Hijrah ke Madinah

Menjelang hijrah tahun ke 10 dari Kenabian Muhamad saw, situasi di Kota Makkah kala itu sangatlah genting bagi kaum Muslim. Rencana kaum Quraisy untuk membunuh Nabi Muhammad SAW pun dimatangkan sedemikian rupa oleh kaum kafir Qurays yang dipimpin langsung oleh Abu Jahal, sebelum akhirnya Allah melalui malaikat Jibril memberitahukan hal itu kepada Rasulullah SAW.

Di tengah kondisi genting di Makkah, Rasulullah meminta para sahabatnya berangsur-angsur hijrah ke Madinah menyusul adanya tindakan kekerasan, penganiayaan, dan pembunuhan terhadap umat Muslim Makkah. Sedangkan yang masih tetap tinggal di Makkah hanyalah Rasulullah, Sayyidina Abu Bakar, dan Sayyidina Ali yang mana ketiganya benar-benar berada dalam bahaya besar.

Sementara itu, para pimpinan kafir Quraisy berkumpul di Daarun Nadwah. Masing-masing mereka mengepalai setiap suku di Makkah yang memusuhi Islam.

Belum sampai di lokasi pertemuan, mereka berpapasan dengan seorang tua yang tampak begitu berwibawa. Padahal, orang tua itu adalah iblis yang telah mengubah wujudnya menjadi manusia.

"Siapa Anda?" tanya seorang pemimpin suku Quraisy.

"Saya sesepuh dari Nejed. Saya mendengar urusan yang membuat kalian mengadakan pertemuan ini sehingga saya pun ingin ikut hadir. Kalian tidak akan rugi mendengarkan nasihat saya.”

Maka itu, para petinggi Quraisy pun membolehkan orang tua itu ikut berdiskusi. Di dalam ruangan remang-remang itu, para manusia dan jin (iblis) itu mulai membahas rencana membunuh Nabi Muhammad SAW.

Seseorang dari mereka mengajukan usul, "Belenggu saja Muhammad dengan tali, lalu tunggu hingga maut menjemputnya. Biarlah ia mampus seperti para penyair sebelumnya–Zuhair dan an-Nabighah–sebab Muhammad tidak lebih seperti penyair!"

Orang tua alias iblis menimpali, "Sungguh, itu bukan usul yang tepat. Muhammad bisa saja mengirimkan informasi kepada sahabat-sahabatnya sehingga mereka bergerak merebut belenggu itu dari tangan kalian, lalu mereka melindungi Muhammad dari gangguan kalian. Kalau sudah begitu, aku khawatir mereka akan mengusir kalian dari negeri ini! Carilah cara lain!”

Seseorang kemudian berkata, “Usir saja Muhammad dari negeri kita agar kita dapat hidup tenang. Sebab, kalau dia sudah keluar, apa yang ia perbuat tidak akan berakibat apa pun untuk kita."

Iblis yang mengaku sesepuh Nejed itu berkata, “Ini pendapat yang tidak bagus. Tidakkah kalian lihat, betapa pandainya ia menarik hati orang-orang dengan perkataannya?! Demi Allah, seandainya kalian melakukan pilihan ini, lalu Muhammad membujuk orang-orang Arab, pasti mereka bersatu di bawah komandonya, lalu Muhammad akan membantai para pemimpin kalian.”

Seketika, Abu Jahal berkata, “Demi Allah, aku akan sampaikan kepada kalian usul yang jitu!"

"Apa itu?" tanya mereka tak sabar.

"Kita ambil dari setiap suku Quraisy seorang pemuda yang terbaik dan paling tangguh. Tiap-tiap pemuda itu membawa pedang, lalu semuanya menikam Muhammad secara bersama-sama. Kalau begitu, darah Muhammad akan terbagi kepada seluruh suku. Kukira, satu marga dari Bani Hasyim itu (marga asalnya Nabi Muhammad --Red) tidak akan sanggup memerangi seluruh Quraisy. Dan kalau mereka menyadari hal itu, pasti mereka mau menerima tebusan, alih-alih perang. Dengan demikian, kita bisa tenang dan terbebas dari gangguan Muhammad!"

Iblis yang pura-pura jadi manusia tersenyum senang mendengar usulan Abu Jahal. Maka sepakatlah para dedengkot musyrikin ini. Mereka lantas bubar setelah sepakat untuk melaksanakan rencana tersebut.

Yang mereka tak ketahui, Malaikat Jibril malam itu juga turun, mendatangi Nabi SAW. Jibril berkata agar Rasulullah SAW tidak tidur di kamar yang biasa beliau tempati.

Jibril lantas memberi tahu kepada beliau tentang makar kaum Quraisy. Rasulullah SAW pun tidak tidur di rumahnya pada malam itu.

Kemudian, turunlah ketetapan dari Allah Ta'ala agar beliau keluar dari Makkah untuk menuju Madinah. Dalam perjalanan hijrah ini, Nabi SAW didampingi Abu Bakar ash-Shiddiq. Sedangkan Ali bin Abi Thalib berada di kamar tidur Nabi SAW untuk menyamar agar orang-orang Quraisy yang hendak menyerbu itu mengira Muhammad SAW masih ada di tempatnya.

Ketika Nabi SAW di Madinah, turunlah firman Allah Ta'ala, surah al-Anfaal ayat 30 berkenaan peristiwa itu. Artinya,

"Dan (ingatlah), ketika orang-orang kafir (Quraisy) memikirkan tipu daya terhadapmu (Muhammad) untuk menangkap dan memenjarakanmu atau membunuhmu, atau mengusirmu. Mereka membuat tipu daya dan Allah menggagalkan tipu daya itu. Allah adalah sebaik-baik pembalas tipu daya."

Namun, sebelum rencana itu berlangsung, Allah melalui malaikat Jibril datang kepada Nabi dan memberitahukan hal yang harus dilakukannya. Pada tengah hari sebelum malam tiba, saat tidak biasanya orang berkunjung, Rasulullah SAW pergi ke rumah Abu Bakar.

Melihat kedatangan Rasul yang begitu tidak biasa, Abu Bakar sudah menangkap maksud kedatangan itu terkait hal yang sangat penting. Seperti diketahui, Rasulullah memang merahasiakan hijrahnya sehingga tak ada satu orang pun yang tahu.

Abu Bakar sendiri juga sebelumnya pernah meminta izin kepada Rasulullah untuk melakukan hijrah, namun Rasul memintanya menangguhkannya terlebih dahulu. Sehingga dalam pertemuan darurat itu, Nabi memberitahukan kepadanya Allah mengizinkan dirinya meninggalkan Makkah untuk berhijrah. Abu Bakar pun semringah seraya berkata: “Bersama saya?”. Dan Rasul pun membenarkannya.

Aisyah yang kala itu masih berusia belia menyaksikan ayahnya seketika menangis karena gembira. Selanjutnya di saat-saat yang menegangkan, Rasulullah saw kembali pulang ke rumahnya dan mengamanatkan beberapa hal kepada Ali bin Abi Thalib.

Beliau memberitahu dirinya akan berhijrah ke Madinah (Yatsrib) dan dimintanya Ali untuk tetap tinggal terlebih dulu di Makkah. Menetapnya Ali di Makkah antara lain untuk menyelesaikan barang-barang amanat orang yang dititipkan Rasulullah SAW, dan beliau diminta menggunakan mantel hadrami berwarna hijau pada malam hari dan berbaring di tempat tidur Rasul.

Karena keimanan serta keberanian Sayyidina Ali telah ditempa selama tinggal dengan Rasulullah, tak sedikit pun khalifah keempat Islam itu menolak. Ketika malam tiba, para pemuda yang disiapkan kaum Quraisy pun datang dan mengintip ke tempat tidur Rasulullah SAW.

Mereka melihat ada sesosok tubuh di tempat tersebut dan meyakini itulah Nabi Muhammad SAW. Dalam versi lain disebutkan, para pemuda itu sepakat akan mencegahnya di pintu keluar setelah tengah malam sambil menunggu anggota mereka lengkap. Namun, konon mereka mendengar suara-suara perempuan dari dalam rumah itu seperti suara Saudah, Ummu Kultsum, Fatimah, dan Ummu Aiman.

Hal itu membuat mereka harus berpikir ulang untuk melancarkan rencana jahatnya. Jika salah seorang dari mereka menaiki dinding dan masuk ke dalam rumah, maka nama mereka akan tercela untuk selamanya dan merupakan aib besar di kalangan masyarakat Arab sebab mereka telah melanggar kebebasan perempuan yang disepakati kabilah mereka.

Padahal, sesungguhnya mereka tidak tahu Nabi Muhammad SAW telah meninggalkan Makkah jelang larut malam menuju rumah Abu Bakar. Keduanya keluar dari jendela pintu belakang dan terus bertolak ke arah selatan menuju Gua Saur. Sebelum Nabi memasuki Gua Tsur, Abu Bakar masuk terlebih dahulu untuk memeriksa keadaan gua itu, apakah aman untuk bersembunyi atau tidak. Dalam gua itu biasanya ditempati oleh binatang-binatang buas dan serangga berbisa. Setelah Abu Bakar memeriksanya dan dianggap aman, baru memberitahu Nabi agar beliau masuk ke dalamnya.

Malam hari Muhammad keluar dari rumahnya yang sudah dikepung orang-orang kafir Quraisy.
Atas kehendak Allah SWT, mereka tidak dapat melihat Nabi. Kemudian Nabi mendatangi rumah Abu Bakar, lalu melakukan perjalanan hijrah. Meskipun sudah dikelabui, orang-orang Quraisy masih mengejar Nabi untuk membunuhnya. Mengetahui situasi itu, Nabi dan Abu Bakar memutuskan untuk bersembunyi di Gua Trsur. Gua Tsur berjarak sekira 7 kilometer dari Masjidil Haram Mekkah.

Di depan mulut gua, Abu Bakar berakata, "Demi Allah, janganlah Anda masuk ke dalam gua ini sampai aku yang memasukinya terlebih dahulu. Kalau ada sesuatu (perkara buruk), maka akulah yang mendapatkannya bukan Anda." Abu Bakar masuk kemudian membersihkan gua tersebut. Kemudian lubang-lubang yang ada di gua oleh Abu Bakar ditutup menggunakan kain. Ia khawatir jika tiba-tiba ada hewan yang bisa membahayakan Nabi. Semua kain habis tapi masih tersisa dua lubang. Abu Bakar kemudian berniat menutup lubang itu dengan kedua kakinya. Setelah gua dipastikan aman, Abu Bakar mempersilahkan Nabi masuk.

Di dalam gua, mereka sepakat untuk bergantian berjaga. Dalam tidurnya, Rasulullah Saw. melabuhkan kepalanya di pangkuan sang sahabat. Di dalam gua yang dingin dan remang-remang, tiba-tiba seekor ular mendesis keluar dari salah satu lubang yang belum ditutup oleh Abu Bakar. Abu Bakar menatapnya waspada, ingin sekali ia menarik kedua kakinya untuk menjauh dari hewan berbisa ini. Namun, keinginan itu dienyahkan dari benaknya, karena tak ingin ia mengganggu tidur Rasulullah Saw. Bagaimana mungkin, ia tega membangunkan kekasih Allah Swt. itu?

Abu Bakar menutup lubang itu dengan salah satu kakinya. Lalu ular itu menggigit pergelangan kakinya, tapi kakinya tetap saja tak bergerak sedikitpun dalam hening. Sekujur tubuh Abu Bakar terasa panas, ketika bisa ular menjalar cepat di dalam darahnya. Abu Bakar tak kuasa menahan isak tangis ketika rasa sakit itu tak tertahankan lagi dan tanpa sengaja air matanya menetes mengenai pipi Rasulullah Saw. yang tengah berbaring.

Rasulullah Saw. terbangun lalu berkata, “Wahai hamba Allah, apakah engkau menangis karena menyesal mengikuti perjalanan ini?”
“Tentu saja tidak. Saya ridha dan ikhlas mengikutimu ke mana pun,” jawab Abu Bakar.
“Lalu mengapakah, engkau meluruhkan air mata?” bertanya Rasulullah Saw. dengan bersahaja.
“Seekor ular baru saja menggigit saya, wahai Rasulullah. Lalu bisanya menjalar begitu cepat ke dalam tubuhku,” jawab Abu Bakar dengan suara tercekat.
Lalu Rasulullah Saw. berbicara kepada ular itu. ” Hai, tahukah kamu? Jangankan daging atau kulit Abu Bakar, rambut Abu Bakar pun haram kau makan.”
Dialog Rasulullah Saw. dengan ular itu menjadi mukjizat beliau, sehingga Abu Bakar mampu mendengarnya.
“Ya aku mengerti. Bahkan sejak ribuan tahun yang lalu ketika Allah mengatakan ‘Barang siapa memandang kekasih-Ku, Muhammad, fi ainil mahabbah atau dengan mata kecintaan. Aku anggap cukup untuk menggelar dia ke surga,” kata ular.
“Ya Rabb, beri aku kesempatan yang begitu cemerlang dan indah. “Aku (ular) ingin memandang wajah kekasih-Mu fi ainal mahabbah,” lanjut ular.
Lalu, apa kata Allah berfirman  “Silakan pergi ke Jabal Tsur, tunggu di sana, kekasih-Ku akan datang pada waktunya,” jawab Allah. “Ribuan tahun aku menunggu di sini. Aku memendam kerinduan untuk jumpa Engkau, Muhammad. Tapi sekarang ditutup oleh kaki Abu Bakar, maka kugigitlah dia. Aku tidak ada urusan dengan Abu Bakar, aku ingin ketemu Engkau, Wahai Muhammad,” jawab ular.
“Lihatlah ini. Lihatlah wajahku,” kata Rasulullah.

Tanpa menunggu waktu, dengan penuh rasa persahabatan, Rasulullah Saw. meraih pergelangan kaki Abu Bakar. Dengan mengagungkan nama Allah Swt. Sang Pencipta semesta, Nabi Muhammad Saw. mengusap bekas gigitan itu dengan ludahnya. Maha suci Allah Swt., seketika rasa sakit itu hilang tak berbekas.

Gua Tsur kembali ditelan senyap. Kini giliran Abu Bakar yang beristirahat dan Rasulullah Saw. berjaga. Dan, Abu Bakar menggeleng kuat-kuat ketika Rasulullah Saw. menawarkan pangkuannya untuk beristirahat. Tak akan rela, dirinya membebani pangkuan penuh berkah itu. (Bal/Berbagai Sumber) Abu Bakar kembali tenang lalu tersenyum kepada Nabi. Kemudian Nabi dan Abu Bakar melanjutkan persembunyiannya di Gua Tsur hingga keadaan aman. Setelah tiga hari berada di Gua Tsur, Nabi dan Abu Bakar pergi berhijrah ke Madinah dengan mengendarai dua ekor unta yang telah disiapkan Abu Bakar.

Peranan keluarga Abu Bakar al-Shiddiq sangat besar sekali dalam peristiwa hijrah Rasulullah. Nabi memberi tahu Abu Bakar bahwa harus pergi hijrah malam itu dan beliaulah yang ditetapkan sebagai sahabat untuk menyertainya. Dengan ketetapan itu, Abu Bakar merasakan kebahagiaan yang luar biasa, bahagia bercampu haru, sehingga air matanya menetes, deras sekali.

Tidak ada yang mengetahui persembunyian Nabi di Gua Tsur, kecuali keluarga Abu Bakar yaitu Abdullah putra beliau, kedua putrinya Asma’ dan ‘Aisyah serta pembantu setianya Amir bin Fuhairah. Tugas Abdullah sehari-hari berada di tengah-tengah orang Quraisy, untuk menyadap informasi mengenai sikap mereka terhadap Muhammad. Amir bertugas menggembalakan ternak milik Abu Bakar, untuk menghapus jejak apabila Abdullah mengirimkan makanan di Gua Tsur, menyiapkan susu dan daging. Asma’ dan ‘Aisyah memasak menyediakan makanan di rumah kemudian diantarkan oleh Abdullah untuk Nabi dan ayahnya.

Setiap Abdullah berangkat ke Gua Tsur atau kembali, di belakangnya selalu diikuti oleh Amir dengan ternak kambingnya yang banyak, menghapus jejak Abdullah, agar tidak diketahui oleh orang-orang Quraisy.

Lolos dari Kejaran Orang-orang musyrik Quraisy merasa kecewa dan menyesal luar biasa, setelah Nabi lolos dari kepungan mereka. Mereka tidak lagi berpikir terhadap Ali yang sedang tidur menggantikan Nabi. Pikiran mereka hanya tertumpu pada “Muhammad telah lolos dan harus dikejar sampai ketemu”. Dengan demikian Ali pun selamat dan besok harinya beliau melaksanakan apa yang dipesankan oleh Nabi.

Orang-orang musyrik Quraisy terus mencari Nabi, dengan menggunakan ahli-ahli jejak padang pasir, sampai kemudian mendekati Gua Tsur, tempat persembunyian Nabi dan Abu Bakar. Mulanya mereka sudah mengira Nabi bersembunyi di gua itu, tetapi setelah mereka melihat di mulut gua itu terdapat sarang laba-laba, di sampingnya ada dua ekor burung dara sedang mengerami telurnya dan ada dahan-dahan pohon yang menutup lubang gua itu, mereka yakin gua itu tidak mungkin ada penghuninya. Mereka terlampau percaya terhadap perhitungan rasionya, sehingga berkeyakinan demikian.

Sebenarnya pada saat orang-orang Quraisy itu naik ke Bukit Tsur dan mengamati gua itu, saat itu merupakan detik-detik yang menegangkan. Abu Bakar melihat kaki-kaki mereka, sehingga beliau berbisik kepada Nabi: “Wahai Rasulullah, sekiranya mereka melihat ke bawah telapak kakinya, pasti akan melihat kami”. Nabi Menjawab: “Wahai Abu Bakar apa yang kamu kira bahwa kita ini hanya berdua; ketahuilah, yang ketiganya adalah Allah yang melindungi kita”. Itulah kenangan di Gua Tsur, yang mencekam dan menegangkan. Hari-hari berikutnya, dirasakan agak lega, tidak begitu mengkhawatirkan. Peristiwa itu diabadikan dalam al-Qur’an, sebagai berikut:

إِلَّا تَنصُرُوهُ فَقَدْ نَصَرَهُ الله إِذْ أَخْرَجَهُ الَّذِينَ كَفَرُوا ثَانِيَ اثْنَيْنِ إِذْ هُمَا فِي الْغَارِ إِذْ يَقُولُ لِصَاحِبِهِ لَا تَحْزَنْ إِنَّ اللَّهَ مَعَنَا  فَأَنزَلَالله سَكِينَتَهُ عَلَيْهِ وَأَيَّدَهُ بِجُنُودٍ لَّمْ تَرَوْهَا وَجَعَلَ كَلِمَةَ الَّذِينَ كَفَرُوا السُّفْلَىٰ وَكَلِمَةُ اللَّهِ هِيَ الْعُلْيَا وَاللَّهُ عَزِيزٌ حَكِيمٌ

“Jikalau kamu tidak menolongnya (Muhammad) maka sesungguhnya Allah telah menolongnya (yaitu) ketika orang-orang kafir (musyrikin Mekkah) mengeluarkannya (dari Mekkah) sedang dia salah seorang dari dua orang ketika keduanya berada dalam gua, di waktu dia berkata kepada temannya: "Janganlah kamu berduka cita, sesungguhnya Allah beserta kami". Maka Allah menurunkan ketenangan-Nya kepada (Muhammad) dan membantunya dengan tentara yang kamu tidak melihatnya, dan menjadikan kalimat orang-orang kafir itulah yang rendah. Dan kalimat Allah itulah yang tinggi. Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana (QS. al-Taubah, 9:40).

Setelah tiga hari berada di Gua Tsur, Nabi dan Abu Bakar pergi berhijrah ke Madinah dengan mengendarai dua ekor unta yang telah disiapkan Abu Bakar. Segala persiapan dan bekal untuk perjalanan telah disiapkan oleh Asma’ dan Aisyah, kakak beradik putri Abu Bakar yang sangat setia membela Nabi. Selain menyediakan dua ekor unta, Abu Bakar menyiapkan uang sebanyak lima sampai enam ribu dirham. Itulah sisa kekayaan yang dimilikinya. (Said Ramadhan, Fiqh al-Sirah, hal. 83).

Perjalanan Nabi dan Abu Bakar melewati jalan yang sulit yang tidak bisa dilalui orang, untuk menghindari pengawasan kaum musyrikin Quraisy. Para sahabat Nabi yang lain berhijrah secara sembunyi-sembunyi, kecuali Umar bin Khattab, seorang pahlawan yang dijuluki Singa Padang Pasir. Umar bin Khattab, setelah mengetahui para sahabat Nabi berhijrah langsung menghunuskan pedangnya mengumumkan kepada orang-orang Quraisy bahwa beliau akan berhijrah. Setelah melakukan shalat dua rakaat di Masjid al-Haram beliau berangkat dan tidak ada seorang pun yang berani mengganggu.

Ali bin Abi Thalib, setelah menyelesaikan amanatnya, berhijrah dengan berjalan kaki. Di siang hari yang panas menyengat beliau bersembunyi di balik gunung-gunung batu. Malam harinya melakukan perjalanan, sampai berjumpa dengan Nabi di Quba, kota kecil dekat Madinah. Di sanalah Nabi dan para sahabatnya membangun masjid yang pertama kali, dinamai masjid Quba.

Di kota  Yatsrib yang kemudian menjadi Madinah al-Rasul atau kota Nabi, umat Islam dan seluruh penduduk kota telah bersiap-siap menerima kedatangan seorang Muhajir besar, Nabi akhir zaman dan Rasul yang menjadi rahmat bagi alam semesta. Kota ini bagaikan lautan yang bergolak, menumpahkan gelombangnya menerpa pantai. Semua orang, besar dan kecil, pria dan wanita, kaya dan miskin menyatu dalam suasana bahagia, gembira bercampur haru, menyambut kedatangan seorang pemimpin yang mereka dambakan. Dengan alunan musik padang pasir yang khas, pemuda-pemudi Madinah yang gagah dan cantik, orang-orang tua dan anak-anak menyambut kedatangan Nabi dengan alunan syair:

 طَلَعَ الْبَدْرُ عَلَيْنَا مِنْ ثَنِيَّاتِ الْوَدَاعِ  وَجَبَ الشُّكْرُ عَلَيْنَا مَا دَعىَ للهُ دَاعِ  أَيُّهَا الْمَبْعُوْثُ فِيْنَا جِئْتَ بِالْأَمْرِ الْمُطَاعِ

Telah terbit bulan purnama Menerangi kami dari celah bukit Wada’i Patutlah kami bersyukur Karena dai penyeru ke jalan Allah itu telah berseru Wahai yang dibangkitkan kepada kami Engkau datang dengan perintah yang dipatuhi

Setelah sampai di Madinah dan unta Nabi berhenti di lapangan luas tempat menjemur kurma. Lapangan itu milik dua bersaudara Sahal dan Suhail bin Amr, maka Nabi dan para sahabatnya sepakat untuk membangun masjid raya di tempat itu. Lapangan itu kemudian dibeli dari pemiliknya untuk segera digarap pembangunan masjid yang dicita-citakan itu. Sementara membangun masjid, Nabi tinggal di rumah Abu Ayub, Khalid bin Zaid al-Anshari.

Pembangunan masjid itu dikerjakan secara bergotong royong oleh sahabat-sahabat Nabi dengan penuh keikhlasan. Nabi ikut bekerja langsung dengan para sahabatnya dengan bersungguh-sungguh, sehingga menambah semangat bagi para sahabatnya yang terdiri dari kaum Muhajir dan kaum Anshar. Masjid raya itu dibangun dengan bangunan yang sangat sederhana, disesuaikan dengan kemampuan dan keadaan di waktu itu. Masjid itu merupakan bangunan terbuka yang luas, tembok-temboknya terbuat dari batu bata kasar, sebagai atapnya terdiri dari daun-daun kurma dan sebagian yang lainnya dibiarkan terbuka. Setelah selesai membangun masjid, Nabi melanjutkan dengan pembangunan rumah beliau di samping masjid. Rumah itu pun sangat sederhana. Di samping masjid juga dibangun tempat-tempat sederhana untuk tinggal orang-orang miskin yang tidak mempunyai kemampuan untuk membagun rumah. Sebagian dari mereka adalah para Muhajir dari Makkah.