Perang Badar

Setelah sekitar 15 tahun berdakwah, Nabi Shalallahu’alaihi wa salam ditempa dengan kesabaran atas kedhaliman yang dilakukan oleh kaum musyrikin, kegemilangannya melewati fase ini kemudian Allah menyempurnakannya dengan keberanian. Selama sekitar 16 tahun tidak sedikitpun kaum Muslimin melakukan perlawanan bukan karena tidak berani menghadapi arogansi kaumnya dan bukan pula karena sedikit pengikutnya akan tetapi semata-mata karena belum diperintahkan oleh Allah Ta’ala. Setelah bai’at Aqabah yang kedua, Al Abbas bin ‘Ubadah meminta izin kepada Rasulullah saw untuk memenggal leher orang-orang musyrik di Mina maka Nabi bersabda: “ Kita belum diperintahkan untuk itu ”.

Pasca hijrahnya kaum muslimin ke Madinah ternyata ancaman dan gangguan terus saja datang dari orang-orang Quraisy sehingga hal ini membahayakan eksistensi kaum muslimin yang sudah berusaha menjauh dari mereka. Maka dari itulah Allah Ta’ala menurunkan firmanNya:

"Telah diizinkan (berperang) bagi orag-orang yang diperangi, Karena Sesungguhnya mereka Telah dianiaya. dan Sesungguhnya Allah benar-benar Maha Kuasa menolong mereka itu" (QS. Al Hajj: 39)

Berangkat dari ayat inilah kaum muslimin dijinkan melakukan perlawanan terhadap orang-orang musyrikin hingga Nabi Shalallahu’alaihi wa salam membentuk delapan kesatuan pasukan perang, yaitu:

Pengiriman pasukan ke Saiful Bahr pada tanggal 1 Ramadhan tahun pertama Hijriah yang dipimpin oleh Hamzah bin Abdul Muthalib berhadapan dengan sekitar 300 kafilah dagang Quraish akan tetapi tidak jadi berperang.

Pengiriman pasukan ke Rabigh pada 1 Syawal 1 H yang dipimpin oleh Ubaidah bin Harits bersama 60 muhajirin berhadapan dengan 200 musyrikin Quraish yang dipimpin oleh Abu Sufyan, walaupun sudah saling melepas panah namun belum jadi terjadi peperangan.

Pengiriman pasukan ke Al Kharar pada bulan Dzul Qa’dah 1 H yang dipimpin oleh Sa’id bin Abi Waqqash bersama 20 mujahidin namun belum terjadi peperangan karena tidak beretemu dengan musuh.

Pengiriman pasukan ke Waddan pada bulan Safar 2 H yang langsung dipimpin Nabi Shalallahu’alaihi wa salam tapi juga belum terjadi peperangan.

Pengiriman pasukan ke Buwath pada bulan Rabi’ul Awal 2 H dipimpin langsung oleh Nabi Shalallahu’alaihi wa salam bersama 200 sahabat namun belum terjadi peperangan juga.

Pengiriman pasukan ke Safawan pada bulan Rabi’ul Awal 2 H yang dipimpin oleh Nabi Shalallahu’alaihi wa salam guna mengejar orang-orang Musyrikin yang telah merampas domba-domba kaum muslimin ditempat penggembalaan, namun belum terjadi peperangan karena musuh berhasil meloloskan diri. Peristiwa ini disebut juga perang Badar pertama.

Pengirimin pasukan ke Dzul Usyairah pada bulan Jumadal Ula 2 H, Nabi berangkat bersama sekitar 200 pasukan untuk menghadang kafilah dagang Quraish yang berangkat ke Syam, namun sesampainya di Dzul Usyairah kafilah dagang Quraish telah meninggalkan tempat tersebut sehingga tidak terjadi peperangan.

Kemudian pengiriman pasukan ke Nakhlah pada bulan Rajab 2 H yang dipimpin oleh Abdullah bin Jahsyi bersama 12 muhajirin dan terjadi pertempuran yang akhirnya menewaskan Amr Bin Al Hadhrami dari pihak Quraisy dan menawan Utsman serta Al Hakam. Dalam peperangan ini pasukan yang dipimpin Abdullah bin Jahsyi berhasil merampas barang dagangan mereka dan dibawa ke Madinah. Pengiriman pasukan ke Nakhlah Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengutus Abdullah bin Jahs Radhiyallahu anhu pada bulan Rajab, 17 bulan dari peristiwa hijrah, bersama 8 orang kaum Muhajirin Radhiyallahu anhum. Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam menuliskan sebuah surat dan memberikannya kepada Abdullah bin Jahs Radhiyallahu anhu dan berpesan supaya tidak membukanya kecuali setelah menempuh perjalanan 2 hari. Abdullah bin Jahs Radhiyallahu anhu melaksanakan pesan tersebut. Tatkala Abdullah bin Jahs Radhiyallahu anhu membuka surat itu, dia mendapati bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkannya supaya dia berangkat menuju ke Nakhlah, daerah antara Mekah dan Thâif, untuk menyelidiki apa yang dilakukan kaum Quraisy dan melaporkan hasilnya kepada beliau. Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam juga berpesan agar tidak memaksa para sahabatnya Radhiyallahu anhum turut dalam misi ini. Abdullah Radhiyallahu anhu menyampaikan pesan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada orang-orang yang turut bersamanya. Ia pun tidak memaksa mereka untuk turut dalam misi ini. Akan tetapi, tidak ada seorangpun dari mereka yang mundur. Mereka berangkat bersama Abdullah bin Jahsy Radhiyallahu anhu. Setelah mereka sampai di Nakhlah, lewatlah rombongan dagang Quraisy.

Dalam rombongan itu ada Ibnu al-Hadramy, Utsmân bin Abdillah al-Mughîrah, Naufal bin Abdillah al-Mughîrah dan al-Hakam bin Kaisân, budak Hisyâm bin al-Mughîrah. Abdullah Radhiyallahu anhu dan Pasukan bermusyawarah terkait penanganan rombongan Quraisy ini, karena malam itu adalah malam terakhir bulan Rajab, bulan yang diharamkan untuk berperang. Mereka khawatir, keputusan mereka akan menimbulkan sesuatu yang tidak diridhai Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam . Akan tetapi, apabila mereka membiarkan rombongan Quraisy malam itu, maka rombongan itu akan memasuki wilayah tanah suci, wilayah yang diharamkan berperang didalamnya.

Akhirnya, mereka memberanikan diri dan bersepakat untuk menghadapi rombongan itu dan mengambil barang bawaannya. Waqid bin Abdullah at-Tamimi Radhiyallahu anhu melepaskan anak panahnya dan mengenai Amr bin al-Hadramy sehingga ia mati. Naufal bin Abdillah al-Mughîrah berhasil melarikan diri. Utsmân bin Abdullah dan al-Hakam bin Kisân berhasil ditawan. Pasukan pun membawa 2 tawanan dan harta rampasan perang menghadap Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam di Madinah. Setelah sampai di Madinah, Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam ternyata tidak sependapat dengan mereka.

Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak memerintahkan mereka untuk berperang di bulan suci. Nabi pun tidak bersedia menerima tawanan dan harta rampasan yang mereka bawa. Orang-orang Quraisy menuduh Nabi dan para sahabatnya telah melanggar kehormatan bulan suci dengan menumpahkan darah, merampas harta dan menawan orang. Maka, tatkala manusia banyak membicarakannya, turunlah wahyu yang menjelas keadaan ini. Allah Azza wa Jalla berfirman :

 يَسْأَلُونَكَ عَنِ الشَّهْرِ الْحَرَامِ قِتَالٍ فِيهِ ۖ قُلْ قِتَالٌ فِيهِ كَبِيرٌ ۖ وَصَدٌّ عَنْ سَبِيلِ اللَّهِ وَكُفْرٌ بِهِ وَالْمَسْجِدِ الْحَرَامِ وَإِخْرَاجُ أَهْلِهِ مِنْهُ أَكْبَرُ عِنْدَ اللَّهِ ۚ وَالْفِتْنَةُ أَكْبَرُ مِنَ الْقَتْلِ ۗ وَلَا يَزَالُونَ يُقَاتِلُونَكُمْ حَتَّىٰ يَرُدُّوكُمْ عَنْ دِينِكُمْ إِنِ اسْتَطَاعُوا ۚ وَمَنْ يَرْتَدِدْ مِنْكُمْ عَنْ دِينِهِ فَيَمُتْ وَهُوَ كَافِرٌ فَأُولَٰئِكَ حَبِطَتْ أَعْمَالُهُمْ فِي الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ ۖ وَأُولَٰئِكَ أَصْحَابُ النَّارِ ۖ هُمْ فِيهَا خَالِدُون ﴿٢١٧﴾ إِنَّ الَّذِينَ آمَنُوا وَالَّذِينَ هَاجَرُوا وَجَاهَدُوا فِي سَبِيلِ اللَّهِ أُولَٰئِكَ يَرْجُونَ رَحْمَتَ اللَّهِ ۚ وَاللَّهُ غَفُورٌ رَحِيمٌ َ

"Mereka bertanya kepadamu (Muhammad) tentang berperang pada bulan haram. Katakanlah, ”berperang dalam bulan itu adalah (dosa) besar. Tetapi menghalangi (orang) dari jalan Allah, ingkar kepada-Nya, (menghalangi orang masuk) Masjidil Haram, dan mengusir penduduk dari sekitarnya, lebih besar (dosanya) dalam pandangan Allah. Sedangkan fitnah lebih kejam daripada pembunuhan. Mereka tidak akan berhenti memerangi kamu sampai kamu murtad (keluar) dari agamamu, jika mereka sanggup. Barangsiapa murtad diantara kamu dari agamanya, lalu dia mati dalam kekafiran, maka mereka itu sia-sia amalannya di dunia dan akhirat, dan mereka itulah penghuni neraka, mereka kekal didalamnya. Sesungguhnya orang-orang yang beriman, dan orang-orang yang berhijrah dan berjihad di jalan Allah, mereka itulah yang mengharapkan rahmat Allah. Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang."al-Baqarah  217-218

Setelah Allah Azza wa Jalla menurunkan ayat ini, Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam kemudian menerima harta rampasan perang dan dua tawanan perang yang dibawa Abdullah bin Jahsy Radhiyallahu anhu. Dengan demikian, mereka terbebas dari rasa bersalah yang menekan jiwa mereka. Tatkala kaum Quraisy mengirimkan tebusan untuk dua tawanan ini, Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam memberikan syarat bahwa pembebasan tawanan dilakukan setelah kedatangan Sa`ad bin Abi Waqqâsh dan Utbah bin Ghazwân Radhiyallahu anhu. Keduanya tertinggal dari pasukan Abdullah bin Jahsy karena mencari ontanya yang terlepas saat berjalan bersama pasukan.

Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam merasa khawatir apabila keduanya berada dalam kekuasaan Quraisy.

Melalui peperangan inilah menyebabkan kaum musyrikin Quraish dirasuki rasa ketakutan. Ini menjadi bukti apa yang selama ini membayang-bayangi perasaan mereka akan ancaman kaum muslimin.

Sementara itu dari kejadian ini ternyata Allah Ta’ala menurunkan firmanNya yang mewajibkan jihad bagi kaum muslimin khususnya pada bulan Sya’ban 2 H. Diantaranya:

وَقَاتِلُوا فِي سَبِيلِ اللَّـهِ الَّذِينَ يُقَاتِلُونَكُمْ وَلَا تَعْتَدُوا ۚ إِنَّ اللَّـهَ لَا يُحِبُّ الْمُعْتَدِينَ

“Dan perangilah di jalan Allah orang-orang yang memerangi kamu, (tetapi) janganlah kamu melampaui batas, karena sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas” (QS. Al-Baqarah 190)

Kemudian dilanjutkan:

“Dan bunuhlah mereka di mana saja kamu jumpai mereka, dan usirlah mereka dari tempat mereka telah mengusir kamu (Mekah); dan fitnah itu lebih besar bahayanya dari pembunuhan, dan janganlah kamu memerangi mereka di Masjidil Haram, kecuali jika mereka memerangi kamu di tempat itu. jika mereka memerangi kamu (di tempat itu), maka bunuhlah mereka. Demikanlah balasan bagi orang-orang kafir.” “Kemudian jika mereka berhenti (dari memusuhi kamu), Maka sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” “Dan perangilah mereka itu, sehingga tidak ada fitnah lagi dan (sehingga) ketaatan itu hanya semata-mata untuk Allah. Jika mereka berhenti (dari memusuhi kamu), maka tidak ada permusuhan (lagi), kecuali terhadap orang-orang yang zalim”. (QS. Al Baqarah 191-193).

فَإِذَا لَقِيتُمُ الَّذِينَ كَفَرُ‌وا فَضَرْ‌بَ الرِّ‌قَابِ حَتَّىٰ إِذَا أَثْخَنتُمُوهُمْ فَشُدُّوا الْوَثَاقَ فَإِمَّا مَنًّا بَعْدُ وَإِمَّا فِدَاءً حَتَّىٰ تَضَعَ الْحَرْ‌بُ أَوْزَارَ‌هَا

“Apabila kamu bertemu dengan orang-orang kafir (di medan perang) maka pancunglah batang leher mereka. sehingga apabila kamu telah mengalahkan mereka maka tawanlah mereka dan sesudah itu kamu boleh membebaskan mereka atau menerima tebusan sampai perang berakhir” (QS. Muhammad  4)

Bahkan Allah mencela mereka yang tidak punya nyali, gemetar dan menggigil ketakutan tatkala mendengar perintah untuk berperang.

“Dan orang-orang yang beriman berkata: “Mengapa tiada diturunkan suatu surat?” maka apabila diturunkan suatu surat yang jelas maksudnya dan disebutkan di dalamnya (perintah) perang, kamu lihat orang-orang yang ada penyakit di dalam hatinya memandang kepadamu seperti pandangan orang yang pingsan karena takut mati, dan kecelakaanlah bagi mereka”. (QS. Muhammad[47]: 20).

Dengan turunnya wahyu-wahyu ini maka semakin mengobarkan semangat dan tekad kaum muslimin untuk menegakkan kalimat Allah serta syari’at jihad dibutuhkan untuk memisakan kebenaran dari kebatilan.

Sampai di sini perang besar antara kaum muslimin di Madinah dengan suku Quraisy Mekkah hanya tinggal menunggu waktu. Benar saja, pada bulan Ramadan 2 Hijiriah (Maret 624), kafilah dagang besar pimpinan Abu Sufyan hendak kembali ke Mekkah dari Suriah. Nabi memimpin langsung aksi ghazwu dengan melibatkan sekitar 313 orang muslim, 8 pedang, 6 baju perang, 70 ekor unta, dan 2 ekor kuda.


Di dalam pasukan tersebut juga ada paman Nabi, Hamzah, dan Abu Bakar, Umar bin Khattab, dan Ali bin Abi Thalib. Meski begitu, tak seorang pun menyangka ghazwu kali ini akan menjadi peristiwa penting dalam sejarah. Wajar apabila sebagian umat Islam termasuk menantu Nabi, Utsman bin Affan, tetap tinggal di rumah karena Ruqayah istrinya sakit.

Nabi memulai rencananya dengan menggerakkan pasukan ke salah satu sumur terdekat di Lembah Badar. Namun pergerakan Nabi ternyata berhasil diketahui Abu Sufyan. Ia lantas mengirim seorang utusan ke Mekkah untuk mendapat bantuan.

Orang-orang Quraisy murka saat mendengar rencana penyergapan Nabi terhadap Abu Sufyan. Di bawah komando Abu Jahal, seluruh klan menyiapkan pasukan menuju Badar. Total ada sekitar 1.000 orang, 600 persenjataan lengkap, 700 unta, dan 300 kuda yang siap menghadapi pasukan Muhammad.

Pada 11 Maret 624, pasukan Abu Jahal telah berada kira-kira satu hari perjalanan dari Badar. Beberapa pejuang muslim, termasuk di antaranya Ali bin Abi Thalib, berhasil menangkap dua orang pembawa persediaan air pasukan Abu Jahal di sumur Badar. Dari hasil interogasi, kedua orang itu mengaku sebagai pasukan Abu Jahal, bukan kafilah dagang Abu Sufyan. Pengakuan ini mengejutkan kaum muslimin. Mereka tak menyangka Abu Sufyan berhasil meminta pertolongan dan mengirim bantuan yang jaraknya semakin dekat. Artinya, perang sukar terhindarkan.

Nabi lalu menanyai sahabat mengenai solusi terbaik dari situasi yang dihadapi. Apakah kembali ke Madinah? Apakah menghadapi peperangan dengan Quraisy Mekkah? Atau mengejar karavan Abu Sufyan? Rapat akhirnya memutuskan untuk menghadapi serangan pasukan Abu Jahal.

Keputusan ini menciptakan situasi yang genting di kalangan Anshar. Mereka memang sebelumnya telah berjanji melindungi Nabi, tapi janji itu hanya jika Nabi di serang di Madinah. Bukan di luar Madinah seperti di lembah Badar. Sa’ad bin Mu’adz mengakhiri kebimbangan Anshar dengan pidatonya yang heroik:

“… Demi Tuhan, kalau engkau meminta kami menyeberangi lautan ini dan engkau menceburkan ke dalamnya, kami akan mencebur bersamamu; tak ada seorang orang pun yang tertinggal."

Dan para sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam adalah kaum yang terbaik dari seluruh para sahabat para nabi, takala mereka mengetahui kedatangan Quraisy untuk memerangi Nabi shalallahu ‘alaihi wasallam maka Al-Miqdad bin Al-Aswad radhiallahu ‘anhu pun berdiri dan berkata :

لاَ نَقُوْلُ كَمَا قَالَ قَوْمُ مُوْسَى { اِذْهَبْ أَنْتَ وَرَبُّكَ فَقاَتِلاَ } وَلَكِنَّا نُقَاتِلُ عَنْ يَمِيْنِكَ وَعَنْ شِمَالِكَ وَبَيْنَ يَدَيْكَ وَخَلْفَكَ،

“Kami tidak berkata sebagaimana perkataan kaum Musa “Pergilah engkau bersama Tuhanmu dan berperanglah”, akan tetapi kami akan berperang bersamamu dari arah kananmu, arah kirimu, di depanmu, di belakangmu”

Ibnu Mas’ud berkata :

فَرَأَيْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَشْرَقَ وَجْهُهُ وَسَرَّهُ يَعْنِي قَوْلَهُ

“Akupun melihat Nabi shallallahu ‘alaihi wasalam berseri-seri wajah beliau dan gembira dengan perkataan Al-Miqdad” (HR Al-Bukhari no 3952)

Kaum Anshor berkata

وَالَّذِي بَعَثَكَ بِالْحَقِّ لَوْ ضَرَبْتَ أَكْبَادَهَا إِلَى بَرْكِ الْغِمَادِ لاَتَّبَعْنَاكَ

“Demi Yang telah mengutusmu dengan kebenaran, seandainya engkau berjalan menuju Barkil Gimad (di ujung Yaman) maka kami akan mengikutimu” (HR Ahmad)

Sa’ad bin ‘Ubadah berkata :

لَوْ أَمَرْتَنَا أَنْ نُخِيْضَهَا الْبِحَارَ لَأَخَضْنَاهَا

“Kalau seandainya engkau memerintahkan kami untuk masuk bersama tunggangan kami dalam lautan maka akan kami lakukan” (HR Ahmad)

Di saat yang sama, Abu Sufyan dengan cerdik mengubah rute karavan dagangnya. Ia dan rombongan berhasil selamat setelah berbelok melalui Yanbu menyusuri pesisir Laut Merah. Kabar kafilah Abu Sufyan berhasil meloloskan diri dari sergapan kaum muslimin juga menghilangkan semangat perang di dalam pasukan Abu Jahal. Bani Zuhrah dan Bani Adi menarik diri karena khawatir pengaruh politik Abu Jahal bakal menguat jika mengalahkan kaum muslimin. Sementara Thalib bin Abi Thalib membawa serombongan keluarga Bani Hasyim karena tak sanggup bertempur dengan saudara sendiri tanpa alasan.

Sebelumnya pihak Qurays telah mengutus beberapa orang untuk mengintai pasukan muslim di lembah Badar, setelah mereka melakukan pengintaian tentang jumlah pasukan dan kekuatan lawan. Di antara anggota dan pasukan pengintaian tersebut adalah Umair.

Sekembalinya Umair, dirinya menjelaskan hasil pengintaiannya, “Aku telah menaiki lembah tersebut dan tidak menemukan kekuatan sama sekali pada pasukan Muslim.”

Mereka yang mendengarkannya bertanya, “Berapa jumlah personil perang mereka? Umair menjawab, “ Mereka tidak lebih dari 300 personil. Kalaupun lebih hanya sedikit sekali, 70 pasukan unta dan dua orang pasukan berkuda.”

Mereka berteriak, “Kamu pasti dapat merampas senjata dan tanah akan dibanjiri dengan darah.” Mendengar yel-yel tersebut Umair berkata, “Wahai kaumku, aku melihat cita-cita yang mendatangkan kematian.”

Dia terdiam sejenak kemudian berkata, “Kami akan menyusuri Yastrib dengan penuh kematian. Satu umat yang tidak mempunyai perisai kecuali pedang (umat Islam). Bukankah, kamu dapat menyaksikan seorang tuna wicara? Tapi mereka dapat menyusuri kematian itu. Aku tidak melihat satu pasukan mereka kecuali satu personil pasukan kita yang terbunuh.”

Namun, Hakim bin Hizam mengatakan, kepada bangsanya untuk sebaiknya kembali ke Makkah saja. Kemudian pernyataan tersebut dibenarkan oleh Syaibah dan Utbah. Kedua orang itu adalah termasuk orang saleh. Keduanya mengingatkan pasukan Quraisy untuk kembali ke Makkah. Utbah berkata, “Janganlah kalian menolak nasihatku ini dan jangan meremehkannya.”

Namun di lain sisi, ketika Abu Jahal mendengar perkataan Utbah tersebut, dia terus menghasut orang-orang kafir Qurasiy untuk menyerukan meneruskan peperangan. Orang-orang kafir Quraisy merasa mereka berada di atas angin.

“Orang Arab tidak suka mengambil risiko yang tak perlu dalam peperangan, dan selalu berusaha menghindari jatuhnya banyak korban," kata Armstrong.

Tapi Abu Jahal sudah di luar nalar. Ia memaki orang-orang Quraisy yang memilih pulang. Termasuk Utbah bin Rabi’ah, pelindung laki-laki yang tewas oleh kelompok Abdullah bin Jahsy di Nakhlah.

“Uthbah pengecut!" maki Abu Jahal.

Orang-orang Arab tak suka disebut pengecut. Dengan seketika, ucapan Abu Jahal membangkitkan lagi semangat perang Quraisy Mekkah.

Begitu juga dengan Ummayah yang enggan melanjutkan penyerbuan karena terngiang dengan ucapan Sa'ad bin Muadz yang membuatnya gentar yang mengatakan bahwa pada suatu saat dirinya akan terbunuh. Sebelum keberangkatanya ,ketika  kaum musyrikin berkumpul di Badr, Umayyah merasa takut dan enggan keluar. Hampir saja dia tidak ikut, dia seorang yang sudah tua lagi dimuliakan serta gemuk. Dia teringat kisah Sa’ad bin Mu’adz yang selalu menghantuinya, hingga dia tidak bisa melupakan kejadian itu sama sekali.

Al-Bukhari rahimahullah meriwayatatkan dalam Shahihnya, beliau berkata, “Maka tatkala hari peperangan Badr, Abu Jahal menggiring orang-orang, dia berkata, ‘Susullah kafilah kalian.’ Maka Umayyah enggan untuk keluar, hingga Abu Jahal mendatanginya seraya berkata, ‘Wahai Umayyah, sejak kapan engkau mundur, padahal orang-orang tidak pernah mendapatimu demikian? Engkau adalah pemimpin lembah ini, mereka akan menirumu.’ Abu Jahal terus merayunya seraya berkata, ‘Jika engkau bisa mengungguliku, demi Allah aku akan membelikan onta terbaik di Mekah.’ Kemudian Umayyah berkata, ‘Wahai Ummu Sufyan persiapkanlah bekal untukku.’

Istrinya menjawab, ‘Wahai Umayyah, apakah engkau lupa, apa yang dikatakan oleh saudaramu Al-Yatsribi (Sa’ad bin Muadz)?’

Dia menjawab, ‘Tidak, aku akan selalu dekat bersama mereka.’

Dan ketika Abu Jahal mengetahui Umayyah akan mengundurkan mengundurkan diri, dia berusaha membujuk ‘Uqbah bin Abi Mu’ith. ‘Uqbah seorang yang bodoh. Maka datanglah ‘Uqbah bersama Abu Jahal, Uqbah membawa tungku api, di dalamnya terdapat dupa, sedangkan Abu Jahal membawa botol celak dan pensil alis. Uqbah meletakkan tungku api di antara kedua tangannya seraya berkata padanya, “Wahai Abu Ali, berukuplah sesungguhnya engkau ini seperti wanita.”

Abu Jahal berakata, “Wahai Abu Ali, pakailah celak sesungguhnya engkau seorang wantia.”

Umayyah berkata, “Semoga Allah menjelekkan kalian berdua.”

Kedua orang yang busuk ini, bertujuan untuk memanasi kefanatikan Umayyah dengan cara itu. Dan benar, Umayyah membeli onta paling bagus di Mekah, dia pun bersiap-siap bersama kaum musyrikin.

Di jalan menuju ke Badr, Umayyah menyembelih 9 onta dan memberi makan orang-orang musyrikin yang pergi berperang dengan sombong dan penuh kekafiran. Keluar bersama-sama orang Quraisy, serombongan para perias dan penyanyi wanita dengan tabuhannya, di antara mereka budak wanita Umayyah bin Khalaf. Mereka bernyanyi di setiap sumber air dan di setiap rumah yang mereka singgahi untuk beristirahat dan makan. Sementara itu Umayyah bersama kaum tersebut melangkah dalam keraguan. Dia berniat untuk kabur sesaat lagi, dengan menyusup di antara mereka. Hanya saja, dia tidak mendapat kesempatan mewujudkan apa yang dia inginkan.

Perjalanan kaum Quraisy berlanjut dalam keadaan kacau, hingga sampai ke tempat yang bernama al-Juhfah. Saat itu waktu sudah malam, mereka turun untuk menambah perbekalan air, di antara mereka ada seorang lelaki berasal dari Bani al-Muththalib, yang bernama Juhaim bin ash-Shalt bin Mukhramah, dia meletakkan kepalanya, lantas tertidur. Kemudian ia tersentak bangun ketakutan. Kemudian berkata kepada teman-temannya, “Apakah kalian melihat penunggang kuda yang berdiri di atasku barusan?!”

Mereka menjawab, “Tidak, sesungguhnya engkau telah gila, bahkan engkau pasti sudah gila!”

Dia berkata, “Seorang penunggang kuda berdiri di hadapanku baru saja. Dia berkata, ‘Abu Jahal terbunuh, Utbah, Syaibah, Zam’ah, Abul Bakhtari dan Umayyah bin Khalaf.’ Lalu dia menghitung sekelompok dari kuffar Quraisy dan orang-orang terkemuka dari mereka.”

Teman-temannya berkata dengan anda mengejek, “Sesungguhnya setan telah bermain-main denganmu, wahai Juhaim.”

Perkataan Juhaim disampaikan ke Abu Jahal, Abu Jahal pun berkata, “Kalian telah datang kepada kami membawa berita bohong dari Bani Al-Muththalib bersama kebohongan Bani Hasyim, kalian akan melihat besok siapa yang terbunuh.”

Umayah teringat lagi tentang percakapanya dengan Sa'ad bin Muadz ketika di Mekkah, tentang perkataan Sa'ad yang mengabarkan bahwa dirinya akan terbunuh di suatu tempat.

“Sa’ad bin Mu’adz radhiallahu ‘anhu adalah teman Umayyah bin Khalaf, apabila Umayah lewat Madinah dia mampir ke Sa’ad. Dan kebalikannya, apabila Sa’ad melewati Mekah dia mampir ke Umayyah."

Tatkala Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam datang ke Madinah, Sa’ad pergi menunaikan umrah lantas dia mampir ke Umayyah di Mekah seraya berkata, ‘Carilah untukku saat yang sepi barangkali aku bisa melakukan thawaf di Ka’bah.’

Maka tak lama kemudian keduanya keluar pertengahan siang, keduanya bertemu dengan Abu Jahal. Dia berkata, ‘Siapa yang bersamamu wahai Umayah?’
Umayyah menjawab, ‘Dia adalah Sa’ad.’
Abu Jahal berkata kepadanya, ‘Sungguh aku melihatmu thawaf di Mekah dengan aman, sedang kalian yang menampung para pemeluk agama baru, aku mengira bahwa kalian telah menolong dan mengayomi mereka. Ketahuilah bahwa kalau sekiranya engkau tidak bersama Umayyah engkau tidak akan pulang selamat kembali ke rumah.’

Sa’ad menjawab kepadanya seraya mengangkat suaranya dengan keras, ‘Demi Allah, sekiranya engkau mencegahku, niscaya kau akan kucegah dari yang lebih penting bagimu, yaitu berjalan ke Madinah.’

Lantas Umayyah berkata kepadanya, ‘Jangan kau angkat suaramu wahai Sa’ad di atas suara Abul Hakam pemimpin penduduk lembah ini.’

Sa’ad berkata, ‘Biarkanlah saya wahai Umayah, demi Allah aku telah mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata, merekalah yang akan membunuhmu.’
Umayyah berkata, ‘Di Mekah?’, Sa’ad menjawab, ‘Aku tidak tahu.’

Umayyah merasa gundah dengan berita itu, sepulangnya ke rumah, dia berkata ke istrinya, ‘Wahai Ummu Shafwan, tahukah apa yang dikatakan Sa’ad tentang diriku?’
Ummu Shafwan bertanya, ‘Apa yang dikatakannya?’
Kata Sa’ad, ‘Dia berkata, Muhammad mengabarkan, bahwa mereka akan membunuhku. Lalu aku bertanya kepadanya: Di makkah? Aku tidak tahu, jawabnya.’
Umayyah berkata, ‘Demi Allah aku tidak akan keluar dari Mekah.”

Kalimat "mereka akan membunuhmu" tetap terngiang menghantui diri Umayyah, berita yang tak pernah dibayangkan sebelumnya, karena dia mengakui dalam hatinya, benarnya kenabian Muhammad saw. Umayyah bin Khalaf sendiri bersaksi akan hal ini dalam pernyataan sebelumnya kepada Mu’adz, “Demi Allah Muhammad tidak berbohong apabila dia berbicara.”, hal inilah yang membuat Umayyah enggan melanjutkan penyerbuan terhadap pasukan muslim.

Ketika Rasullulah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan pasukannya sampai di dekat Safra` (suatu daerah di dekat Badar); beliau mengutus Basbas dan Ady bin Abi Zaghba` ke Badar. Keduanya disuruh mencari informasi tentang Abu Sufyan dan rombongan dagangnya.

Dalam riwayat lainnya disebutkan bahwa beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan Abu Bakar Radhiyallahu anhu juga keluar untuk tujuan ini. Keduanya bertemu dengan seseorang yang sudah tua. Rasulullah bertanya kepadanya tentang pasukan Quraisy. Orang tua itu mau menjawab asalkan mereka berdua memberitahu dari mana asal mereka ? Keduanya setuju. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam memintanya agar bercerita lebih dahulu.

Orang itu menjelaskan bahwa ia mendengar berita tentang Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para Sahabatnya telah berangkat pada hari ini dan ini. Jika si pembawa berita itu benar, berarti mereka sekarang sudah sampai di tempat ini dan ini. Dan jika si pembawa berita tentang pasukan Quraisy juga jujur, berarti mereka sekarang berada di tempat ini dan ini.

Setelah menyelesaikan ceritanya, orang itu bertanya: “Dari mana kalian berdua ?” Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab: “Kami berasal dari air (sumur)”. Kemudian keduanya meninggalkan orang tua itu yang masih bertanya,“Dari air ? Apakah dari air Irak ?”, tanya orang tersebut yang rupanya belum mengetahui bahwa ia sedang berhadapan dengan Rasulullah saw.

Sore harinya, Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengutus Ali, Zubair, dan Sa`d Bin Abi Waqqash Radhiyallahu anhum beserta sekelompok Sahabat lainnya untuk mengumpulkan data-data tentang musuh. Di sekitar sumur Badar, rombongan ini menemukan dua orang yang bertugas mengambil air untuk pasukan Mekah. Mereka membawa dua orang ini ke Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam yang saat itu sedang shalat.

Lantas mereka mulai mengorek keterangan dari keduanya. Dua orang ini mengakui bahwa mereka pemberi minum pada pasukan Mekah. Namun, para Sahabat tidak mempercayai mereka. Para Sahabat mengira keduanya adalah anak buah Abu Sufyan. Lalu mereka memukuli keduanya hingga mau mengaku bahwa mereka anak buah Abu Sufyan.

Ketika Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam selesai shalat, beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengingatkan para Sahabatnya, karena mereka telah memukul keduanya saat jujur dan membiarkan mereka saat berdusta.

Kemudian Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bertanya kepada keduanya tentang posisi pasukan Mekah. Mereka menjawab: “Mereka di belakang bukit di Udwatul Qushwa.” Kemudian beliau bertanya tentang jumlah pasukan Mekah. Akan tetapi, dua orang ini tidak bisa menyebutkan jumlah pastinya, namun keduanya menyebutkan jumlah unta yang mereka sembelih setiap harinya, yaitu antara 9 sampai 10. Dari sini, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam menyimpulkan bahwa jumlah mereka antara 900 – 1000 pasukan.

Dua orang ini juga menyebutkan bahwa di antara pasukan itu ada beberapa tokoh Mekah, Beliau bertanya kepada dua orang ini, “Siapa sajakah pemuka Quraisy yang ikut?” Mereka menjawab, “Utbah dan Syaibah, keduanya anak Rabî`ah, Abul Bakhtari bin Hisyâm, Hakim bin Hizâm, Naufal bin Khuwailid, al-Hârits bin Amir, Thaîmah bin Adi, an-Nadhr bin Harits, Zam`ah bin al-Aswad, Amr bin Hisyam, Umayah bin Khalaf dan lainnya.”

Rasululllah Shallallahu ‘alaihi wa sallam pun berkata kepada para Sahabatnya: “Mekah telah mencampakkan para tokohnya ke hadapan kalian.” Lalu Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam menunjukkan beberapa tempat yang akan menjadi tempat tewasnya beberapa tokoh Quraisy.

Malam itu Allah Azza wa Jalla menurunkan hujan untuk mensucikan kaum Muslimin dan meneguhkan telapak kaki mereka di atas bumi. Allah Azza wa Jalla jadikan hujan tersebut sebagai bencana yang besar bagi kaum Musyrikin. Tentang ini Allah Azza wa Jalla berfirman :

وَيُنَزِّلُ عَلَيْكُمْ مِنَ السَّمَاءِ مَاءً لِيُطَهِّرَكُمْ بِهِ وَيُذْهِبَ عَنْكُمْ رِجْزَ الشَّيْطَانِ وَلِيَرْبِطَ عَلَىٰ قُلُوبِكُمْ وَيُثَبِّتَ بِهِ الْأَقْدَامَ

"Dan Allah menurunkan kepadamu hujan dari langit untuk mensucikan kamu dengan hujan itu dan menghilangkan dari kamu gangguan-gangguan setan dan untuk menguatkan hatimu dan memperteguh dengannya telapak kaki(mu) (al-Anfâl 11)

Di antara nikmat Allah Azza wa Jalla kepada kaum Muslimin saat itu adalah Allah Azza wa Jalla menjadikan para Sahabat mengantuk sebagai penenteram jiwa. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam membawa pasukannya mendekati mata air Badar mendahului orang-orang Musyrik agar musuh tidak bisa menguasai mata air.

Matahari bersinar terik saat pasukan Amr bin Hisyam alias Abu Jahal nyaris berhadapan dengan pasukan Muslimin yang terhalang bukit di Lembah Badar. Tanah yang sebelumnya basah oleh hujan kini mengeras terkena panas. Menyulitkan langkah Amr dan pasukannya mendaki gundukan-gundukan bukit terjal berbatu. Namun amarah Amr sudah diubun-ubun. Pada 12 Maret 624 Masehi itu, dalam peristirahatan sehari menjelang perang, Amr bersumpah di hadapan sekitar 1.000 orang Quraisy Mekkah untuk menghabisi Muhammad dan pengikutnya. “Demi Tuhan! Kita tak akan kembali sampai kita tiba di Badar. Kita akan menginap tiga hari di sana, menyembelih unta-unta, berpesta dengan minum anggur dan gadis akan bermain untuk kita. Orang-orang Arab akan mendengar bahwa kita telah datang dan akan menghormati klan Thalib pada masa yang akan datang,” kata Amr.

Saat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam sudah menentukan satu posisi, al-Habâb bin Mundzir Radhiyallahu anhu mengeluarkan pendapatnya, “Wahai Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam , bagaimanakah pendapat anda tentang posisi ini ? Apakah posisi ini diwahyukan oleh Allah Azza wa Jalla sehingga kita tidak boleh maju atau mundur ? Ataukah ini hanya pendapat, siasat dan takti perang saja”? Beliau menjawab: “Ini hanya pendapat, siasat dan taktik perang saja.” al-Habâb Radhiyallahu anhu mengatakan : “Wahai Rasulullah, posisi ini kurang tepat, bawalah orang-orang ini ke sumur yang paling dekat dengan posisi musuh. kita kuasai sumur itu lalu yang lainnya kita rusak. Kita membuat telaga besar lalu kita penuhi air. Kemudian baru kita perangi mereka, kita bisa minum sementara mereka tidak bisa.”  Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda kepada al-Habâb Radhiyallahu anhu , “Engkau telah menyampaikan pendapat yang jitu.” Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam menyetujuinya dan melakukannya.

Taktik ini sangat jitu, Kaum Quraisy Mekkah terpaksa perang dengan bergerak ke arah yang diinginkan kaum muslimin demi mendapatkan sumber mata air terakhir. Sementara itu, Nabi telah berhasil memosisikan para prajuritnya agar Quraisy Mekkah menghadap ke timur dengan sinar matahari langsung ke mata mereka.

Ketika sudah menguasai tempat yang ditunjukkan oleh al-Habbab, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dibuatkan `arisy (tenda) oleh para Sahabat sebagai tempat beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam bermunajat kepada Allah Azza wa Jalla.

Sementara itu, Sa’d ibn Mu’adz ra. mengusulkan agar Rasulullah saw. dibuatkan, tempat berlindung. Tujuannya, supaya beliau dapat kembali ke Madinah dengan selamat, kembali berjumpa dengan umat Islam yang ada di kota itu. Meskipun Rasulullah saw. setuju dengan usulan ini, beliau menenangkan dan meyakinkan para sahabat bahwa pertolongan Allah pasti datang. Rasulullah saw. bersabda, ”lni adalah tempat matinya si Fulan, ini tempat matinya si Fulan (dari pihak musyrik,” sambil meletakkan tangannya di atas tanah, di sebelah sini dan di sebelah situ, dan seterusnya. Setelah Perang Badar usai, baru diketahui kalau tokoh-tokoh musyrik yang disebutkan Rasulullah saw. ternyata benar-benar meregang nyawa di tempat seperti yang beliau sampalkan.

Malam Jumat tanggal tujuh belas Ramadhan, Rasulullah saw. memanjatkan doa kepada Allah SWT. Dalam munajatnya beliau berseru, ”Ya Allah, orang~orang Quraisy telah datang dengan segala kecongkakan dan kesombongan mereka untuk menantang-Mu dan mendustai utusan-Mu. Ya Allah, Engkau telah berjanji padaku akan menolong kami. Ya Allah, binasakanlah musuh-musuh Mu besok.”

Rasulullah SAW. térus bermunajat kepada Allah sepenuh hati sambil menengadahkan kedua tangannya ke langit. Melihat itu, Abu Bakar ra. terharu. Perlahan-lahan Abu Bakar ra. mendekati sahabatnya dan berkata, “Wahai Rasulullah, bergembiralah engkau. Demi Dzat yang nyawaku berada di tangan-Nya, Allah pasti akan memenuhi semua janji-Nya kepada-Mu.”

Ali radhiallahu ‘anhu berkata :

وَلَقَدْ رَأَيْتُنَا وَمَا فِيْنَا إِلاَّ نَائِمٌ إِلاَّ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ تَحْتَ شَجَرَةٍ يُصَلِّي وَيَبْكِي حَتَّى أَصْبَحَ

“Sungguh aku melihat bahwa kita semuanya tertidur kecuali Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, beliau di bawah pohon sholat dan menangis hingga subuh hari” (HR Ahmad)

Ibnu Katsîr  mengatakan, “Sungguh beliau telah berperang dengan sungguh-sungguh. Demikian pula Abu Bakar Radhiyallahu anhu. Sebagaimana keduanya berjihad di tenda dengan berdo’a, mereka juga keluar, memberikan motivasi untuk berperang dan mereka juga ikut berperang dengan fisik.” Setelah melakukan semua persiapan fisik yang memungkinan untuk mewujudkan kemenangan di lapangan, malam itu beliau bertadarru` (memohon) kepada Allah Azza wa Jalla agar menolongnya.

Di antara doa yang beliau ucapkan adalah:

اللَّهُمَّ أَنْجِزْ لِيْ مَا وَعَدْتَنِي اللَّهُمَّ آتِ مَا وَعَدْتَنِيْ اللَّهُمَّ إِنْ تُهْلِكْ هَذِهِ الْعِصَابَةَ مِنْ أَهْلِ الإِِسْلاَمِ لاَ تُعْبَدْ فِي الأَرْضِ

"Ya Allah Azza wa Jalla , penuhilah janji-Mu kepadaku. Ya Allah Azza wa Jalla berikanlah apa yang telah Engkau janjikan kepadaku. Ya Allah Azza wa Jalla , jika Engkau membinasakan pasukan Islam ini, maka tidak ada yang akan beribadah kepada-Mu di muka bumi ini." [HR. Muslim 3/1384 hadits no 1763]

Dalam riwayat ini juga disebutkan bahwa beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam terus bermunajat kepada Rabbnya hingga selendang beliau jatuh dari pundak. Abu Bakar Radhiyallahu anhu datang dan mengambil selendang tersebut kemudian meletakkan kembali di pundak beliau. Abu Bakar Radhiyallahu anhu berkata, “Wahai Nabi Allah Azza wa Jalla , sudah cukup engkau bermunajat kepada Rabbmu dan Allah Azza wa Jalla pasti akan memenuhi janji-Nya.”

Kemudian turunlah firman Allah Azza wa Jalla :

إِذْ تَسْتَغِيثُونَ رَبَّكُمْ فَاسْتَجَابَ لَكُمْ أَنِّي مُمِدُّكُمْ بِأَلْفٍ مِنَ الْمَلَائِكَةِ مُرْدِفِينَ

“(Ingatlah), ketika kamu memohon pertolongan kepada Tuhanmu, lalu diperkenankan-Nya bagimu : “Sesungguhnya aku akan mendatangkan bala bantuan kepada kamu dengan seribu Malaikat yang datang berturut-turut”. al-Anfâl 9

Setelah itu Abu Bakar Radhiyallahu anhu memegang tangan beliau dan berkata, “Cukup wahai Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam , engkau telah berkali-kali memohon kepada Rabbmu”. Kemudian Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam segera mengambil baju besi dan terjun ke medan tempur seraya membaca firman Allah Azza wa Jalla :

سَيُهْزَمُ الْجَمْعُ وَيُوَلُّونَ الدُّبُرَ

“Golongan itu pasti akan dikalahkan dan mereka akan mundur ke belakang”. (al-Qamar 54 : 45)

Perang dimulai dengan pertarungan duel yang melibatkan tiga wakil dari kedua kubu. Kaum muslimin menurunkan Hamzah, Ali, dan Ubaidah bin Alharits. Sementara kaum Quraisy menerjunkan Utbah, Syaibah, dan Walid bin Utbah. Ketiga jago Quraisy itu akhirnya tewas mengenaskan. Sementara Ubaidah mendapat luka serius dan mesti diusung ke luar medan.

Meskipun Quraisy Mekkah unggul jumlah dan senjata, tetapi mereka kalah. Ini karena mereka bertempur dalam gaya Arab kuno yang sembrono dan hanya mengandalkan keberanian. Setiap klan memimpin pasukannya sendiri dengan motivasi perang masing-masing: balas dendam, merebut harta, hingga meraih status sosial. Tak ada kesatuan komando. Sebaliknya, pasukan muslimin disiplin dalam satu komando dan terlatih.

Di awal perang, pasukan Nabi menghindari pertarungan jarak dekat dan lebih memilih menyerang menggunakan panah. Pertarungan jarak dekat hanya dimungkinkan jika musuh mendekat. Nabi juga membagi pasukan muslim menjadi tiga kelompok sayap kanan, sayap kiri, dan tengah. Pasukan tengah adalah kaum Muhajirin dan Anshar yang telah berbalik membela Nabi sampai titik darah penghabisan. Salah satu orang yang berada di pasukan tengah terdepan adalah Ali bin Abi Thalib.

Pertempuran antara pasukan Muslim melawan pasukan musyrik pun dimulai. Rasulullah saw. mengambil segenggam batu kerikil yang kecil-kecil, kemudian melemparkannya ke arah pasukan Quraisy sambil berseru, “Buruklah wajah-wajah itu.” Tidak lama kemudian, tak seorang pun dari pasukan Qumisy yang matanya luput dari lemparan Rasulullah saw. Pertempuran berlangsung sangit. Tetapi, kemenangan berpihak pada pasukan Muslim.

Di antara kisah yang membuktikan keperkasaan Rasulullah saw adalah ucapan Ali Radhiyallahu anhu, Ali berkata :

لَقَدْ رَأَيْتُنَا يَوْمَ بَدْرٍ وَنَحْنُ نَلُوْذُ بِرَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَهُوَ أَقْرَبُنَا إِلَى الْعَدُوِّ وَكَانَ مِنْ أَشَدِّ النَّاسِ يَوْمَئِذٍ بَأْسًا

“Sungguh aku melihat tatkala perang Badr kami berlindung kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dan beliau yang paling dekat dengan musuh, dan beliau paling dahsyat peperangannya pada hari itu” (HR Ahmad)

Dalam riwayat lain diceritakan, “Ketika peperangan sudah berkecamuk, kami berlindung dengan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam . Beliau adalah orang yang paling menderita. Tidak ada seorang pun yang lebih dekat posisinya dengan orang Musyrik dibandingkan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam ”

Di antara buktinya juga, sabda beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada para Sahabatnya saat perang Badar, “Janganlah sekali-kali ada salah seorang di antara kalian yang maju kepada sesuatu, sampai aku berada di dekat sesuatu itu.”

Umar bin Hammam adalah seorang sahabat Anshar dan seorang Ahli Badar, dan termasuk dalam sedikit sahabat yang memperoleh syahid dalam pertempuran tersebut. Ketika memacu semangat pasukan muslim, Umair mendengar Nabi saw bersabda, “Demi diri Muhammad di tangan-Nya, tidaklah seseorang di antara mereka yang berperang pada hari ini dengan sabar, mengharap keridhaan Allah, maju terus pantang mundur, melainkan Allah akan memasukkannya ke surga.”

Umair begitu terkesan dengan seruan Nabi SAW tersebut. Kemudian Nabi saw bersabda lagi, “Bangkitlah menuju surga yang luasnya seluas langit dan bumi!”
“Surga luasnya seluas langit dan bumi?” Kata Umair seolah tak percaya.
Ketika Nabi SAW mengiyakan, Umair berkata, “Bakhin! Bakhin!”
Mendengar ucapannya itu, Rasulullah saw bersabda, “Wahai Umair, apa yang membuatmu berkata : Bakhin, bakhin?”
“Tidak lain, ya Rasulullah, kecuali aku ingin menjadi salah satu penghuninya.”
“Engkau adalah salah satu dari penguni surga!” Nabi saw menandaskan.

Mendengar sabda Nabi saw mata Umair jadi berbinar-binar penuh kegembiraan. Ia yang telah mengambil kurma dari wadahnya untuk dimakan, tiba-tiba mengembalikannya, dan berkata, “Untuk hidup hingga menghabiskan kurma-kurma ini rasanya terlalu lama.” dibuangnyalah sisa kurma itu dan Umair segera terjun ke medan pertempuran. Ia berperang dengan perkasa memporak-porandakan kaum kafir Quraisy hingga menemui syahidnya.

Diriwayatkan, ada seorang dari Bani Kinanah menemui Muawiyah bin Abi Sufyan. Muawiyah bertanya padanya "Apakah kamu ikut dalam perang Badar?", "Ya, jawabnya. Bila demikian, ceritakan padaku apa yang kau saksikan dalam perang Badar!, pinta Muawiyah. Ia kemudian bercerita, "Kami berada di medan perang namun sepertinya tidak sepenuhnya berada di sana. Pada awalnya, kami tidak yakin akan dapat memenangkan peperangan. Yang ada hanya keraguan dapat menang". Muawiyah tidak sabar. Ia kembali meminta untuk diceritakan apa yang disaksikannya sambil berkata, "Gambarkan kepadaku apa yang kau lihat!", perintah Muawiyah. Ia memulai ceritanya, "Aku melihat Ali bin Abi Thalib sebagai anak muda yang gagah berani, dan sangat kuat. Ia mendobrak pertahanan musuh. Tidak ada yang dapat bertahan di hadapannya kecuali pasti terbunuh. Bila ia memukul sesuatu pasti akan hancur dan mati. Saat itu, aku tidak melihat seseorang yang paling mengorbankan dirinya seperti Ali bin Abi Thalib. Ia menyerang dan maju ke depan. Matanya dengan tajam menyapu bersih musuh yang ada. Ali bagaikan serigala yang siap menerkam mangsanya. Seakan akan ia mempunyai mata lagi di belakang kepalanya. Ia melompat menerkam musuh-musuhnya dengan sangat liar".

Dan pada saat itu Allah menjadikan jumlah pasukan kaum muslimin kelihatan sangat banyak di mata kaum musyrikin yang membuat mereka ketakutan dan menjadikan jumlah kaum musyrikin kelihatan sedikit di mata kaum mukminin agar mereka terus maju bertempur

وَإِذْ يُرِيكُمُوهُمْ إِذِ الْتَقَيْتُمْ فِي أَعْيُنِكُمْ قَلِيلا وَيُقَلِّلُكُمْ فِي أَعْيُنِهِمْ لِيَقْضِيَ اللَّهُ أَمْرًا كَانَ مَفْعُولا

"Dan ketika Allah Menampakkan mereka kepada kamu sekalian, ketika kamu berjumpa dengan mereka berjumlah sedikit pada penglihatan matamu dan kamu ditampakkan-Nya berjumlah banyak pada penglihatan mata mereka, karena Allah hendak melakukan suatu urusan yang mesti dilaksanakan". (QS Al-Anfaal  44)

"Sesungguhnya telah ada tanda bagi kamu pada dua golongan yang telah bertemu (bertempur). Segolongan berperang di jalan Allah dan (segolongan) yang lain kafir yang dengan mata kepala melihat (seakan-akan) orang-orang muslimin dua kali jumlah mereka. Allah menguatkan dengan bantuan-Nya siapa yang dikehendaki-Nya. Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat pelajaran bagi orang-orang yang mempunyai mata hati" ( Ali Imran 13)

Ibnu Mas’ud radhiallahu ‘anhu berkata : “Sampai-sampai aku berkata kepada seseorang di sampingku : “Apakah engkau melihat jumlah pasukan Quraisy 70 orang?”, maka ia berkata ; “Aku melihat jumlah mereka 100”, padahal jumlah mereka sekitar 1000 orang.

Allah memasukan rasa takut dalam hati musyrikin

سَأُلْقِي فِي قُلُوبِ الَّذِينَ كَفَرُوا الرُّعْبَ

“Akan aku masukan rasa ketakutan ke dalam hati orang-orang kafir” (QS Al-Anfaal : 12)

Dan para malaikat menegarkan kaum mukminin

إِذْ يُوحِي رَبُّكَ إِلَى الْمَلائِكَةِ أَنِّي مَعَكُمْ فَثَبِّتُوا الَّذِينَ آمَنُوا سَأُلْقِي فِي قُلُوبِ الَّذِينَ كَفَرُوا الرُّعْبَ فَاضْرِبُوا فَوْقَ الأعْنَاقِ وَاضْرِبُوا مِنْهُمْ كُلَّ بَنَانٍ (١٢)

“(ingatlah), ketika Tuhanmu mewahyukan kepada Para Malaikat: “Sesungguhnya aku bersama kamu, Maka teguhkan (pendirian) orang-orang yang telah beriman”. (QS Al-Anfaal : 12)

Jibril ‘alaihis salam turun ikut dalam peperangan, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda ;

هَذَا جِبْرِيْلُ آخِذٌ بِرَأْسِ فَرَسِهِ عَلَيْهِ أَدَاةُ الْحَرْبِ

 “Ini adalah Jibril sedang memegang kepala kudanya, dan ia membawa peralatan perang” (HR Al-Bukhari no 3995)

Dan seribu malaikat ikut berperang bersama Jibril, mereka turun dari langit ketiga, dan Allah mengabarkan kaum mukminin tentang ikut serta para malaikat dalam peperangan sebagai kabar gembira bagi mereka dan untuk menenangkan hati mereka. Allah berfirman:

وَمَا جَعَلَهُ اللَّهُ إِلا بُشْرَى وَلِتَطْمَئِنَّ بِهِ قُلُوبُكُمْ وَمَا النَّصْرُ إِلا مِنْ عِنْدِ اللَّهِ إِنَّ اللَّهَ عَزِيزٌ حَكِيمٌ (١٠)

"Dan Allah tidak menjadikannya (mengirim bala bantuan itu), melainkan sebagai kabar gembira dan agar hatimu menjadi tenteram karenanya. dan kemenangan itu hanyalah dari sisi Allah. Sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana. (QS Al-Anfaal : 10)

Ibnu Abbas radhiallahu ‘anhumaa berkata ;

بَيْنَمَا رَجُلٌ مِنَ الْمُسْلِمِينَ يَوْمَئِذٍ يَشْتَدُّ فِي إِثْرِ رَجُلٍ مِنَ الْمُشْرِكِينَ أَمَامَهُ، إِذْ سَمِعَ ضَرْبَةً بِالسَّوْطِ فَوْقَهُ، وَصَوْتُ الْفَارِسِ يَقُولُ: أَقْدِمْ حَيْزُومُ. إِذْ نَظَرَ إِلَى الْمُشْرِكِ أَمَامَهُ خَرَّ مُسْتَلْقِيًا، فَنَظَرَ إِلَيْهِ فَإِذَا هُوَ قَدْ خُطِمَ أَنْفُهُ وَشُقَّ وَجْهُهُ كَضَرْبَةِ السَّوْطِ، فَاخْضَرَّ ذَلِكَ أَجْمَعُ، فَجَاءَ الْأَنْصَارِيُّ، فَحَدَّثَ رَسُولَ اللَّهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – فَقَالَ: (صَدَقْتَ، ذَلِكَ مِنْ مَدَدِ السَّمَاءِ الثَّالِثَةِ) فَقَتَلُوا يَوْمَئِذٍ سَبْعِينَ وَأَسَرُوا سَبْعِينَ

“Tatkala seseorang dari kaum muslimin pada hari tersebut (perang Badr) sungguh sedang cepat mengikuti seseorang dari musyrikin di hadapannya, tiba-tiba ia mendengar suara pukulan cemeti di atas si musyrik dan suara prajurit berkuda yang berkata : “Majulah Haizuum (Haizum nama kuda malaikat tersebut)”, lalu ia melihat ke si musyrik di hadapannya telah jatuh terkapar di atas pundaknya, lalu ia melihat kepadanya ternyata si musyrik telah terluka hidungnya dan robek wajahnya berbekas menjadi seperti tempat cambuk, maka wajahnya hijau (hitam) seluruhnya. Maka ia (anshori) tersebut datang dan mengabarkan kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam maka Nabi berkata : “Engkau benar, itu adalah pasukan pertolongan dari langit ketiga”. Maka kaum muslimin pada hari tersebut membunuh 70 orang dan menawan 70 orang” (HR Muslim no 1763)

Sahl radhiallahu ‘anhu berkata :

لَقَدْ رَأَيْتُنَا يَوْمَ بَدْرٍ، وَإِنَّ أَحَدَنَا يُشِيرُ بِسَيْفِهِ إِلَى رَأْسِ الْمُشْرِكِ فَيَقَعُ رَأْسُهُ عَنْ جَسَدِهِ قَبْلَ أَنْ يَصِلَ إِلَيْهِ

“Ketika perang Badr aku melihat salah seorang dari kami mengarahkan pedangnya ke kepala seorang musyrik maka putuslah kepala musyrik tersebut dari tubuhnya sebelum pedangnya mengenainya” (HR Al-Hakim no 5736)

Seorang tentara kafir mengatakan, "Demi Tuhan, yang memukul kami bukanlah manusia. Kami merasa ada yang memukul, tetapi kami tidak tahu dari mana datangnya. Yang kami tahu, tibda-tiba ada kepala terpenggal dan terpisah dari badannya".

Allah berfirman

فَلَمْ تَقْتُلُوهُمْ وَلَكِنَّ اللَّهَ قَتَلَهُمْ وَمَا رَمَيْتَ إِذْ رَمَيْتَ وَلَكِنَّ اللَّهَ رَمَى

"Maka (yang sebenarnya) bukan kamu yang membunuh mereka, akan tetapi Allahlah yang membunuh mereka, dan bukan kamu yang melempar ketika kamu melempar, tetapi Allah-lah yang melempar." (QS Al-Anfaal  17)

Berbagai keajaiban terjadi di perang Badar. Ukasyah bin Muhshin bin Hartsan al Asadi, sekutu Bani Abdu Syam bin Abdu Manaf, bertempur pada perang Badar hingga pedang yang digenggamnya patah. Rasulullah SAW menghampirinya dan mengganti pedangnya yang patah dengan sepotong ranting kayu. Namun, setelah Rasulullah saw menggerakkan ranting kayu itu tiba-tiba benda itu berubah menjadi sebilah pedang panjang, kuat, dan putih berkilau. Ukasyah pun bertempur dengan mukjizat pedang pemberian Rasulullah, hingga kaum muslim memperoleh kemenangan. Dikutip dari buku The Great Story of Muhammad, pedang tersebut diberi nama al Aun yang terus mendampingi Ukasyah dalam setiap peperangan bersama Rasulullah hingga dia gugur di medan pertempuran memerangi kaum murtad pada perang Yamamah di jaman Khalifah Abu Bakar.

Suatu saat Abdurrahman sedang berhenti di tengah barisan pasukan Muslimin. Tiba-tiba, dia dihampiri seorang pemuda dari kalangan Anshar, Namanya, Mu’adz bin Afra, dari suku Aws.
“Wahai paman, apakah paman mengenal Abu Jahal?” tanya pemuda usia 16 tahun itu.
“Ya, kenal. Tetapi, ada keperluan apa kamu dengannya?”
“Saya mendengar Abu Jahal selalu memaki-maki Rasulullah SAW selama di Makkah. Demi Allah Yang menguasai diriku. Kalau saya melihatnya (Abu Jahal), tidak akan berpisah sebelum salah satu dari kami mati terlebih dahulu!” tegas Mu’adz.
Abdurrahman bin Auf terkesan dengan kata-kata pemuda itu. Tidak lama berselang, datang pemuda lainnya yang juga dari Anshar. Dia merupakan adik dari Mu’adz, yakni Mu’awwidz bin Afra.
“Wahai paman, apakah paman tahu Abu Jahal?” tanya Mu’awwidz kepada Abdurrahman.
“Ya, dan apa keperluanmu dengannya?”
“Saya mendengar Abu Jahal selalu bersikap keras terhadap Rasulullah SAW di Makkah. Demi Allah, saya ingin membunuhnya,” jawab sang adik usia 15 tahun itu.
Sekonyong-konyong, Abdurrahman melihat sosok Abu Jahal di kejauhan. Dia dapat memastikan itulah sang musuh Allah, walaupun Abu Jahal saat itu tampil dengan balutan baju besi di seluruh tubuhnya kecuali mata dan sebagian wajah.
“Itu Abu Jahal!” seru Abdurrahman bin Auf sambil menunjuk orang yang dimaksud.
Seketika, dua pemuda tadi melesat maju, bagaikan anak panah yang lepas dari busurnya. Padahal, Abu Jahal sedang di atas kuda dan di depannya ada 10 lapis pasukan dengan persenjataan lengkap.
Dengan cekatan, Mu’awwidz menerjang pasukan musyrikin itu untuk dapat menebas Abu Jahal. Sebelum akhirnya gugur, dia dapat melukai paha Abu Jahal dengan sayatan yang dalam dan parah.
Adapun kakaknya, Mu’adz bin Afra, juga berhasil menyayat dalam paha Abu Jahal. Namun, tebasan pedang ‘Ikrimah bin Abu Jahal (waktu itu belum masuk Islam) nyaris memutus tangan kiri Mu’adz. Untuk sementara, dia pun keluar dari deru pertempuran.
Pemuda itu lalu menginjak sisa tangan kirinya dan membuangnya, karena merasa tangan itu mengganggu konsentrasinya mengejar Abu Jahal. Akhirnya, Mu’adz syahid di medan pertempuran, mengikuti adiknya yang lebih dahulu gugur.
Bagaimanapun, keduanya amat berjasa. Abu Jahal tidak bisa bertahan lama akibat luka parah pada pahanya; luka yang ditinggalkan kakak-beradik yang telah syahid itu.
Meski di ambang maut, Abu Jahal tetap saja menghina kaum Muslimin. Menjelang akhir Perang Badar, Abdullah bin Mas’ud berhasil melumpuhkan Abu Jahal dan memenggal kepala pemuka Quraisy itu.

Setelah menyadari kekalahannya dengan tewasnya pemimpin utama mereka yaitu Abu Jahal, maka pasukan Abu Jahal mulai panik dan melarikan diri. Mereka meninggalkan sekitar 50 pemimpinnya termasuk Abu Jahal dan Ummayah yang tewas di medan pertempuran.

Dalam kemenangan, kaum muslimin mulai membunuh pasukan lawan yang tertinggal dengan gaya khas Arab, sebanyak 70 kafir Qurays tewas dan 14 kaum muslim syahid dalam peperangan tersebut.
Orang orang yang dikutuk oleh Rasulullah saw tewas dalam peperangan tersebut, yaitu ketika Rasulullah SAW dilempari kotoran oleh Abu Jahal dan komplotannya dan Beliau SAW berdoa, “Ya Allah, kepada Engkaulah aku menyerahkan Abu Jahal bin Hisyam, Utbah bin Rabi’ah, Syaibah bin Rabi’ah, Walid bin Utbah, Uqbah bin Abi Mua’ith, Umayyah bin Khalaf, dan Amarah bin Walid.”

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُونُوا قَوَّامِينَ لِلَّهِ شُهَدَاءَ بِالْقِسْطِ ۖ وَلَا يَجْرِمَنَّكُمْ شَنَآنُ قَوْمٍ عَلَىٰ أَلَّا تَعْدِلُوا ۚ اعْدِلُوا هُوَ أَقْرَبُ لِلتَّقْوَىٰ ۖ وَاتَّقُوا اللَّهَ ۚ إِنَّ اللَّهَ خَبِيرٌ بِمَا تَعْمَلُونَ

"Hai orang-orang yang beriman hendaklah kamu jadi orang-orang yang selalu menegakkan (kebenaran) karena Allah, menjadi saksi dengan adil. Dan janganlah sekali-kali kebencianmu terhadap sesuatu kaum, mendorong kamu untuk berlaku tidak adil. Berlaku adillah, karena adil itu lebih dekat kepada takwa. Dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan." (QS Al Maidah 8)

Berdasarkan wahyu yang turun, Nabi segera menghentikan perbuatan itu dan meminta para tawanan diperlakukan dengan baik. Nabi juga memerintahkan kaum Muslimin berhenti berebut harta rampasan perang yang terdiri dari 150 unta, 10 kuda, dan pelbagai perlengkapan perang, semua harus dibagi secara merata.

Umayyah terbunuh, Ibnu Ishaq menyebutkan lewat dua jalur, dari Abdurrahman bin Auf radhiyallahu ‘anhu yang berkata:

“Umayyah bin Khalaf adalah temanku sewaktu di Mekah, dulu aku bernama Abdu Amr. Sewaktu masuk Islam aku bernama (Abdurrahman). Dia menemuiku saat kami di Mekah katanya, ‘Wahai Abdu Amr apakah kau membenci nama yang telah diberikan ayahmu?’

Aku menjawab, ‘Ya.’

Umayyah berkata, ‘Sesungguhnya aku tidak mengetahui Ar-Rahman maka buatlah sebutan yang bisa kupanggil dengannya.’

Maka kukatakan, ‘Wahai Abu Ali, buatlah apa yang kau suka.’

Dia berkata, ‘Engkau Abdul Ilah.’

Aku menjawab, ‘Ya.’

Apabila aku melewatinya dia berkata, ‘Wahai Abdul Ilah.’ Kudatangi dan aku berbincang-bincang dengannya. Tatkala perang Badr, aku melewatinya sedang dia dalam keadaan berdiri bersama anaknya Ali, sedangkan aku mengenakan pakaian besi hasil rampasan. Dia berkata, ‘Wahai Abdul Ilah apakah aku mendapat bagian dari perlindunganmu? Aku lebih baik bagimu daripada baju besi yang kau kenakan ini.’

Aku menjawab, ‘Tentu, Ya Allah,’ lantas kulepaskan baju besi itu dari tanganku. Aku mengambil tangannya dan tangan anaknya.

Sedang ia berkata, ‘Tidak pernah aku melihat seperti hari ini. Tidakkah kalian membutuhkan susu –maksudnya makanan-, kemudian aku keluarkan berjalan kaki bersama keduanya.”

Abdurrahman berkata, “Demi Allah, saat aku menggandeng keduanya, tiba-tiba Bilal melihatku bersamanya, dia berkata, ‘Pemimpin orang kafir, Umayyah bin Khalaf aku tidak akan selamat jika dia selamat.’

Kemudian dia berteriak sekencang-kencengnya, ‘Wahai kaum Anshar, kepala orang kafir Umayyah bin Khalaf, aku tidak akan selamat jika dia selamat, maka kepunglah ia sebagaimana gelang melingkari pangkal tangan.’ Dan kaum Ansor pun menyahut "Para pasukan muslim dari pimpinan Anshar memenuhi seruan orang yang memanggil, “Allahu Akbar, Allahu Akbar.” Lima kali dalam sehari mereka berkata, “Janganlah kau bersedih, wahai Bilal.” Kemudian mereka menyergap Umayyah dan anaknya Ali dengan pedang-pedang mereka, dan yang terdepan adalah Khabib bin Isaf al-Anshari, dia menebas dengan pedangnya. Kemudian aku membelanya, sementara salah seorang dari mereka menghunus pedang lantas ia menyabet kaki anaknya hingga terjatuh.

Umayyah berteriak ketakutan, tidak pernah kudengar teriakan seperti itu, maka kukatakan, ‘Selamatkanlah dirimu sendiri dan tidak ada yang bisa menyelamatkanmu, demi Allah aku tidak bisa memberikan manfaat sedikitpun untukmu, kemudian mereka menghabisi keduanya dengan pedang mereka hingga tamat riwayat keduanya.”

Abdurrahman bin Auf radhiyallahu ‘anhu berkata, “Semoga Allah merahmati Bilal, telah lenyap baju besiku dan dia mengejutkanku dengan (tewasnya) tawananku.”

Sebagian referensi mengisyaratkan bahwa Abu Bakar ash-Shiddiq radhiyallahu ‘anhu mengucapkan selamat kepada Bilal radhiyallahu ‘anhu atas terbunuhnya pimpinan orang kafir dan penyenggah kesesatan Umayyah bin Khalaf, dengan bait-bait syair di antaranya: "Selamat, semoga Allah menambah keutamaan bagimu. Wahai Bilal, engkau telah mampu membalas dendammu. Maka, mundur dan rasa takut tidak akan kau dapati rerumputan yang panjang, menguburmu di pagi hari."

“Seusai perang, Rasulullah justru memperlakukan kaum musyrik dengan baik untuk memulihkan harga diri mereka yang hancur disebabkan kekalahan Perang Badar," tulis Muhammad Fethulleh Gulen dalam Cahaya Abadi Muhammad (2012).

Semua mayat pasukan musyrik yang terbunuh dalam pertempuran ini, termasuk tokoh mereka, dimasukkan ke dalam sebuah lubang sumur mati yang tidak ber air lagi di Badar. Rasulullah SAW. berdiri di bibir sumur tersebut, menghadap ke arah mayat-mayat musuh yang bergelimpangan seraya berseru, memanggil nama mereka berikut orangtua masing-masing, ”Wahai Fulan, wahai Fulan ibn Fulan. Bukankah akan lebih menyenangkan jika kalian patuh kepada Allah dan Rasul-Nya? Sesungguhnya sekarang kami telah benar-benar menemukan apa yang dijanjikan Tuhan kami kepada kami. Sekarang sudahkah kalian menemukan apa yang dijanjikan Tuhan kalian?” Tiba-tiba Umar menukas, ”Wahai Rasulullah, mengapa engkau berbicara dengan tubuh yang sudah tidak bernyawa lagi?” Rasulullah SAW. menjawab, ”Demi Dzat yang nyawa Muhammad berada di tangan-Nya, sungguh sebenarnya kalian tidak lebih jelas mendengar apa yang kukatakan ini dibandingkan mereka” (HR Al-Bukhari dan Muslim).

Ketika kaum muslim sedang beristirahat di salah satu kemah, mereka memperbincangkan tentang peperangan yang baru saja mereka alami, sehingga mereka memperbincangkan Qatzman, yang pada saat itu tengah tergolek lemah karena menderita luka yang sangat parah di kemahnya, di medan perang aksi Qatzman dilihat oleh para sahabat, mereka memuji keberanian Qatzman, padahal pertempuran terjadi dengan sangat sengit banyak korban berjatuhan dari pihak Rasul maupun dari pihak lawan namun tidak menyurutkan keberanian Qatzman, hampir tidak ada musuh yang lolos dari pedangnya.

Ketika sahabat sedang membicarakan dan mengutarakan kekagumannya pada Qatzman, Rasulullah saw mendengarnya dan berkata “Sesungguhnya, dia termasuk penghuni neraka” mendengar perkataan Rasulullah saw tersebut maka seorang sahabat bertanya tanya bagaimana mungkin seseorang yang sangat pemberani dan mati matian berperang ternyata adalah seorang penghuni neraka.

Salah satu sahabat yang bernama Aktsam ia meminta ijin kepada Rasulullah saw untuk mengikuti gerak gerik Qatzman. Maka pergilah Aktsam mengintai Qatzman, ia melihat Qatzman yang sedang terluka pergi keluar dari tendanya sedang kan fisiknya terlihat sangat lelah dan penuh luka. Qatzman berjalan tertatih tatih dan sangat pelan malah kadang kadang ia berhenti, rintihannya juga terdengar jelas “Alangkah baiknya aku mati saja, aku pasti tidak akan merasakan semua rasa sakit ini”, ia terus saja merintih dan mengeluh.

Pada suatu tempat yang sepi Qatzman berhenti dan meletakkan pedangnya ditanah kemudian dia duduk perlahan lalu seketika saja ia menusukkan pedangnya ke dadanya sendiri. Aktsam hanya sempat berteriak dan tidak sempat mencegahnya. Aktsam menceritakan kejadian tragis yang baru saja terjadi kepada Rasulullah saw.

Sahabat sahabat yang mendengar penjelasan Aktsam menyesali perbuatan Qatzman dan membenarkan perkataan Rasulullah saw, setelah keributan reda Rasulullah saw menjelaskan pertemuan Qatzman dan Rasulullah sebelum berperang, Qatzman mengeluhkan sakit yang ia derita, beberapa lama sebelumnya Qatzman juga mengutarakan niatnya berperang “Demi Allah, aku berperang hanya karena kehormatan kaumku dan kota Madinah. Aku tidak ingin kaumku dihancurkan oleh kaum musyrik, Jika bukan karena itu sungguh sampai kapan pun aku tak mau berperang”

Sahabat mendapatkan pelajaran berharga hari itu bahwa niat yang tulus karena Allah lah yang menentukan bernilainya sebuah amal. Sesederhana amalan apapun jika diniatkan karena Allah semata pasti akan mendapatkan pahala yang Allah janjikan.

Pada suatu saat, Rasulullah SAW. bermusyawarah dengan para sahabat untuk membahas ihwal para tawanan perang. Pada saat itu, Abu Bakar ra. mengusulkan agar tawanan dapat ditebus dengan diyat demi memperkuat perekonomian umat lslam. Adapun urusan mereka setelah bebas nanti, sepenuhnya diserahkan kepada Allah SWT. dengan harapan semoga Dia berkenan memberi hidayah kepada mereka. Sementara itu Umar ibn Khaththab ra. mengusulkan agar semua tawanan perang Badar dijatuhi hukuman mati, karena mereka semua sangat kejam terhadap kaum muslim adalah antek-antek kekufuran yang harus ditumpas habis. Tetapi, Rasulullah SAW. lebih cenderung menerima usulan Abu Bakar ra. Menurut beliau, usulan tersebut lebih memenuhi rasa kasih sayang dengan memberi mereka peluang untuk ditebus dengan uang. Akhimya, Rasulullah SAW. menetapkan usulan itu sebagai keputusan.

Namun, beberapa hari setelah Rasulullah saw mengeluarkan keputusan, tiba-tiba turunlah ayat Al-Qur‘an yang justru mendukung pendapat Umar lbn Khaththab ra. Allah SWT. berfirman,

“Tidaklah patut bagi seorang Nabi untuk mempunyai tawanan sebelum la dapat melumpuhkan musuhnya di muka bumi. Kamu menghendaki harta benda duniawi, sedangkan Allah menghendaki (pahala) akhirat (untukmu). Dan Allah Mahaperkasa lagi Mahabijaksana,” (QS Al-Anfal; 67). 

Para tawanan perang diperlakukan dengan bermartabat dan hormat. Sebuah insiden yang menunjukkan hal ini disebutkan dalam hadits Sahih Al-Bukhari:

Jâbir menceritakan, “Setelah Perang Badar, para tawanan perang dibawa. Di antara mereka adalah  al-Abbas (Abbas bin Abdul Muththalib). Dia tidak memakai baju, jadi Nabi (damai dan berkah besertanya) mencarikan baju untuknya. Ternyata baju Abdullah bin Ubay bin Salul adalah ukuran yang tepat, jadi Nabi memberikannya kepada al-Abbas untuk dipakai dan memberi kompensasi kepada Abdullah dengan bajunya sendiri.”

Beberapa hari kemudian, beberapa tahanan berkata: “Diberkatilah orang-orang Madinah, mereka membuat kami naik tunggangan sementara mereka berjalan, mereka memberi kami gandum dan roti untuk dimakan ketika hanya sedikit (dari kaum Muslim) yang harus puas dengan kurma.” Para tahanan kaya membayar tebusan dan dibebaskan. Yang lain diminta untuk menebus kebebasan mereka sendiri dengan mengajarkan 10 orang Muslim membaca dan menulis."

أعوذ بالله من الشيطان الرجيم وَلَقَدْ نَصَرَكُمُ اللَّهُ بِبَدْرٍ وَأَنْتُمْ أَذِلَّةٌ فَاتَّقُوا اللَّهَ لَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ

“Sungguh Allah telah menolong kamu dalam peperangan Badar, padahal kamu adalah (ketika itu) orang-orang yang lemah, karena itu bertakwalah kepada Allah, supaya kamu mensyukuri-Nya” (QS Ali ‘Imron : 123)

Kemenangan kaum muslimin pada akhirnya berdampak luar biasa terhadap umat Islam. Kemenangan ini meningkatkan kepercayaan diri dan keimanan mereka mengalahkan musuh. Selain itu, umat Islam juga dipandang sebagai kekuatan baru yang patut diperhitungkan. Kemenangan ini pun memperkuat otoritas Muhammad sebagai pemimpin dari pelbagai golongan masyarakat Madinah yang sebelumnya sering bertikai.