Abu Jahal

Nama aslinya Amr bin Hisyam. Julukannya adalah "Abu al-Hakam" (ابوالحكم), ("Bapak kebijaksanaan") karena ia adalah seorang pria yang terkenal akan kebijaksanaan dan kecerdasannya sehingga para tetua Quraisy sering meminta bantuannya dalam menghadapi masalah. Bahkan pada usia tiga puluh tahun, ia diundang untuk menghadiri majelis khusus yang diadakan di Dār'un Nadwa, kediaman milik Hakim bin Hazm. Padahal, usia minimal yang diperlukan jika ingin hadir pada pertemuan tersebut adalah empat puluh tahun Sejak sama-sama remaja Abu Jahal senantiasa mengolok olok Muhammad saw. Pernah juga keduanya berkelahi, Abu Jahal kalah dan terkilir lututnya. Ia sangat dendam kepada Muhammad saw.

Abu Jahal pernah melamar Khadijah binti Khuwailid, tetapi Khadijah menolak lamaran tersebut. Beberapa bulan kemudian, Muhammad saw meminang Khadijah dan langsung diterima. Hati Abu Jahal semakin dengki kepada Muhammad saw. Setelah orang-orang lemah masuk Islam, Abu Jahal memproklamirkan dirinya sebagai preman kota Makkah. Orang-orang dhuafa yang masuk Islam semua mendapat penyiksaan pedih dari Abu Jahal. Yasir dan istrinya Sumayyah mendapat siksa sampai syahid di tangan Abu Jahal.

Kemudian Abu Jahal dan anak buahnya selalu menganggu orang-orang yang shalat. Mereka sering melemparkan orang-orang shalat dnegan tahi unta, kotoran kambing, dan sebagainya. Mereka ramai dan sering mengejek orang-orang Islam dan Muhammad SAW, namun demikian, nabi dan pengikutnya tetap bersabar dan tidak melawan orang jahil yang berkelompok itu.

Suatu hari, Abu Jahal sendiri yang ingin membinasakan Nabi Muhammad SAW. Ketika nabi sedang sujud, Abu Jahal muncul mengendap-ngendap dengan batu besar di tangannya. Ia ingin menghantam kepala nabi agar pecah. Tiba-tiba ia melihat seekor unta raksasa yang ingin menelannya. Abu Jahal ketakutan sambil melepaskan batu dan lari terbirit-birit, sampai terkencing dan terberak dalam celana. Sampai di rumah ia pingsan beberapa saat.

Dasar orang jahil, Abu Jahal belum merasa jera, ia terus merongrong Muhammad, dan dia pula yang merancang siasat agar Muhammad dibunuh atau diusir dari Makkah. Ketika Muhammad telah hijrah, Abu Jahal berpesta pora. Ia merasa dirinya sudah menang dan merasa cukup. Allah berfirman tentang Abu Jahal ini, “Sekali-kali tidak! Sungguh, manusia itu benar-benar melampaui batas. Karena dia melihat dirinya serba cukup.” (QS. Al-‘Alaq : 6 – 7).

Nabi Muhammad SAW memiliki kebiasaan untuk mengadakan majelis pada malam hari di rumahnya atau salah seorang sahabat. Pada suatu malam, Rasulullah SAW sedang membaca Alquran di rumah beliau SAW, Abu Jahal keluar secara diam-diam mengendap ngendap ke rumah ponakannya, Rasulullah saw. Dia mencuri dengar bacaan Al Qur’an keponakannya itu, dan tanpa terasa terangnya subuh mulai menggulung gelapnya malam. Merasa kuatir tindakannya diketahui orang lain, Abu Jahal pulang dengan langkah yang hati-hati. Akan tetapi takdir Allah mempertemukan dia di perjalanan dengan dua temannya, yaitu Abu Sufyan dan Al Akhnas bin Syuraiq.

Sungguh mengagetkan sekaligus menggelikan, ternyata mereka baru saja melakukan hal yang sama, mencuri dengar bacaan Al Qur’an Rasulullah shallallahu ‘alayhi wasallam. Mereka bertiga pun tak dapat lagi menyembunyikan rasa malu mereka. Akhirnya mereka sepakat untuk tidak lagi mengulangi perbuatan mereka.

Namun nyatanya, malam kedua mereka kembali lagi. Mereka mengingkari janji mereka lagi. Dan Allah pun mempertemukan mereka kembali di jalan, semakin malulah mereka. Lalu mereka membuat janji lagi untuk tidak mengulanginya. Tapi apa yang terjadi?

Di malam ketiga, mereka tetap ingkar janji, mereka datang kembali untuk mencuri dengar bacaan Al Qur’an Rasulullah shallallahu ‘alayhi wasallam di rumahnya. Dan, mereka pun berpapasan lagi untuk yang ketiga kalinya. Mereka mulai saling menyalahkan satu sama lain. Akhirnya, berjanji lagi, dan lagi. Masing-masing mereka berjanji akan mengakhiri perbuatan mereka itu.

Kejadian itu membuat Akhnas bin Syuraiq bertanya-tanya, kenapa bisa terjadi seperti itu? Akhnas bin Syuraiq tidak bisa menahan dirinya untuk meminta pendapat tentang apa yang dirasakan oleh kedua temannya. Ia pun pergi ke rumah Abu Sufyan.

“Ceritakan padaku wahai Abu Hanzhalah, apa yang kamu rasakan saat kamu mendengarnya dari Muhammad?”, tanyanya.

Abu Sufyan menjawab, “Wahai Abu Tsa’labah, demi Allah, aku telah mendengar sesuatu yang aku tahu maknanya. Dan aku juga mendengar seuatu yang aku tidak tahu maknanya”. Akhnas menimpali, “Dan aku, demi Allah, juga mersakan hal yang sama”!

Merasa mendapat Akhnas kesan yang sama dari Abu Sufyan, Akhnas meneruskan langkahnya ke kediaman Abu Jahal.

“Wahai Abul Hakam, apa yang kamu rasakan saat mendengar dari Muhammad?”, tanyanya.

Abu Jahal menjawab, “Apa yang aku dengar?”. Dengan gaya diplomatis dan rasa gengsi yang tinggi ia berkata, “Kita telah bersaing dengan keturunan Abdi Manaf dalam kemulian. Mereka memberi makan orang, kita pun memberi makan orang. Mereka menolong orang, kita juga menolong orang, mereka memberi kita juga memberi, sampai kita kalah seperti halnya tadi malam. Seolah kita adalah kuda yang tergadaikan”.

Akhnas berkata, “Aku aku tak perlu basa-basimu. Sekarang jelas, telah datang seorang Nabi dari bangsa kita, yang telah diberikan wahyu kepadanya. Kapan kita menyambut kesempatan yang emas ini?”. Dengan sombongnya Abu Jahal berkata, “Demi Allah kita tidak akan mengimaninya dan membenarkannya!”

Demikianlah Abu Jahal yang tahu akan kebenaran, akan tetapi kesombongannya membumbung tinggi bagai gunung yang membuatnya tidak mau mengakui kebenaran. Tapi, ada yang menarik dari kisah di atas. Abu Jahal menikmati syahdunya Al Qur’an hingga subuh, lantas kenapa kita baru sekejap sudah sudah ingin tidur?

Abu Jahal sendiri pernah membuat pengakuan akan kejujuran Rasulullah SAW. Dia sebenarnya tidak menyangsikan wahyu yang turun kepada Rasulullah SAW.

Abu Jahal pernah ditanya keponakannya, Miswar bin Makhramah mengenai sosok Rasulullah SAW. Dia mengatakan Muhammad adalah orang yang sangat jujur, tidak pernah berdusta, sehingga dijuluki Al Amin.

Miswar lantas bertanya lagi mengapa pamannya itu tidak mau mengikuti ajaran Rasulullah SAW.

"Wahai anak saudariku, kami dan Bani Hasyim saling memperebutkan kehormatan. Mereka memberi makan, kami pun memberi makan. Mereka memberikan minum, kami pun memberikan minum. Mereka membayar orang untuk bekerja, kami pun sama, Sehingga ketika kami duduk di atas kendaraan kami (karena persaingan), kami seperti dua ekor kuda taruhan, maka mereka (Bani Hasyim) berkata, 'Di antara kami ada seorang nabi'. Maka kapan kah kami mendapatkan hal tersebut?" lanjut Abu Jahal.

Pertanyaan senada juga dilontarkan oleh Al Akhnas bin Syuraiq kepada Abu Jahal tepat di hari terjadinya Perang Badar. Abu Jahal pun menjawab Muhammad adalah seorang yang jujur dan tidak pernah berbohong.

"Akan tetapi, jika Bani Qushay sudah memegang bendera, menjaga Kakbah, memberi minum orang haji, dan memiliki kenabian, maka apa lagi yang tersisa untuk Quraisy lainnya?" kata Abu Jahal.

Kebencian dan permusuhan Abu Jahal pada dasarnya bukanlah karena menolak ajaran baru yang disampaikan Rasulullah SAW. Namun lebih karena ketaklidan atau fanatisme golongan.

Abu Jahal pernah berkata, “Sesungguhnya kami tidak mendustakanmu, tetapi kami mendustakan apa yang kamu bawa.” (HR Tirmidzi).

Pernyataan Abu Jahal ini lalu diabadikan di dalam Alquran:

“Mereka sebenarnya bukan mendustakanmu, akan tetapi orang-orang yang zalim itu mengingkari ayat-ayat Allah.” (Al An’am 33).

Suatu ketika Abu Jahal mengumpulkan orang-orang kafir untuk menjebak Rasulullah dalam lubang perangkap. Mereka menggali lubang di depan pintu rumah Abu Jahal. Bagian atasnya disamarkan dengan rumput dan ditaburi pasir tipis. Kepada budaknya diperintahkan agar selalu mengawasi lubang tersebut. Dia berpesan bila Muhammad terjerembab ke lubang itu, mereka harus segera menimbunnya dengan pasir.

Beberapa saat kemudian Abu Jahal dikabarkan sakit. Dengan sifat mulianya, Rasulullah saw berniat menjenguknya. Namun begitu mendekati rumah tersebut, malaikat Jibril memberitahu bahwa Abu Jahal hanya berpura-pura sakit dengan maksud untuk mencelakakan Rasulullah. Maka Rasulullah mengurungkan niat, dan beliau kembali ke rumah.

Rupanya Abu Jahal mengetahui kedatangan Rasul dari bilik rumahnya. Ketika melihat Rasul hendak kembali, Abu Jahal segera melompat dari tempat pembaringannya dan berlari. Saat itulah dia lupa dengan jebakan yang telah dibuatnya. Dia masuk ke lubang yang cukup dalam itu.

Para pengikutnya segera menolong dengan mengulurkan tali ke dalam lubang tersebut. Namun, tali tersebut terlalu pendek, sehingga tak dapat digapai oleh Abu Jahal. Maka tali disambung lagi. Tetapi tetap saja, Abu Jahal tak dapat menjangkaunya. Begitu tali disambung, Abu Jahal semakin dalam terperosok ke lubang itu. Ini terus berulang.

Karena rasa takut yang sangat, Abu Jahal berseru dari dalam lubang, ”Hai kawan-kawan, capat kalian susul Muhammad, dan suruh ia datang ke mari! Aku yakin tidak ada yang bisa menyelamatkanku selain dia.”

Mereka segera melaksanakan perintah Abu Jahal, dan berhasil mengajak Rasulullah ke tempat tersebut. Rasulullah berdiri di bibir lubang dan berkata, ”Abu Jahal, pamanku, apabila aku berhasil menyelamatkan paman dari lubang ini, apakah paman bersedia beriman kepada Allah, dan Rasul-Nya?”

Abu Jahal segera menyahut, ”Ya, aku bersedia!” Maka Rasul pun mengulurkan tangannya ke dalam lubang. Dengan kekuasaan Allah, tanpa perantaraan tali, Rasul dapat memegangi tangan Abu Jahal dan kemudian mengangkatnya keluar.

Setelah berhasil keluar dari dalam lubang itu, dia berkata, ”Muhammad, hebat benar sihirmu.” Dan dia ingkar terhadap janjinya.