Abdullah

Beberapa tahun telah lewat seiring dengan bertambahnya anak anak, Abdul Muthalib tiba tiba teringat dengan nazar yang telah dikrarkan di depan Kabah untuk menyembelih seorang anaknya jika anak laki laki sudah berjumlah 10 orang. Merupakan kebanggaan tersendiri bagi seorang Qurays untuk mempunyai anak lelaki yang banyak. Sementara dalam budaya Jahiliyah waktu itu kebanyakan orang Qurays akan merasa sedih  bahkan mendapat aib jika istrinya melahirkan bayi perempuan.

Masih teringat ketika ia menggali sumur zam zam hanya dengan Al Harits satu satunya anak yang ia punya, dan besar harapanya agar memiliki banyak anak lelaki agar mereka dapat melindunginya oleh karena itulah dirinya pernah bernazar di depan Kabah :

“Ya Allah, jika aku mendapat sepuluh anak laki-laki, dan mereka menginjak usia dewasa, sehingga mereka mampu melindungiku saat aku menggali sumur Zamzam, maka aku akan menyembelih salah seorang dari mereka di sisi Kabah sebagai bentuk kurban.” Langitpun terbuka bagi nazar Abdul Muthalib. Satu persatu anaknya lahir setiap tahun, hingga akhirnya mencapai jumlah 10. Dan yang terkecil waktu itu bernama Abdullah, sosok yang paling cemerlang dari semuanya, dan Abdul Muthalib sangat menyayanginya.

"Keturunan Dua Orang Bapak Yang Hampir Disembelih", Dalam kitab ‘As-Sirah An-Nabawiyah’ karya Ibn Hisyam, Tarikh al Umam wa al Muluk karya Ath Thabari, Ar-Rahiq al Makhtum karya Safi al Rahman Mubarakfuri, dan As Sirah an Nabawiyah as Sahihah, karya Akram al Umari. terdapat riwayat yang menceritakan sejarah orang arab sering menyebut Nabi Muhammad SAW sebagai “anak dua orang sembelihan”.

Rasulullah saw sendiri juga pernah bersabda bahwa, “Aku adalah keturunan dari dua orang bapak yang hampir disembelih ( dikurbankan )” Dua bapak yang hampir disembelih ini adalah Abdullah yang hampir disembelih Abdul Muthalib, dan nabi Ismail yang hampir disembelih nabi Ibrahim alaihis salam. Ismail adalah putra pertama nabi Ibrahim dari Hajar, yang di kemudian hari akan melahirkan bangsa Arab, sementara dari adiknya yang lahir kemudian (dari istri pertama Ibrahim, Sarah) yaitu Ishaq, lahirlah bangsa Israel.

Dan saat saat untuk pemenuhan nazar itu telah tiba ketika Abdul Muthalib memiliki sepuluh anak, anak anak Abdul Muthalib adalah :

*Al Haarits bin Abdul Muthalib, anak tertua beliau dan wafat dimasa hidup Abdul Muthalib. Dari anak-anak Al Harits yang masuk Islam adalah Ubaidah terbunuh di parang badar, Rabi’ah, Abu Sufyaan dan Abdullah.
*Az Zubair bin Abdul Muthalib, saudara kandung Abdullah (ayahanda Rasulullah), ia adalah penglima bani Hasyim dan bani Al Muthalib dalam perang Fijaar, seorang terhormat dan penyair, namun tidak menjumpai masa-masa Islam. Diantara anaknya yang masuk Islam adalah Abdullah terbunuh dalam perang Ajnadain, Dhuba’ah, Majl, Shafiyah dan ‘Atikah.
*Hamzah bin Abdul Muthalib, paman sekaligus saudara sesusuan Rasulullah yang masuk Islam dan menjadi pahlawan islam di perang Badar dan Uhud. Beliau terbunuh syahid di perang Uhud.
*Al Abaas bin Abdul Muthalib, yang masuk islam dan menjadi pembela Rasulullah dalam memperjuangkan Islam. Beliau dilahirkan tiga tahun sebelum perang gajah dan meninggal tahun 32 H dalam usia 86 tahun.
*Abu Lahab bin Abdul Muthalib, musuh besar dan penentang keras dakwah Rasulullah saw, sampai Allah turunkan firmanNya:
"Binasalah kedua tangan Abu Lahab dan sesungguhnya dia akan binasa. Tidaklah berfaedah kepadanya harta bendanya dan apa yang ia usahakan. Kelak dia akan masuk ke dalam api yang bergejolak. Dan (begitu pula) isterinya, pembawa kayu bakar. (QS. 111:1-4)
Ia mati dalam perang Badar. Diantara putra-putranya ‘Utaibah yang mati diterkam binatang buas, Utbah dan Mu’tib keduanya masuk islam pada hari penaklukan kota Makkah.
*Abu Thalib Abdul Manaf bin Abdul Muthalib, paman Nabi yang memelihara dan membela beliau dalam penyebaran dakwah Islam, namun tidak mau masuk islam lantaran takut dicela kaumnya.
*Ghaidaq (Hijl) bin Abdul Muthalib
* Dhirar bin Abdul Muthalib
*Muqawwim bin Abdul Muthalib
* Abdullah bin Abdul Muthalib, ayah Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam.

Abdul Muthalib juga memiliki anak anak perempuan Arwa, Shafiyyah, Atikah dan Al Baidha yang kelak melahirkan Utsman bin Affan.

Sadar akan janjinya, ia pun mengumpulkan ke-10 anaknya. Di hadapan anaknya, Abdul Muthalib menjelaskan tentang Nazarnya. Anak-anaknya yang taat dan patuh membuat Abdul Muthalib bimbang siapa yang akan dikorbankan.

“Apa yang harus kita lakukan?” tanya Abdul Muthalib kepada anak-anaknya.

“Masing-masing dari kalian membawa cangkir dan menuliskan nama di dalam cangkir tersebut.”

Setelah seluruh anak mengikuti perintahnya, Abdul Muthalib membawa seluruh anaknya ke berhala Hubal yang ada di dalam Kabah. Di sisi berhala Hubal terdapat tujuh cangkir. Cangkir pertama bertuliskan “al-aql” atau denda, cangkir kedua tertulis “na’am” atau “ya” begitu seterusnya sampai cangkir ke tujuh.

Singkat cerita setelah diundi yang keluar justru cangkir milik Abdullah. Abdul Muthalib pun menepati janjinya. Dibawalah Abdullah ke berhala Asaf Nailah untuk segera menyembelihnya.

“Apa yang akan engkau lakukan wahai Abdul Muthalib?” tanya kaum Quraisy.

“Aku akan menyembelihnya,” jawab Abdul Muthalib.

Lalu kaum Quraisy, anak-anak yang lainnya melarang keinginan Abdul Muthalib. Bahkan, para pembesar kaum Quraisy lain ikut menyarankan Abdul Muthalib untuk mengurungkan niatnya.

“Kamu jangan menyembelih putramu itu, sesungguhnya di Madinah ada seorang dukun yang mempunyai pengikut jin. Tanyalah padanya, jika dukun itu menyuruhmu untuk menyembelihnya, maka sembelihlah. Tetapi jika dukun itu memberi jalan keluar lainnya, terimalah.”

Mendengar saran para pembesar Quraisy, Abdul Muthalib segera berangkat menuju Madinah, tempat dukun itu berada. Sesampainya di Madinah, dukun yang bernama Quthbah itu menyarankan Abdul Muthalib menyiapkan 10 ekor unta untuk dikorbankan menggantikan Abdullah.

“Pulanglah ke kotamu dan siapkan 10 unta untuk dikorbankan, lalu buatlah panah undi nasib di atas onta dan di atas anakmu (Abdullah). Jika yang keluar onta itu, maka sembelilah onta itu. Tetapi, jika yang keluar undian itu anakmu, tambahlah dendanya dengan 10 onta lagi. Kemudian, buatlah panah undi nasib di atas keduanya, sehingga tuhan kalian ridha. Jika keluar onta itu, maka sembelilah onta-onta itu.”

Maka pulanglah Abdul Muthalib bersama orang-orang Quraisy ke Mekkah. Dilakukanlah undian tersebut, namun dalam undian pertama keluar nama Abdullah. “Wahai Abdul Muthalib, tambahlah denda untuk kau sembahkan pada tuhanmu hingga dia ridha,” kata orang Quraisy.

Lalu ditambahlah 10 onta lagi, tetapi undian yang keluar tetap nama Abdullah ketimbang onta itu. Sampai setiap kali diulang, berturut-turut nama Abdullah yang keluar ketimbang onta-onta tersebut. Maka jumlah undian onta telah mencapai 100, Abdul Muthalib pun menyembelih unta-untanya dan Abdullah selamat dari rencana penyembelihan dirinya.

Baihaqi dan Abu Nuaim meriwayatkan dari Ibn Syihab, bahwa Abdullah bin Abdul Muthalib adalah lelaki yang tampan. Suatu saat dia keluar ke tempat wanita-wanita Quraisy, salah satu dari mereka berkata: “Apakah di antara kalian ada yang mau menikah dengan pemuda ini? sehingga nanti kejatuhan cahaya, karena aku melihat cahaya di antara kedua belah matanya?”

Tidak sedikit riwayat yang mengatakan bahwa banyak gadis-gadis di kota Makkah yang begitu ingin dipersunting oleh Abdullah. Namun Abdullah bukanlah pemuda biasa, dan tidak pula berasal dari keluarga biasa. Dan Abdul Muthalib memiliki kualifikasi yang sangat ketat terkait pendamping putra kesayangannya ini. Ia hanya akan menikahkan Abdullah dengan gadis terbaik dengan nasab terbaik pula. Sosok tersebut ada pada diri Aminah binti Wahab, yang berasal dari Bani Zurah.

Para sejarawan dan ahli hadits telah meninggalkan kisah berharga tentang sebab musabab perkawinan Aminah dan Abdullah. Ini telah membuktikan bahwa keluarga Abdul Muthalib tidak akan mengawinkan anaknya kecuali berdasarkan kemuliaan.

Ibnu Saad, Thabrani, dan Abu Naim meriwayatkan bahwa Abdul Muthalib bercerita:
“Suatu saat kami sampai di negara Yaman saat perjalanan musim dingin, kami bertemu dengan seorang penganut kitab Zabur (Pendeta Yahudi) dia bertanya: “Kamu dari kabilah mana? Aku menjawab: “Dari Quraisy”. Dari Quraisy mana? Kujawab: Bani Hasyim! Kemudian Pendeta itu berkata: Bolehkah aku melihat salah satu anggota tubuhmu? Boleh saja asal bukan aurat?. Kemudian Pendeta itu melihat kedua tanganku dan berkata: “Aku bersaksi bahwa di salah satu tanganmu terdapat Malaikat dan tangan yang satunya terdapat Kenabian, dan aku melihat hal ini pada Bani Zuhrah, bagaimana semua ini bisa terjadi? Aku menjawab: Tidak tahu?. Kemudian dia bertanya lagi: Apakah kamu mempunyai syaah? Apakah syaah itu? Tanyaku. “Istri!” Jawabnya. Kalau sekarang aku tidak beristri?” Ujar Abdul Muthalib. Kemudian Pendeta itu berkata: “Kalau engkau pulang kawinlah dengan salah satu wanita dari mereka?” Setelah pulang ke Makkah Abdul Muthalib kawin dengan Hallah binti Uhaib bin Abdul Manaf. Dan mengawinkan anaknya Abdullah dengan Aminah binti Wahab. Setelah itu orang-orang Quraisy berkata: “Abdullah lebih beruntung dari Ayahnya?”

Perihal dengan Aminah binti Wahab, tidak banyak sejarawan yang mengetahui informasi tentangnya. Sedikit yang diketahui, bahwa Aminah lahir di kota Makkah. Tentang tahun kelahirannya, tidak banyak diketahui. Ia adalah putri dari pemimpin bani Zurah yang bernama Wahab bin Abdul Manaf bin Zuhrah bin Kilab. Sedangkan ibu Aminah adalah Barrah binti Abdul Uzza bin Utsman bin Abduddar bin Qushay bin Kilab. Nasab Aminah dan Abdullah bertemu pada sosok Kilab, ayah dari Qushay, pendiri kota Makkah.

Aminah adalah seorang yang pemalu dan sangat menjaga diri. Aminah selalu berada di dalam rumah dan bergaul dengan orang-orang terdekatnya. Sosoknya sangat jarang tampil di muka umum. Sehingga sangat jarang diketahui tentang seluk beluk tentang dirinya. Pilihan Abdul Muthalib pun jatuh pada Aminah setelah ia bermunajad dan merenung di depan Ka’bah. Kita tidak mengetahui secara pasti bagaimana mulanya keputusan Abdul Muthalib datang ke bani Zurah dan meminang Aminah untuk putranya kesayangannya, Abdullah. Yang jelas, tidak ada yang bisa membantah bahwa pilihan ini memang yang terbaik.

Bagi keluarga Bani Zuhrah tidak ada alasan untuk menolak keinginan Abdul Muthalib, bahkan hal ini merupakan kehormatan baginya. Bani Zuhrah pun menerima lamaran Abdul Muthalib untuk menikahkan anaknya Abdullah dengan Aminah binti Wahab dan dia sendiri pun menikah dengan saudara sepupu Aminah yaitu Halah binti Wuhaib.

Pernikahan Abdullah dan Aminah diselenggarakan secara besar-besaran. Semua penduduk Makkah di undang. Abdul Muthalib juga memerintahkan untuk menyalakan api di gunung-gunung di sekitar Makkah agar para musafir dan tamu yang kebetulan melintas dapat mengetahui bahwa di kota tersebut sedang ada perayaan, dan mereka di perkenankan untuk menghadirinya.

Setelah menikah, Abdullah tinggal bersama istrinya di sebuah rumah baru yang sederhana. Rumah kecil tersebut disiapkan oleh Abdul Muthalib untuk anak kesayangannya. Para sejarawan menyebutkan bahwa rumah itu mempunyai satu kamar dan serambi yang panjangnya sekitar 12 m serta lebar 6 m yang di dinding sebelah kanan terdapat kayu yang disediakan sebagai tempat duduk mempelai.

Tidak lama setelah pernikahan antara Abdullah dan Aminah di kota Mekah, hanya sekitar dua bulan Abdullah tinggal di rumah ini bersama istrinya, kemudian Abdul Muthalib mengutus Abdullah untuk pergi ke Syam untuk berperang, Sebabnya adalah perampasan barang dagangan suku Quraisy. Pada zaman jahiliyyah peperangan semacam ini sangat wajar dan seringkali terjadi, dalam riwayat lain ada tersebut bahwa Abdullah sekaligus mengikuti kafilah perdagangan ke Syam. Ketika Abdullah melakukan perjalanan pulang dari Syam menuju kota Mekah, beliau singgah ke Madinah (saat itu masih bernama Yatsrib) untuk memetik hasil panen kurmanya. Namun, Abdullah mengalami sakit parah ketika di Madinah hingga meninggal dan dimakamkan di sana.

Aminah tidak mengetahui, bahwa itulah saat terakhir ia memandang wajah suaminya, permata yang paling bersinah di Kota Makkah. Karena tak lama setelah itu, ia menerima kabar duka, bahwa Abdullah telah wafat di Kota Madinah karena sakit yang dideritanya.

Beberapa riwayat mengatakan bahwa Abdullah wafat pada usia 25 tahun. Ia meninggalkan beberapa ternak, dan sedikit harta benda. Ketika berita duka itu datang, Aminah binti Wahab sedang mengandung cahaya agung yang akan menjadi penutup para nabi.