Insha Allah

Dalam setiap pertemuan kaum Qurays di balai Darun Nadwa, setidaknya terdapat perbincangan tentang sesuatu yang mereka anggap sebagai persoalan terbesar, yaitu ajaran Muhamad saw yang sangat bertentangan dengan ajaran nenek moyang mereka yang menuhankan berhala berhala Al Lat, Al Uzza, Al Manat, dan Hubal bahkan ajaran Muhamad saw secara halus mengajarkan untuk membebaskan perbudakan dan kesetaraan antara pria dan wanita, dalam kehidupan Jahiliyah yang namanya wanita bagi mereka hanyalah pelengkap hidup saja dan dalam banyak kasus, wanita tidak berhak mendapat hak waris. Mereka bertekad dengan segala upaya agar ajaran Muhamad saw hilang dari permukaan bumi, lalu mereka memutuskan untuk mengutus dua orang ke Yastrib (Madinah) untuk meminta pendapat kepada para Rabi Yahudi.

"Tanyakan kepada mereka tentang Muhamad, gambarkan siapa dia, dan ceritakan apa yang dikatakanya, karena mereka adalah para ahli kitab yang pertama dan mengetahui perihal para nabi terdahulu yang tidak kita ketahui", pesan tetua kaum Qurays itu kepada dua orang yang mereka utus yaitu An-Nadhar dan Uqbah.

Setelah melakukan perjalanan kurang lebih selama tiga hari, maka sampailah utusan kaum Qurays tersebut dan menjumpai para Rabi Yastrib, kemudian menyampaikan maksud kedatangan mereka kepada para rabi tersebut.

Para Yahudi tersebut berkata,"Tanyakan kepada Muhamad tentang tiga hal!, setelah itu kami akan memberikan informasi kepada kalian, Jika ia menceritakan kepada kalian tentang ke tiga hal itu, maka ia memang seorang nabi yang di utus Tuhan, Namun jika tidak, maka ia adalah pendusta. Tanyakan kepadanya tentang kisah sekelompok pemuda yang meninggalkan kaum merekapada jaman dahulu, dan bagaimana kejadian yang menimpa mereka, sebab kisah mereka adalah sebuah kisah yang mengagumkan. Tanyakan pula berita berita mengenai petualang yang sampai pada ujung bumi di timur dan di barat, lalu tanyakanlah tentang roh, apa itu Roh?, Jika ia menceritakan kepada kalian tentang ketiga hal itu, maka ikutilah dia, karena ia memang seorang nabi!", ujar para Rabi tersebut.

Ketika ke dua utusan itu, An-Nadhar dan Uqbah, kembali ke Mekah, dengan membawa kabar itu, para pemimpin Qurays mendatangi Rasulullah saw dan menanyakan ke tiga pertanyaan tersebut, Beliau saw berkata,"Besok akan kujelaskan kepada kalian", ujarnya.

Pada keesokan harinya, ketika para pemimpin Qurays itu menagih jawaban dari Rasulullah saw, beliau tidak dapat menjawabnya karena memang belum mendapat wahyu yang berkaitan dengan ke tiga pertanyaan yang telah mereka ajukan. Begitulah hari demi hari berlalu, hingga lima belas malam terlewati, Rasulullah saw masih belum mendapatkan petunjuk wahyu yang biasanya di bawa oleh malaikat Jibril, begitu juga dengan malaikat Jibril tidak pernah mendatangi Rasulullah saw sejak para pemimpin Qurays tersebut mengajukan pertanyaan kepada Rasulullah saw. Masyarakat Mekah mulai mengejek Rasulullah saw dan menantangnya, Beliaupun menjadi gusar dan sangat sedih dengan apa yang mereka ucapkan karena Beliau sudah dianggap tidak bisa menjawab pertanyaan yang berasal dari Rabi Yahudi tersebut.

“Muhammad berjanji esok hari. Sekarang, kita berada di pagi hari kelima belas. Namun, dia tidak kunjung menjawab pertanyaan yang diajukan kepadanya,” teriak mereka.

Kemudian, pada suatu hari, datanglah malaikat Jibril, Rasulullah saw pun bertanya kepada Jibril mengenai lambatnya wahyu yang datang. “Hai Jibril, engkau tidak kunjung menemuiku sehingga aku nyaris berburuk sangka,” tuturnya. Jibril pun menjawab dengan membacakan surah Maryam ayat 64:

“Dan tidaklah kami turun kecuali dengan perintah Tuhanmu kepunyaan-Nyalah apa-apa yang ada di hadapan kita, apa-apa yang ada di belakang kita, dan apa-apa yang di antara keduanya, dan tidaklah Tuhanmu lupa.”

Malaikat Jibril juga membawakan sebuah wahyu yang mengingatkan Rasulullah saw yang sedang bersedih karena cercaan dari kaumnya yang menuduhya tidak berdaya dengan pertanyaan dari kaum Yahudi, agar selalu mengucapkan insha Allah jika membuat janji.

"Dan janganlah kamu sekali kali mengatakan terhadap sesuatu,"Sesungguhnya aku akan mengerjakan itu besok pagi, kecuali mengucapkan Insha Allah" (QS. 18:23-24)

Walaupun penundaan wahyu itu menyedihkan Rasulullah saw dan pengikutnya, kenyataanya malah menambah keimanan bagi sebagian besar kaum muslim pada saat itu. Musuh musuh terbesarnya memang tidak bisa menerimanya, namun, bagi sebagian besar kaum Qurays yang berada dalam keraguan, hal itu semakin mengokohkan kebenaran pernyataan Rasulullah saw bahwa wahyu datang kepadanya dari langit. Beliau tidak turut campur tangan dalam wahyu dan tidak mampu mengaturnya, bukankah tidak masuk akal jika Muhamad saw telah membuat wahyu yang terdahulu dan ia menangguhkan begitu lama wahyu yang terakhir ini, terutama ketika banyak hal yang dipertaruhkan.

Kaum muslimin pada saat itu juga semakin teguh pendirian seperti biasanya, akibat wahyu itu sendiri. Ketika kaum Qurays bertanya tentang kisah para pemuda yang meninggalkan kaumnya pada jaman dahulu, adalah sebuah kisah yang tidak seorangpun di Mekah pernah mendengarnya, mereka tidak tahu bahwa kisah itu merujuk pada situasi saat itu di Mekah, yang mencela kaum Qurays dan meninggikan martabat kaum Mukminin. Kisah yang dimaksud dalam pertanyaan itu adalah mengenai kisah beberapa pemuda Ephesus pada jaman peretengahan abad ke tiga masehi, yaitu tentang beberapa pemuda yang beriman dan menyembah kepada Tuhan yang esa, pada saat kaumnya menyembah berhala dan jika tidak mengikuti kaumnya, mereka akan di hukum, Untuk menghindari hukuman tersebut, mereka beberapa pemuda tersebut bersembunyi di dalam sebuah gua, dan secara ajaib mereka tertidur selama tiga ratus tahun.

Dan malaikat Jibril juga membawa beberapa wahyu berkaitan dengan pertanyaan yang diajukan oleh kaum Qurays tersebut, sebagai tambahan terhadap apa yang telah diketahui oleh kaum Yahudi pada saat itu, kisah dalam Al Quran menguraikan secara rinci bahwa tidak ada mata manusia yang dapat melihat mereka, sebagaimana para pemuda yang tertidur tersebut tidak terlihat selama di gua selama berabad abad, dan juga mengisahkan tentang anjing mereka yang dengan setia menjulurkan ke dua kakinya di depan pintu gua.

"Atau kamu mengira bahwa orang-orang yang mendiami gua dan (yang mempunyai) raqim itu, mereka termasuk tanda-tanda kekuasaan Kami yang mengherankan?"
"(Ingatlah) tatkala para pemuda itu mencari tempat berlindung ke dalam gua, lalu mereka berdoa: “Wahai Tuhan kami, berikanlah rahmat kepada kami dari sisi-Mu dan sempurnakanlah bagi kami petunjuk yang lurus dalam urusan kami (ini)”.
"Maka Kami tutup telinga mereka beberapa tahun dalam gua itu,"
"Kemudian Kami bangunkan mereka, agar Kami mengetahui manakah di antara kedua golongan itu yang lebih tepat dalam menghitung berapa lama mereka tinggal (dalam gua itu)."
"Kami kisahkan kepadamu (Muhammad) cerita ini dengan benar. Sesungguhnya mereka adalah pemuda-pemuda yang beriman kepada Tuhan mereka, dan Kami tambah pula untuk mereka petunjuk.
"Dan Kami meneguhkan hati mereka diwaktu mereka berdiri, lalu mereka pun berkata, “Tuhan kami adalah Tuhan seluruh langit dan bumi; kami sekali-kali tidak menyeru Tuhan selain Dia, "sesungguhnya kami kalau demikian telah mengucapkan perkataan yang amat jauh dari kebenaran”.
"Kaum kami ini telah menjadikan selain Dia sebagai tuhan-tuhan (untuk disembah). Mengapa mereka tidak mengemukakan alasan yang terang (tentang kepercayaan mereka)? Siapakah yang lebih zalim daripada orang-orang yang mengada-adakan kebohongan terhadap Allah?"
"Dan apabila kamu meninggalkan mereka dan apa yang mereka sembah selain Allah, maka carilah tempat berlindung ke dalam gua itu, niscaya Tuhanmu akan melimpahkan sebagian rahmat-Nya kepadamu dan menyediakan sesuatu yang berguna bagimu dalam urusan kamu."
"Dan kamu akan melihat matahari ketika terbit, condong dari gua mereka ke sebelah kanan, dan bila matahari terbenam menjauhi mereka ke sebelah kiri sedang mereka berada dalam tempat yang luas dalam gua itu. Itu adalah sebagian dari tanda-tanda (kebesaran) Allah. Barangsiapa yang diberi petunjuk oleh Allah, maka dialah yang mendapat petunjuk; dan barangsiapa yang disesatkan-Nya, maka kamu tidak akan mendapatkan seorang pemimpinpun yang dapat memberi petunjuk kepadanya."
"Dan kamu mengira mereka itu bangun, padahal mereka tidur; Dan kami balik-balikkan mereka ke kanan dan ke kiri, sedang anjing mereka mengunjurkan kedua lengannya di muka pintu gua. Dan jika kamu menyaksikan mereka tentulah kamu akan berpaling dari mereka dengan melarikan diri dan tentulah (hati) kamu akan dipenuhi oleh ketakutan terhadap mereka.
"Dan demikianlah Kami bangunkan mereka agar mereka saling bertanya di antara mereka sendiri. Berkatalah salah seorang di antara mereka: Sudah berapa lamakah kamu berada (disini?)”. Mereka menjawab: “Kita berada (disini) sehari atau setengah hari”. Berkata (yang lain lagi): “Tuhan kamu lebih mengetahui berapa lamanya kamu berada (di sini). Maka suruhlah salah seorang di antara kamu untuk pergi ke kota dengan membawa uang perakmu ini, dan hendaklah dia lihat manakah makanan yang lebih baik, maka hendaklah ia membawa makanan itu untukmu, dan hendaklah ia berlaku lemah-lembut dan janganlah sekali-kali menceritakan halmu kepada seorangpun."
"Sesungguhnya jika mereka dapat mengetahui tempatmu, niscaya mereka akan melempar kamu dengan batu, atau memaksamu kembali kepada agama mereka, dan jika demikian niscaya kamu tidak akan beruntung selama lamanya”.
"Dan demikian (pula) Kami mempertemukan (manusia) dengan mereka, agar manusia itu mengetahui, bahwa janji Allah itu benar, dan bahwa kedatangan hari kiamat tidak ada keraguan padanya. Ketika orang-orang itu berselisih tentang urusan mereka, orang-orang itu berkata: “Dirikan sebuah bangunan di atas (gua) mereka, Tuhan mereka lebih mengetahui tentang mereka”. Orang-orang yang berkuasa atas urusan mereka berkata: “Sesungguhnya kami akan mendirikan sebuah rumah peribadatan di atasnya”.
"Nanti (ada orang yang akan) mengatakan (jumlah mereka) adalah tiga orang yang keempat adalah anjingnya, dan (yang lain) mengatakan: “(jumlah mereka) adalah lima orang yang keenam adalah anjing nya”, sebagai terkaan terhadap barang yang gaib; dan (yang lain lagi) mengatakan: “(jumlah mereka) tujuh orang, yang ke delapan adalah anjingnya”. Katakanlah: “Tuhanku lebih mengetahui jumlah mereka; tidak ada orang yang mengetahui (bilangan) mereka kecuali sedikit”. "Karena itu janganlah kamu (Muhammad) bertengkar tentang hal mereka, kecuali pertengkaran lahir saja dan jangan kamu menanyakan tentang mereka (pemuda-pemuda itu) kepada seorangpun di antara mereka.
"Dan jangan sekali-kali kamu mengatakan tentang sesuatu: “Sesungguhnya aku akan mengerjakan ini besok pagi,
"kecuali (dengan menyebut): “Insya Allah”. Dan ingatlah kepada Tuhanmu jika kamu lupa dan katakanlah: “Mudah-mudahan Tuhanku akan memberiku petunjuk kepada yang lebih dekat kebenarannya dari pada ini”.
"Dan mereka tinggal dalam gua mereka tiga ratus tahun dan ditambah sembilan tahun (lagi).
"Katakanlah: “Allah lebih mengetahui berapa lamanya mereka tinggal (di gua); kepunyaan-Nya-lah semua yang tersembunyi di langit dan di bumi. Alangkah terang penglihatan-Nya dan alangkah tajam pendengaran-Nya; tak ada seorang pelindungpun bagi mereka selain dari pada-Nya; dan Dia tidak mengambil seorangpun menjadi sekutu-Nya dalam menetapkan keputusan”. (Al Kahfi 9-26)

Sedangkan terhadap pertanyaan ke dua, petualang besar itu adalah Iskandar Dzulkarnain, pemilik dua tanduk, Wahyu menyebutkan bahwa perjalananya ke barat dan ke timur jauh, dan kemudian menjawab lebih dari pertanyaan, menceritakan perjalananya yang misterius di suatu tempat yang terletak dia antara dua gunung, yang mengisahkan tentang masyarakat di sekitar wilayah itu memohon kepada Dzulkarnain agar membuat sebuah tembok penghalang yang dapat melindungi mereka dari keganasan kaum Yajuj dan Majuj yang akan merusak negri mereka. Tuhan memberikan kekuasaan ke pada Iskandar Dzulkarnayn untuk membuat tembok tembaga yang memenjarakan Yajuj dan Majuj sehingga Yajuj dan Majuj tidak bisa keluar dan tidak bisa membuat kerusakan hingga sampai pada hari yang ditentukan, yaitu ketika tembok yang memenjarakan itu akan runtuh sebelum kiamat tiba. Dan kejadian itu akan menjadi suatu pertanda bahwa hari kiamat telah dekat.

“Kemudian dia menempuh suatu jalan (yang lain lagi). Hingga apabila dia telah sampai di antara dua buah gunung, dia mendapati di hadapan kedua bukit itu suatu kaum yang hampir tidak mengerti pembicaraan. Mereka berkata: “Hai Dzulqarnain, sesungguhnya Ya’juj dan Ma juj itu orang-orang yang membuat kerusakan di muka bumi, maka dapatkah kami memberikan sesuatu pembayaran kepadamu, supaya kamu membuat dinding antara kami dan mereka.”  Dzulqarnain berkata: “Apa yang telah dikuasakan oleh Rabbku kepadaku terhadapnya adalah lebih baik, maka tolonglah aku dengan kekuatan (manusia dan alat-alat), agar aku membuatkan dinding antara kamu dan mereka,  berilah aku potongan-potongan besi. ” Hingga apabila besi itu telah sama rata dengan kedua (puncak) gunung itu, berkatalah Dzulqarnain: “Tiuplah (api itu). ” Hingga apabila besi itu sudah menjadi (merah seperti) api, dia pun berkata: “Berilah aku tembaga (yang mendidih) agar kutuangkan ke atas besi panas itu.”  (al-Kahfi: 92-96)

Dalam menjawab pertanyaan yang ketiga, wahyu menyatakan bahwa persoalan roh itu adalah diluar jangkauan pikiran manusia,

"Dan, mereka bertanya kepadamu tentang roh, katakanlah 'roh itu termasuk urusan Tuhan mu, dan tidaklah kamu diberi pengetahuan melainkan sedikit", (QS. 17:85)

Kaum Yahudi yang sangat berhasrat mendengarkan jawaban dari Rasulullah saw terhadap pertanyaanpertanyaan yang mereka ajukan, berkaitan dengan pernyataan terakhir tentang pengetahuan, mereka bertanya kepada Rasulullah saw, apakah hal itu ditujukan kepada kaumnya atau kepada mereka. Rasulullah saw menjawab,"Kepada kalian semua", ujar Rasulullah saw. Mereka langsung protes karena mereka merasa telah diberi pengetahuan tentang segala sesuatu, karena mereka telah membaca Taurat yang merupakan penjelasan dari segala sesuatu, sebagaimana di nyatakan dalam AlQuran (QS. 6:154). Kemudian Rasulullah saw manjawab,"Dalam pengetahuan Allah, Taurat hanyalah sekelumit, namun cukuplah bagi kalian, jika kalian benar benar mengamalkanya". Kemudian pada saat itu turunlah wahyu berkenaan dengan "kalimat kalimat Allah" yang mengungkapka sebagian saja dari ilmu Nya.

"Dan seandainya pohon pohon di bumi menjadi pena dan laut menjadi tinta, ditambahakan kepadanya tujuh laut lagi sesudah keringnya, niscaya tidak akan habis habisnya kalimat Allah di tuliskan" (QS. 31:27)

Para pemuka Qurays tidak mau terikat dengan nasihat para Rabi itu, dan para Rabi itu sendiri tidak mau mengakui Rasulullah saw, walaupun jawaban yang telah tercantum dalam wahyu itu melampaui apa yang mereka harapkan. Akan tetapi jawaban yang tercantum dalam ayat ayat yang disampaikan oleh Rasulullah saw tersebut sudah menyebabkan beberapa orang masuk Islam. Semakin bertambahnya pengikut Rasulullah saw, maka para musuh beliau merasa semakin terancam, sehingga mereka lebih keras lagi melancarkan penganiayaan dan perlakuan buruk terhadap pemeluk Islam. Setiap kabilah telah bersepakat menghukum kaum muslim dari pihak mereka sendiri, mereka akan memenjarakan dan menyiksa kaum muslim dengan pukulan, membiarkan mereka dalam kelaparan dan kehausan, mereka menyeret kaum muslim yang lemah yang berstatus budak belian itu ke gurun yang gersang dan menjemur mereka agar mereka keluar dari agama Islam.