Muqadimah

"Dan Kami telah turunkan kepadamu Al Qur'an dengan membawa kebenaran, membenarkan apa yang sebelumnya, yaitu kitab-kitab (yang diturunkan sebelumnya) dan batu ujian terhadap kitab-kitab yang lain itu; maka putuskanlah perkara mereka menurut apa yang Allah turunkan dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu mereka dengan meninggalkan kebenaran yang telah datang kepadamu. Untuk tiap-tiap umat di antara kamu, Kami berikan aturan dan jalan yang terang. Sekiranya Allah menghendaki, niscaya kamu dijadikan-Nya satu umat (saja), tetapi Allah hendak menguji kamu terhadap pemberian-Nya kepadamu, maka berlomba-lombalah berbuat kebajikan. Hanya kepada Allah-lah kembali kamu semuanya, lalu diberitahukan-Nya kepadamu apa yang telah kamu perselisihkan itu," Al Maidah 48

Ada dua hal yang menjadi sumber syariat Islam. Yaitu Alquran dan sunnah Nabi saw. Sunnah sendiri berarti segala perkataan, perbuatan, dan ketetapan Nabi saw. Sirah Nabawiyah adalah bagian dari Sunnah Nabi yang merupakan sumber kedua dari syariat Islam, sumber kedua dalam syariat Islam dapat kita pahami dengan baik ketika kita telah mempelajari sirah Nabi saw.

Maksud dari ketetapan di sini adalah perbuatan sahabat yang dipuji atau didiamkan dan tidak ditegur Nabi saw karena beliau menyepakatinya. Tentu hal ini sangat erat kaitannya dengan kajian sirah Nabi. Sehingga, sumber kedua hukum Islam tidak akan dipahami secara utuh kecuali dengan mempelajari sirah Nabi saw.

Setelah mengetahui tingginya kedudukan sunnah Nabi saw dalam syariat Islam, dari sini pula kita menyadari posisi kajian sirah Nabi saw sebagai jalan untuk memahami sunnah. Allah berfirman,

وَأَنْزَلْنَا إِلَيْكَ الذِّكْرَ لِتُبَيِّنَ لِلنَّاسِ مَا نُزِّلَ إِلَيْهِمْ وَلَعَلَّهُمْ يَتَفَكَّرُونَ

“Dan Kami turunkan kepadamu Alquran, agar kamu menerangkan pada umat manusia apa yang telah diturunkan kepada mereka dan supaya mereka memikirkan.” (QS:An-Nahl | Ayat: 44)

Tanpa sirah dan tanpa sunnah, kita tidak akan mampu memahami Alquran.

Mempelajari sirah bukanlah semata-mata bacaan ringan atau hiburan, tapi mempelajari sirah adalah mengkaji agama. Karena ia menjadi penunjang memahami sumber pokok dari syariat ini. Dengan mempelajari sirah Nabi saw dan memahaminya dengan baik kita dapat mempraktikkan ubudiyah kepada Allah dengan cara benar.

Namun sayang, sebagian umat Islam ada yang meragukan periwayatan sunnah dan sirah Nabi saw. Mereka mencukupkan diri dengan Alquran saja. Nabi saw telah memperingatkan kita akan kelompk ini. Sebagaimana sabda beliau saw:

عَنِ الْمِقْدَامِ بْنِ مَعْدِي كَرِبَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ، قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: ” أَلا إِنِّي أُوتِيتُ الْكِتَابَ وَمِثْلَهُ مَعَهُ، أَلا إِنِّي أُوتِيتُ الْقُرْآنَ وَمِثْلَهُ مَعَهُ، أَلا يُوشِكُ رَجُلٌ شَبْعَانُ عَلَى أَرِيكَتِهِ، يَقُولُ: عَلَيْكُمْ بِالْقُرْآنِ فَمَا وَجَدْتُمْ فِيهِ مِنْ حَلالٍ فَأَحِلُّوهُ، وَمَا وَجَدْتُمْ فِيهِ مِنْ حَرَامٍ فَحَرِّمُوهُ، أَلا لا يَحِلُّ لَكُمْ لَحْمُ الْحِمَارِ الأَهْلِيِّ وَلا كُلِّ ذِي نَابٍ مِنَ السَّبُعِ ”

Dari al-Miqdaam bin Ma’dii Karib, ia berkata: Rasulullah saw bersabda, “Ketahuilah, sesungguhnya telah diturunkan kepadaku al-Kitab dan yang semisalnya (as-Sunnah) bersamanya. Ketahuilah, sesungguhnya telah diturunkan kepadaku Alquran dan yang semisalnya (As-Sunnah) bersamanya. Ketahuilah, dikhawatirkan akan ada seseorang yang duduk kenyang di atas dipannya seraya berkata: ‘Wajib bagi kalian berpegang pada Alquran ini. Apa saja yang kalian dapati di dalamnya dari perkara halal, maka halalkanlah, dan apa aja yang kalian dapati di dalamnya dari perkara haram, maka haramkanlah’. Ketahuilah, tidak dihalalkan bagi kalian daging keledai jinak dan binatang buas yang mempunyai taring.” (HR. Abu Daawud no. 4604 dan Ibnu Hibbaan no. 12).

Alquran sendiri telah membantah mereka yang hanya menjadikan Alquran sebagai satu-satunya sumber syariat. Allah SWT berfirman,

مَنْ يُطِعِ الرَّسُولَ فَقَدْ أَطَاعَ اللهَ وَمَنْ تَوَلَّى فَمَا أَرْسَلْنَاكَ عَلَيْهِمْ حَفِيظًا

“Barangsiapa yang mentaati Rasul itu, sesungguhnya ia telah mentaati Allah. Dan barangsiapa yang berpaling (dari ketaatan itu), maka Kami tidak mengutusmu untuk menjadi pemelihara bagi mereka.” (QS:An-Nisaa 80)

فَلاَ وَرَبِّكَ لا يُؤْمِنُونَ حَتَّى يُحَكِّمُوكَ فِيمَا شَجَرَ بَيْنَهُمْ ثُمَّ لا يَجِدُوا فِي أَنْفُسِهِمْ حَرَجًا مِمَّا قَضَيْتَ وَيُسَلِّمُوا تَسْلِيمًا

“Maka demi Tuhanmu, mereka (pada hakekatnya) tidak beriman hingga mereka menjadikan kamu hakim terhadap perkara yang mereka perselisihkan, kemudian mereka tidak merasa dalam hati mereka sesuatu keberatan terhadap putusan yang kamu berikan, dan mereka menerima dengan sepenuhnya.” (QS:An-Nisaa 65)

Dan firman-Nya juga,

وَمَا آتَاكُمُ الرَّسُولُ فَخُذُوهُ وَمَا نَهَاكُمْ عَنْهُ فَانْتَهُوا

“Apa yang diberikan Rasul kepadamu, maka terimalah. Dan apa yang dilarangnya bagimu, maka tinggalkanlah.” (QS:Al-Hasyr  7)

Para sahabat Nabi saw tidak membedakan Alquran dan sunnah. Terkadang mereka mengkaji Alquran dan terkadang pula mereka belajar al-hadits Nabi saw.

Rasulullah saw adalah manusia terbaik. Beliau juga penutup para nabi dan rasul serta yang terbaik di antara mereka. Tokoh yang satu ini adalah tokoh terbesar dalam sejarah manusia, dari manusia pertama, Adam, hingga kelak terjadinya kiamat.

Kepribadian Muhammad saw sangat layak untuk dipelajari perjalanan hidupnya. Banyak alasan mengapa perjalanan hidup (sirah) beliau layak dipelajari. Alasan yang paling utama tentu saja, karena beliau seorang rasul, utusan Rab penguasa alam semesta. Jika Allah menghendaki, tentu Dia mampu berbicara kepada para hamba-Nya secara langsung. Namun Allah tidak menghendaki yang demikian, ia mengangkat seorang utusan yang menjadi perantara Dia dan hamba-hamba-Nya. Allah  memilih beliau saw dari seluruh hamba-hamba-Nya.

وَمَا يَنْطِقُ عَنِ الهَوَى * إِنْ هُوَ إِلاَّ وَحْيٌ يُوحَى

“Dan tiadalah yang diucapkannya itu (Alquran) menurut kemauan hawa nafsunya. Ucapannya itu tiada lain hanyalah wahyu yang diwahyukan (kepadanya).” (QS:An-Najm 4).

Oleh karena itu, wajib bagi kita menerima hadits-hadits Nabi saw. Konsekuensinya pula wajib bagi kita mempelajari sirahnya. Karena sirah adalah praktik nyata perintah Allah melalui diri Rasulullah saw.

Ketiga: Menimbulkan Kecintaan Kepada Nabi saw.

Seorang muslim wajib mengupayakan bagaimana agar ia bisa mencintai Nabi saw. Karena mencintai beliau saw adalah sebuah kewajiban. Cinta kepada beliau harus di atas cinta kepada seluruh makhluk lainnya. Nabi saw bersabda,

لاَ يُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ حَتَّى أَكُونَ أَحَبَّ إِلَيْهِ مِنْ وَلَدِهِ وَوَالِدِهِ وَالنَّاسِ أَجْمَعِينَ

“Salah seorang di antara kalian tidak beriman (dengan sempurna) sampai aku lebih dicintainya dari anak dan kedua orang tuanya serta seluruh manusia.” (HR. Bukhari dan Muslim).

Kita pun telah mendengar dialog Nabi saw dengan Umar bin al-Khattab radhiallahu ‘anhu,

قال عمر بن الخطاب: يَا رَسُولَ اللَّهِ، لأَنْتَ أَحَبُّ إِلَيَّ مِنْ كُلِّ شَيْءٍ، إِلاَّ مِنْ نَفْسِي. فَقَالَ لَهُ النَّبِيُّ : “لاَ وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ، حَتَّى أَكُونَ أَحَبَّ إِلَيْكَ مِنْ نَفْسِكَ”. فَقَالَ عُمَرُ: وَاللَّهِ لأَنْتَ أَحَبُّ إِلَيَّ مِنْ نَفْسِي. فَقَالَ : “الآنَ يَا عُمَر

Umar berkata kepada beliau, “Wahai Rasulullah, sungguh engkau lebih aku cintai dari segala sesuatu kecuali diriku sendiri”. Maka Nabi saw bersabda, “Demi Allah yang jiwaku di tangan-Nya, hingga aku lebih engkau cintai daripada dirimu sendiri”. Kemudian Umar berkata kepada beliau, “Sesungguhnya sejak saat ini, engkau lebih aku cintai daripada diriku sendiri”. Maka Nabi saw bersabda, “Sekarang (baru benar) wahai ‘Umar”. (HR. al-Bukhari no. 6632).

Ada tiga hal yang membuat seseorang cinta kepada orang lainnya: (1) Secara fisik orang tersebut menarik, (2) orang tersebut memiliki perangai yang baik. Karena setiap orang akan memuji dan suka dengan sifat-sifat terpuji, dan (3) orang tersebut berjasa terhadap dirinya. Ketika seseorang berjasa, maka ada penghormatan, kecintaan, dan keinginan untuk membahagiakannya pula.

Nabi saw adalah seorang yang menarik secara fisik. Banyak riwayat yang menerangkan tentang ketampanan beliau. Beliau saw seorang yang terbaik akhlaknya. Allah Aja Waja Ala memujinya sebagai pemilik akhlak mulia. Dan beliau saw juga orang yang sangat berjasa terhadap umatnya bahkan kepada seluruh manusia, jin, hewan, dan tumbuh-tumbuhan. Semua itu tidak akan dapat kita ketahui kecuali dengan membaca sirah perjalanan hidup beliau saw.

Dengan mempelajari sirah, seseorang akan semakin mengenal Nabi saw. Semakin mengenal beliau, maka semakin bertambah kecintaan kepadanya.

Hikmah adalah meletakkan sesuatu pada tempatnya. Hikmah tidaklah selalu berada di tengah-tengah. terkadang memihak pun disebut hikmah. Orang sering menyebut sikap hikmah ini dengan bijaksana. Buah dari sikap hikmah dan bijak Rasulullah saw adalah:

Menaklukkan hati seseorang, Nabi saw tidak hanya mampu menaklukkan hati para sahabatnya saja, sehingga para sahabat jatuh hati padanya. Namun beliau juga mampu menaklukkan hati musuh-musuhnya.

Mengambil keputusan sesuai dengan situasi dan kondisi, Ini merupakan salah satu buah terpenting dari mempelajari sirah. Pada saat beliau diutus, setidaknya ada 360 berhala di sekitar Ka’bah. Beliau  tidak langsung bergerak menghancurkan berhala walaupun menentang kesyirikan adalah perintah pertama. Sampai tiba masanya. Beliau memiliki kekuatan. Tidak satu pun berhala tersisa di Jazirah Arab.

Beliau tinggal di Mekah selama 13 tahun pasca menerima wahyu. Kedai-kedai khamr dan kemah-kemah perzinahan menyebar, namun tidak pernah beliau mengadakan penggerebekan sekalipun. Kemudian di masa berikutnya, beliau menegakkan hokum had, walaupun terhadap wanita bangsawan Ghamidiyah.

Suatu waktu beliau mengadakan perjanjian damai dengan orang-orang Yahudi. Di waktu lainnya, beliau memerangi mereka karena berkhianat. Mengapa beliau tidak memerangi Yahudi di waktu damai? Dan mengapa tidak mengadakan perdamaian ketika terjadi sengketa? Semua karena sikap hikmah. Hikmah itu bisa tegas dan bisa lembut. Hikmah itu bisa dalam bentuk perdamaian bisa pula mengadakan peperangan. Tidak seperti yang dipahami orang-orang saat ini. Satu kelompok menginginkan damaiiii… terus, walaupun mengorbankan syariat. Satu pihak lagi menginginkan perangggg… terus, walaupun merugikan dakwah.

Ada masa beliau memerintahkan para sahabatnya bersabar. Ketika keluarga Yasir disiksa oleh Quraisy, beliau perintahkan sabar dan menjanjikan surga atas kesabaran tersebut. Beliau tidak angkat senjata membuat perhitungan kepada Quraisy. Di situasi lain, beliau menyiapkan pasukan untuk menghadapi Yahudi bani Qainuqa’ lantaran membunuh seorang muslim dan melecehkan kehormatan muslimah. Nabi juga memerangi negara adidaya Romawi karena membunuh dua orang muslim. Namun zaman ini dengan zaman Mekah adalah suatu yang berbeda.

Hikmah, tepat dalam menerapkan syariat, berkata dan berbuat seperti ini tidak akan kita pahami kecuali dengan mempelajari sirah.

Bertahap dalam penerapan amar makruf nahi mungkar dan pendidikan. Nabi ﷺ menempuh metode bertahap dalam amar makruf nahi mungkar dan pendidikan. Seperti dalam penerapan hukum khamr, riba, dan jihad.

Di antara nikmat Allah kepada umat ini adalah bahwa Allah menjadikan umat ini umat pilihan. Sebagaimana firman Allah,

وَكَذَلِكَ جَعَلْنَاكُمْ أُمَّةً وَسَطًا

“Dan demikian (pula) Kami telah menjadikan kamu (umat Islam), umat yang adil dan pilihan.” (QS:Al-Baqarah 143)

Kita tidak boleh meremehkan dan juga tidak boleh kaku dan berlebihan. Contohnya dalam permasalahan pernikahan. Nabi saw  memerintahkan umatnya untuk menikah. Namun pernikahan tidak boleh menghalangi seseorang dari dakwah atau berjihad di jalan Allah, atau berinfak.

Sikap pertengahan dan moderat ini tidak akan tepat praktiknya jika kita tidak mengkaji sirah Nabi saw. Dengan meneladani sikap pertengahan ini seseorang tidak akan menyia-nyiakan hak Allah  dan juga hak sesama hamba.

"Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling taqwa di antara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal." al Hujurat 13

Allâh ‘Azza wa Jalla telah menentukan nabi terakhir dan menjatuhkan pilihan-Nya pada diri Muhammad bin `Abdillâh saw. Beliau mendapatkan berbagai keistimewaan dari Allâh ‘Azza wa Jalla yang tidak dimiliki oleh orang lain, sebagaimana umat Islam juga memiliki keistimewaan yang tidak ada pada agama sebelumnya.

Dalam Shahîh Muslim, Rasûlullâh shallâllahu ‘alaihi wasallam bersabda:

إِنَّ اللَّهَ اصْطَفَى كِنَانَةَ مِنْ وَلَدِ إِسْمَعِيلَ وَاصْطَفَى قُرَيْشًا مِنْ كِنَانَةَ وَاصْطَفَى مِنْ قُرَيْشٍ بَنِي هَاشِمٍ وَاصْطَفَانِي مِنْ بَنِي هَاشِمٍ

“Sesungguhnya Allâh memilih Kinânah dari keturunan (Nabi) Ismail. Dan memilih suku Quraisy dari (bangsa) Kinânah. Kemudian memilih Bani Hâsyim dari suku Quraisy dan memilih diriku dari Bani Hâsyim” (HR Muslim no. 4221).

Melalui hadits yang mulia ini, dapat diketahui bahwa Rasûlullâh saw merupakan pokok dari seluruh intisari kebaikan melalui tinjauan kemuliaan nasab, sebagaimana pada beliau shallâllahu ‘alaihi wasallam juga terdapat pokok dari intisari-intisari keutamaan dan ketinggian derajat di sisi Allâh ‘Azza wa Jalla ( Min Akhlâqir Rasûl, Syaikh ‘Abdul Muhsin al-‘Abbad).

Mempelajari Sirah Nabawiyah berguna sebagai penyegar bagi hati dan sumber keceriaan bagi jiwa serta penyejuk bagi mata. Bahkan hal itu merupakan bagian dari agama Allah Ta’ala dan ibadah untuk mendekatkan diri kepada-Nya. Sebab, kehidupan Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam sarat merupakan kehidupan dengan mobilitas tinggi, ketekunan, kesabaran, keuletan, penuh harapan, jauh dari pesimisme dalam mewujudkan ubudiyah (penghambaan diri) kepada Allah Ta’ala dan mendakwahkan ajaran agama-Nya.

Mengenal teladan terbaik bagi seluruh manusia dalam aqidah, ibadah dan akhlak. Allah Ta’ala berfirman:

“Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah“. (QS. Al-Ahzab/33:21).

Dan usaha meneladani Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam tidak bisa lepas dari mengetahui sejarah hidup dan petunjuk-petunjuk beliau. Kisah perjuangan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam menjadi mizan (timbangan) amal perbuatan manusia. Tentang ini, Imam Sufyan Ibnu ‘Uyainah rahimahullah berkata, “Sesungguhnya Rasulullah saw adalah timbangan paling inti. Maka, segala sesuatu ditimbang dengan akhlak, sirah dan petunjuk beliau. Yang sesuai, maka itulah yang benar, dan yang berlawanan dengannya, maka itulah kebatilan”. (Diriwayatkan al-Khathib al-Baghdadi dalam muqaddimah kitab al-Jami li Akhlaqir Rawi wa Adabi as-Sami’).

Mempelajari Sirah Nabi saw membantu kita dalam memahami Kitabullah, karena kehidupan Nabi Muhammad saw merupakan pengamalan nyata terhadap al-Qur`an. Hal ini berdasarkan keterangan Ummul Mukminin ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha ketika ditanya tentang akhlak beliau, “Akhlak beliau adalah al-Qur`an”. Dan yang dimaksud dengan akhlak di sini adalah pengamalan agama beliau, beliau telah mengerjakan petunjuk al-Qur`an dengan sempurna, dalam hal perintah dan larangan serta adab-adab al-Qur`an.

Mempelajari Sirah Nabi saw memperkuat cinta seorang Muslim kepada Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam. Penanaman cinta dan penguatannya pada hati seorang Muslim menuntutnya untuk mempelajari Siroh Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, supaya cintanya kian subur di hatinya terhadap sosok yang mulia ini. Dan selanjutnya, cinta tersebut akan mendorongnya menuju setiap kebaikan dan ittiba’ kepada beliau.

Mempelajari Sirah Nabawiyah merupakan pintu menuju peningkatan keimanan dan  membantu memudahkan memahami Islam dengan baik dalam aspek aqidah, ibadah dan akhlak. Dan sejarah telah mencatat bahwa beliau memulai dakwah dengan tauhid dan perbaikan aqidah dan menekankan pada masalah tersebut.

Sirah Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam menggariskan manhaj (metodologi) dalam berdakwah di atas bashirah (ilmu). Dan seorang dai sejati adalah orang yang menguasai petunjuk, langkah dan sejarah hidup beliau. Allah Ta’ala berfirman: “Katakanlah: “Inilah jalan (agama) ku, aku dan orang-orang yang mengikutiku mengajak (kamu) kepada Allah dengan hujjah yang nyata” (QS. Yusuf/12:108)
Siroh Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam sendiri sudah merupakan bukti kebenaran nubuwwah dan kerasulan beliau.

Mempelajari Sirah Nabawiyah merupakan pintu berkah menuju gerbang kebahagiaan. Bahkan kebahagiaan seseorang tergantung pada sejauh mana ia mengetahui petunjuk-petunjuk Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam. Sebab tidak ada jalan menuju kebahagiaan bagi seorang hamba di dunia dan di akhirat kecuali melalui petunjuk para Rasulullah saw.

Sirah Nabi saw menerangkan bahwa perilaku dan sejarah hidup beliau shallallahu ‘alaihi wasallam merupakan jalan hidup bagi setiap Muslim yang mengharap kebaikan dan kehidupan mulia di dunia dan akhirat. Generasi Islam akan mengalami kemerosotan bila sebagian mereka lebih mengenal sejarah hidup orang-orang yang tidak pantas diteladani.

Ibnul Qayyim rahimahullah mengatakan, “Allah Subhanahu wa Ta’ala menggantungkan kebahagiaan dunia dan akhirat pada ittiba kepada beliau, dan menjadikan celaka di dunia dan akhirat disebabkan menentang beliau”. (Zadul Ma’ad fi Hadyi Khairil ‘Ibad 1/36).

Ibnul Qayyim rahimahullah juga mengklasifikasikan sikap manusia terhadap sejarah hidup Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam menjadi tiga golongan: mustaktsir (banyak tahu), muqill (kurang peduli), mahrum (jauh darinya). Tiga jenis manusia yang disebutkan Ibnul Qayyim ini otomatis menjadi realita yang ada di tengah umat.

اللَّهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ إِيْمَانًا لَا يَرْتَدُّ وَنَعِيْمًا لَا يَنْفَدُ وَمُرَافَقَةَ مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِيْ أَعْلَى جَنَّةِ الْخُلْدِ.

“Ya Allah, sesungguhnya aku memohon kepada-Mu keimanan yang tidak akan lepas, nikmat yang tidak pernah habis dan menyertai Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam di Surga Khuld yang paling tinggi”. (HR. Ahmad dan lainnya. Al-Albani menilai hadits ini berderajat hasan. Ash-Shahihah no.2301).

Rasulullah saw bersabda, “Sampaikanlah dariku, meskipun satu ayat.” (HR. Bukhari no. 3461)