkasa dan para malaikat berbaris lurus dan Rasulullah saw berdiri di maqam Ibrahim.  Maka Allah Swt mengabulkan doa beliau hingga pada malam hari itu tampaklah bulan terbelah menjadi Dua bagian, di mana bagian lainnya berada di sisi  Gunung Safa dan bagian lainya di sisi Gunung Qaikaan dan terlihat di antaranya bukit Hira. Setelah bulan terbelah demikian maka bulan pun kembali ke langit menjadi terang.

Walau telah melihat mujijat yang luar biasa itu, Habib bin Malik pun masih ingin meminta bukti kepada Rasulullah saw yang dikiranya jika seorang nabi maka pasti tahu akan suatu rahasia yang tidak seorang pun tahu kecuali Raja Bin Malik, maka diapun berkata: ‘Wahai Muhammad, masih ada satu syarat lagi.” Belum sempat Habib melanjutkan kata katanya maka baginda Rasululah saw bersabda: “Sesungguhnya kamu mempunyai seorang puteri yang tidak mempunyai dua tangan, tidak mempunyai dua kaki dan dia juga tidak mempunyai dua mata dan sesungguhnya ketahuilah olehmu Allah SWT telah mengembalikan kedua tangan, kedua kaki dan kedua matanya.”

Setelah mendengar itu, Raja Habib maka dia pun berkata: “Wahai ahli Makkah, tidak ada kufur sesudah iman dan tidak ada keraguan sesudah yakin, oleh itu ketahuilah oleh kamu sekelian bahwa sesungguhnya aku bersaksi, Tidak ada Tuhan melainkan Allah yang satu dan tidak ada sekutu bagiNya, dan saya bersaksi bahawa sesungguhnya Muhammad itu hambaNya dan utusan-Nya.” Kemarahan Abu Jahal meluap-luap dan dia berkata: “Wahai tuan raja, apakah tuan percaya kepada ahli syihir ini sehingga syihir itu telah mempersonakan tuan.” Abu jahal berusaha untuk mempengaruhi agar Raja Habib tidak terpengaruh atas kejadian yang terjadi.

Raja Habib tidak menghiraukan kata-kata Abu Jahal, sebaliknya raja Habib bertolak kembali ke negerinya Syam. Ketika raja Habib masuk ke dalam istananya dia dikagetkan karena ketika disambut oleh anak perempuanya yang tadinya tidak punya tangan, kaki dan tidak bisa melihat tapi telah menemuinya dengan keadaan sehat wal afiat, dan dia mendengar putrinya mengucap: “Asyhadu alla ilaaha illallah wa asyhadu anna Muhammadan ‘abduhu wa Rasuuluhu” (Saya bersaksi bahawa sesungguhnya tidak ada Tuhan melainkan AlIah dan saya bersaksi bahawa Muhammad itu adalah pesuruhNya dan utusanNya).

Raja Habib tercengang dengan kalimah yang diucapkan oleh anaknya maka dia pun berkata: “Wahai anakku, siapakah yang mengajarkan kepada kamu kalimah ini?” Berkata anak raja Habib: “Sebenarnya sewaktu saya tidur, telah datang seorang lelaki lalu berkata kepada saya: “Sesunguhnya ayah kamu telah masuk Islam, kalau kamu mahu masuk Islam maka aku kembalikan segala anggota kamu dengan baik.” Setelah itu saya pun tidur dan pagi ini diri saya tidak ada yang kurang seperti yang ayah lihat sekarang”.

Ketika kaum kafir Mekkah melihat peristiwa bulan terbelah itu, orang-orang Kafir Makkah malah mengingkari Mukjizat tersebut dan berkata: “Muhammad telah Menyihir Kita”, kemudian sebagiannya berkata: “Jika benar kita tersihir dia tidak akan bisa menyihir semua manusia Maka tunggulah sampai datang berita dari Orang-orang yang melakukan perjalanan jauh.

Ketika para musafir tiba, mereka pun mengatakan bahwa mereka menyaksikan hal yang serupa. Tetapi Kaum Kafir Makkah tetap mengingkari Mukjizat tersebut dan berkata: “…(Ini adalah) sihir yang terus menerus”.

Diriwayatkan juga dari Abdullah bin Mas’ud, ia berkata,

انْشَقَّ الْقَمَرُ بِمَكَّةَ حَتَّى صَارَ فِرْقَتَيْنِ، فَقَالَ كُفَّارُ أَهْلِ مَكَّةَ: هَذَا سِحْرٌ سَحَرَكُمْ بِهِ ابْنُ أَبِي كَبْشَةَ؛ انْظُرُوا السُّفَّارَ فَإِنْ كَانُوا رَأَوْا مَا رَأَيْتُمْ فَقَدْ صَدَقَ، وَإِنْ كَانُوا لَمْ يَرَوْا مَا رَأَيْتُمْ فَهُوَ سِحْرٌ سَحَرَكُمْ بِهِ، قَالَ: فَسُئِلَ السُّفَّارُ وَقَدِمُوا مِنْ كُلِّ وَجْهٍ فَقَالُوا: رَأَيْنَا

“Bulan terbelah di Mekah hingga menjadi dua bagian. Orang-orang kafir Mekah berkata, ‘Ini adalah sihir. Ibnu Abi Kabsyah menyihir kalian. Tunggulah orang-orang yang bersafar tiba. Kalau mereka melihat seperti apa yang kalian lihat, maka Muhammad benar. Kalau mereka tidak melihat apa yang kalian lihat, maka Muhammad telah menyihir kalian’. Mereka bertanya pada para muasafir yang datang dari berbagai penjuru. Kata mereka, ‘Kami melihatnya’.” (HR. al-Baihaqi dalam Dala-il an-Nubuwah, 2/266-267. Abu Nu’aim al-Ashbahani dalam Dala-il an-Nubuwah Hal: 281).

Beranjak Dari berbagai Riwayat yang serupa, kita dapat meyimpulkan bahwa kejadian itu tidak hanya disaksikan oleh kaum Kafir Makkah saja tetapi juga oleh orang orang yang berada di tempat selain Makkah pun pada waktu itu dapat menyaksikan peristiwa itu seperti yang dilakukan oleh Abu Jahal bahwa dia pernah menunggu para kafilah pedagang yang berdatangan dari berbagai Negeri jauh (seperti Syam) untuk menanyakan Peristiwa tersebut, maka mereka juga menyaksikan hal tersebut.

Rasulullah saw adalah seorang yang sangat menginginkan agar kaumnya mendapatkan hidayah. Beliau juga adalah orang yang paling semangat agar mereka selamat dari adzab Allah. Walaupun beliau tahu kisah umat-umat terdahulu. Bagaimana para rasul didustakan. Dan bagaimana akhir dari orang-orang yang mendustakan peringatan para rasul-rasul tersebut. Abdullah bin Abbas radhiallahu ‘anhuma mengatakan,

قَالَتْ قُرَيْشٌ لِلنَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ادْعُ لَنَا رَبَّكَ أَنْ يَجْعَلَ لَنَا الصَّفَا ذَهَبًا وَنُؤْمِنُ بِكَ قَالَ وَتَفْعَلُونَ قَالُوا نَعَمْ قَالَ فَدَعَا فَأَتَاهُ جِبْرِيلُ فَقَالَ إِنَّ رَبَّكَ عَزَّ وَجَلَّ يَقْرَأُ عَلَيْكَ السَّلَامَ وَيَقُولُ إِنْ شِئْتَ أَصْبَحَ لَهُمْ الصَّفَا ذَهَبًا فَمَنْ كَفَرَ بَعْدَ ذَلِكَ مِنْهُمْ عَذَّبْتُهُ عَذَابًا لَا أُعَذِّبُهُ أَحَدًا مِنْ الْعَالَمِينَ وَإِنْ شِئْتَ فَتَحْتُ لَهُمْ بَابَ التَّوْبَةِ وَالرَّحْمَةِ قَالَ بَلْ بَابُ التَّوْبَةِ وَالرَّحْمَةِ

“Orang-orang Quraisy berkata kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, ‘Mintalah pada Rabbmu agar menjadikan bukit Shafa emas untuk kami. Pasti kami beriman padamu’. Nabi berkata, ‘Kalian akan lakukan itu (beriman)?’ ‘Iya’, jawab mereka. Nabi pun berdoa. Kemudian Jibril menemui beliau dan berkata, ‘Sesungguhnya Rabmu Azza wa Jalla mengirim salam untukmu dan berfirman, ‘Kalau kau mau Shafa akan menjadi emas untuk mereka. Siapa yang kufur setelah itu, Aku akan mengadzabnya dengan suatu adzab yang tidak pernah ditimpakan pada seorang pun di alam semesta ini. Tapi jika engkau mau, Aku bukakan pintu taubat dan rahmat untuk mereka’. Nabi menjawab, ‘Aku lebih memilih pintu taubat dan rahmat’.” (HR. Ahmad 2166. Syu’aib al-Arnauth mengatakan, “Sanadnya shahih sesuai dengan syarat Muslim. Al-Hakim 7601, ia mengatakan hadits ini shahih).

Hadits ini menunjukkan bahwa pintu maaf Allah dan rahmat-Nya jauh lebih bernilai dibanding gunung emas. Hakikat keduanya lebih agung dari emas walau sebesar gunung. Meskipun manusia lebih suka pada apa yang tidak mereka miliki (gunung emas). Dibanding kenikmatan besar yang tersedia untuk mereka.

Terdapat sebuah wawancara dengan Raja Valiyathampuram (87 tahun) dari Kodungallur di Central Kerala, beliau adalah keturunan dari Raja Cheraman Perumal (India pertama yang memeluk Islam pada awal abad ke-7), jika berbicara dengannya seakan berbicara mengenai sejarah, Dalam wawancaranya bersama AU Asif (Pewawancara) tersebut beliau sempat ditanya: apakah benar Islam masuk ke India melalui Mukjizat pembelahan Bulan yang dilakukan Oleh Nabi Muhammad atau Islam masuk ke India tidak dengan Pedang ?

Beliau menanggapi pertanyaan itu dengan menjelaskan bahwa: awal masuknya Islam ke India disebabkan peristiwa Bulan terbelah yang pada suatu malam, saat sang Raja bersama Istrinya berada di atas Istana tiba-tiba mereka menyaksikan Bulan yang terbelah menjadi dua bagian. Lewat para pengembara dan pedangang dari berbagai Negeri asing sang Raja pun akhirnya tahu bahwa kejadian itu merupakan Mukjizat Nabi Muhammad yang berada di Jazirah Arab.

Maka Sang Raja pun pergi menemui Rasulullah Saw setelah membagi-bagikan harta kerajaannya dan menunjuk putranya menjadi Gubernur serta membagikan tanahnya kepada para pemimpin Lokal untuk menjamin kesejateraan kehidupan Kerajaannya.

Beliau masuk Islam di tangan Rasulullah Saw yang disaksikan oleh Abu Bakar Radiallahu Anhu dan mengganti namanya menjadi Tajuddin, Sang Raja meninggal dalam perjalanan kembali ke India dan dimakamkan di jalan di tepi Laut Arab. Dikatakan bahwa sang Raja Muslim ini telah mengirim Surat kepada para menteri lokal kerajaannya lewat Malik bin Dinar sahabat Nabi.

Dalam suratnya Beliau berwasiat bahwa si pembawa surat ini harus mendapat perhatian ekstra, penjamuan dan memuliakannya serta mengizinkannya untuk membangun mesjid di Negeri India pada saat itu. Karena menghormati Raja Cheraman, Penguasa Kerala membagun Mesjid (dibangun pada awal abad ke-7) di Kodungallur yang dikenal sebagai Masjid Malik Cheraman.

Sampai sekarang mesjid tersebut masih ada, seperti yang dijelaskan oleh Raja Valiyathampuram bahwa mesjid itu adalah mesjid tertua di India yang namanya diambil dari Cheraman Perumal dan Malik Ibn Dinar, dan digabungkan menjadi `Masjid Malik Cheraman`. Pemimpin pada waktu itu memudahkan urusan Malik Bin Dinar R.a untuk menyebarkan Islam di India degan kebenaran Mukjizat terbelahnya Bulan.

Seperti yang diceritakan bahwa Malik Bin Dinar wafat di Kasaragod yang kini bernama Karnataka. Raja Cheraman dan Malik Bin Dinar keduanya dikuburkan sisi Laut Arab di mana satunya di Saalala di Oman dan satunya lagi ada di Kasaragod di India. Dengan kata lain, kuburan mereka terhubung dengan air laut.